7 Tips Menjaga Kesehatan Mental Di Tengah Pandemic Corona

Sudah sekitar satu bulanan Indonesia dinyatakan positif kasus infeksi Covid-19. Awalnya wabah Corona ini dimulai di Kota Wuhan, China. Namun dalam hitungan beberapa bulan saja sudah berhasil menginfeksi banyak negara di seluruh dunia. Semua orang dihebohkan dengan pandemic ini karena penyebarannya yang sedemikian cepat. Arus informasi berita yang ditawarkan media banyak yang membuat orang cemas. Hal ini berimbas kepada kesehatan mental banyak orang. Berita-berita dibuat seolah-olah situasi sudah sangat parah, seperti film zombie apocalypse. Bahkan ada berita yang reporternya memakai masker yang super lebay. Masker respirator, masker yang biasa dipakai melindungi diri dari gas beracun

Baca juga : Pengalaman ke Psikiater

Belum lagi ada acara tv yang mengundang dokter yang gencar menyuruh lockdown. Memojokkan pemerintah, nyinyir mulu. Pokoknya hawa negatif. Media menurut saya membuat framing bahwa ini keadaan sudah genting. Tidak hanya media tv, namun media online juga kurang lebih sama. Judul dibuat clickbait, biar orang ngeklik. Kadang judul sama isi nggak sesuai. Belum lagi banyak orang yang berubah menjadi ahli kesehatan dan ahli politik dalam jangka waktu singkat. Banyak yang share berita hoax di grup sosial media dan statusnya. Baik status whatsapp, instagram, facebook, semua penuh dengan cerita tentang Corona.

Dampak pada kesehatan mental dari berita yang terus-terusan ini cukup mengganggu. Saya mengalami mimpi buruk setelah menerima terlalu banyak informasi seputar Corona. Saya mimpi dikejar-kejar oleh mahluk menyerupai Gozila yang memporak-porandakan Jakarta. Saya ingat, malam sebelumnya saya banyak membaca berita seputar Corona. Ketakutan yang ada di dunia nyata terbawa hingga ke alam mimpi. Gozila di dalam mimpi adalah bentuk representasi sebagai Corona di alam bawah sadar.

Baca juga : Pengalaman Gangguan Bipolar

Tidak hanya saya saja yang mengalami,banyak orang yang terganggu kesehatan mentalnya sejak merebaknya pandemi Corona ini. Saya memiliki teman yang mengalami kecemasan berlebih. Hal itu sangat berpengaruh bagi dirinya. Dia menjadi gelisah dan khawatir akan kesehatannya.

Ada lagi yang bercerita anaknya yang berteriak-teriak takut mati ketika sakit sedikit. Bagaimana tidak teriris hati seorang ibu melihat anaknya bertingkah seperti itu. Butuh kedewasaan dan ilmu yang baik untuk mengkomunikasikan kepada anak mengenai konsep kematian, dan itu tidak mudah. Oleh sebab itu, orang tua harus mendampingi anaknya saat mereka menonton, sehingga informasi yang masuk bisa difilter. Tidak hanya mendampingi saat menonton TV namun saat menggunakan sosial media.

Baca juga : Pengalaman konsultasi psikolog halodoc

Ketika masa pandemic ini, saya juga mengalami batuk pilek. Jujur terlintas di pikiran saya apakah saya terinfeksi Covid 19? Apalagi saya habis pergi ke luar kota dan sempat naik pesawat. Ketakutan-ketakutan ini muncul karena hampir tiap hari saya dicekokin berita mengenai Corona. Pilek dikit takut. Batuk dikit takut. Jadi mendiagnosa diri sendiri. Untungnya saya punya ayah yang sangat concern dengan kesehatan saya. Jadi dia tiap hari ingatkan saya minum obat batuk pilek. Saya disuruh minum vitamin dan obat yang meningkatkan imunitas. Tidur yang cukup dan banyak makan buah. Sekitar satu minggu saya sembuh dari batuk pilek 🙂

Masa-masa social distancing pun membuat saya sempat tertekan. Saking ketakutannya kedua orang tua saya bahwa saya bisa tertular, maka saya tidak diijinkan sedikitpun keluar rumah. Paling boleh beli makanan dari gofood. Dampaknya? Kesehatan mental saya terganggu. Saya kembali bermimpi bahwa saya pergi keluar rumah. Jalan-jalan liburan! Hahaha.

Baca juga : Review Alodokter Chat Bersama Dokter Spesialis Kejiwaan

Setelah negosiasi sekitar 2 mingguan akhirnya saya diijinkan beli makanan sendiri di warteg, atau warung dekat rumah. Saya juga bisa pergi ke minimarket. Rasanya pertama kali keluar rumah itu senang sekali. Bisa menghirup udara segar.

Setelah beberapa minggu pandemic Corona ini, saya mulai bisa menemukan pola bagaimana menjaga kesehatan mental.

Kurangi Menonton Berita

Menonton berita sebaiknya dibatasi, hanya melihat berita yang penting saja. Jangan terus memantau jumlah orang yang meninggal dan terinfeksi secara terus-menerus. Pilih situs berita yang terpercaya dari pemerintah.

Sembunyikan Status Teman Yang Rajin Share Berita Corona

Kita tidak bisa mengatur apa yang akan dibagikan di status teman, tapi kita bisa mengontrol apa yang mau kita lihat. Jadi sebaiknya sembunyikan status yang sekiranya sering share berita mengenai Corona. Supaya kita tidak terpapar berita-berita Corona secara terus menerus.

Kurangi Aktivitas di Sosial Media

Ketika berita di tv dan sosial media mengenai Corona diberitakan secara terus menerus, sebaiknya kita mengurangi waktu kita untuk aktif di sosial media. Hal ini kita lakukan demi kesehatan mental kita.

Tekuni Hobi

Menekuni hobi bisa membantu kita untuk lebih rileks dan melepas stress. Gali hobi lebih dalam di situasi seperti ini, daripada sibuk memantau sosial media

Kerjakan Hal-hal Yang Tidak Sempat Dikerjakan Saat Kondisi Normal

Banyak hal-hal yang saya kerjakan saat terjadi Pandemic Corona. Saya jadi bisa memanfaatkan waktu untuk membaca lebih banyak buku, menulis blog.

Belajar Hal Baru

Saya belajar desain untuk blog dan mengikuti kursus online di tengah Pandemic Corona. Upgrade otak sangat baik sehingga menambah wawasan saya.

Nonton

Nah ini, lumaya bisa killing time. Hiburan ini membuat saya lupa kalau lagi ada pandemic Corona. Usahakan untuk menonton film yang komedi supaya bisa lebih rileks.

Demikianlah 7 Tips menjaga kesehatan mental menurut saya. Sudah terbukti mengurangi tingkat kecemasan bagi saya sendiri. Selamat mencoba!

One comment

  1. Yess banget kak inez. Banyak hal positif yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita, utamanya di saat pandemic ini. Thanks kak inez

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.