Pengalaman Gangguan Bipolar

Tidak pernah terlintas di benak saya bila di usia 20 an saya didiagnosis memiliki gangguan bipolar tipe 2. Saya sudah share tentang pengalaman ke psikiater bagaimana akhirnya saya bisa didiagnosa bipolar tipe 2. Antara lega akhirnya tahu bahwa apa yang saya alami ini ada namanya, dan sedikit penolakan dalam diri, kenapa harus saya? Namun semua itu sudah mulai dapat saya kendalikan. Saya dapat menerima diri dan ikhlas. Inilah kisah hidup saya. Semoga bisa menjadi referensi bagi teman-teman yang ingin mengetahui bagaimana rasanya hidup dengan gangguan bipolar

Kisah Saya Saat Fase Hipomanik

Dari kecil, saya ini anaknya emang ceriwis. Nggak bisa diam. Kalau di kelas, pasti selalu ditegur. Ngomong saya cepat. Kadang kalau ada orang ngomong saya suka motong dan nyeletuk hal lain. Itu bukan karena saya ingin motong, tapi lebih nyeletuk aja tanpa bisa dikontrol. Tiba-tiba ada sekelebat pemikiran apa, ya udah saya ngomong. Alhasil saya sering kena teguran dan diomelin sama lawan bicara. “Kamu kalau orang lagi ngomong jangan alihin ke topik lain,” begitulah komplainan orang-orang kepada saya. Ya gimana, saya ini kalau ngomong suka lompat-lompat.

Imajinasi saya liar. Dari kecil saya suka ngayal. Otak ini sepertinya hiperaktif sekali. Terlalu bising. Saya ingin ini dan itu. Misalnya saja, tiba-tiba saya bisa aja menciptakan lagu untuk saya nyanyikan sendiri dan ngayal kalau saya lagi jadi komposer lagu. Atau misalnya saya berkhayal jadi director dan membuat film sendiri. Semua seperti nyata ada di dalam pikiran saya. Saya sangat suka melakukannya. Sangat berenergi sekali.

Baca juga : Pengalaman Konsultasi Psikolog Halodoc

Ketika masa kreatifnya muncul, saya bisa nyanyi seharian, atau melukis seharian. Saya sangat menyukai dunia seni. Saya dulu suka sekali melukis pakai pensil. Kadang dalam waktu beberapa jam saja saya bisa melukis foto saya sendiri.

Lalu rasa over confidence sering banget muncul. Banyak sekali momen-momen dimana saya merasa bahwa saya adalah anak yang pintar, berbakat, bisa ini itu. Tentunya dengan didukung fakta ya. Kadang kalau melihat orang yang lelet, lemot, saya tuh suka kesal sendiri. Malah jadi ngedumel dan ngerjain semuanya sendiri. Nah kalau kaya gini saya tuh suka goblok-goblokin orang lain dalam hati. Begini aja ga becus kerjanya, goblok. Jengkel sendiri. Begitulah ngedumel sendirian.

Pernah juga saat lagi interview kerja, saat calon bos saya ngobrol, saya lancar banget ngomongnya dan kasih tau prestasi-prestasi saya. Ucapan saya cepat dan berapi-api. Saya sadar, wah saya lagi fase hipomanik nih. Dari antara kandidat yang diinterview saat itu hanya saya saja yang diterima.

Baca juga : Review Alodokter Chat Bersama Dokter Spesialis Kejiwaan

Fase ini jujur membuat saya kadang kewalahan. Menjelang tidur, kadang mata sudah mengantuk. Namun pikiran sepertinya terus-menerus berlarian. Tiba-tiba ingin ini, ingin itu. Dapat ide ini, ide itu. Hingga akhirnya saya tidak tidur! Saya bisa tidak tidur 1-2 hari. Energi rasanya selalu ada. Jam tidur berantakan.

Saat fase hipomanik saya bisa menulis artikel bisa 4-5 artikel dalam sehari. Otak rasanya tokcer banget lancar jaya menulis. Kalau nulis puisi bisa menelurkan beberapa karya dalam beberapa jam. Inilah yang saya rasakan. Kadang seperti liar banget pikirannya ga bisa dikendalikan.

Orang terdekat saya pasti bisa melihat perbedaannya. Kalau saya lagi ngomong cepat, ngomongnya udah lompat sana-sini, terus suka ngegas kalo ngomong, kelihatan sombong. Biasanya nyeletuk, “Lu lagi kenapa sih? lagi episode hipomanik ya?” Kalau temen udah ngomong gitu, biasanya saya ngerem dan introspeksi diri. Lalu mencoba menurunkan tingkat ngegas nya.

Fase ini tidak menentu berapa lama bertahannya. Bisa beberapa hari, bisa beberapa minggu. Yang saya rasakan adalah mood swing. Kadang perpindahannya cukup cepat juga. Menulis artikel ini adalah salah satu transfer energi saya untuk menyalurkan ide-ide yang ada di kepala.

Baca juga : Gangguan Mental Bukan Masalah Yang Sepele

Kisah Saat Fase Depresi

Fase ini sangat menyebalkan. Biasanya ada trigger tertentu yang membuat saya bisa ke fase ini. Misalnya tekanan yang kuat, konflik, atau emang lagi melow aja. Tiba-tiba jadi sensitif. Yang tadinya masa bodoh, tiba-tiba kepikiran setiap kata yang diucapkan oleh orang lain.

Hal ini ngga berakhir sampai situ saja. Kadang bila berlarut-larut, bisa sampai menimbulkan psikosomatis. Saya dulu sering kena sakit maag adalah bentuk psikosomatis yang ditunjukkan oleh tubuh saya atas respon menghadapi stress.

Selain sakit maag saya juga pernah mengalami psikosomatis seperti diare, dan gatal-gatal. Pernah juga psikosomatis kesemutan di daerah ketiak. Kata dokter itu karena anxiety jadinya begitu. Dikasi resep obat dan sembuh tuh. Gara-garanya ada bisul di dada. Kepikiran terus, takut kanker. Termanifestasi jadi kesemutan di ketiak itu.

Kalau dihitung fase paling parah depresi yang pernah terjadi di dalam hidup saya itu ada sekitar 3 kali. Hal ini yang menyebabkan saya berpikiran untuk bunuh diri. Semuanya terjadi saat saya belum minum obat dari psikiater.

Efek Obat Bipolar

Setelah 3 tahun lebih berobat di psikiater, saya merasakan dampak yang cukup signifikan. Setidaknya saya lebih bisa terkontrol moodnya untuk saat ini. Untuk sampai pada titik ini membutuhkan observasi yang cukup lama. Saya bisa lima kali ganti obat. Walaupun kadang ada sesekali perasaan down, pasti diakibatkan karena tekanan dari luar. Namun emosinya drop tidak sampai parah, karena sudah terbantu dengan obat.

Ada beberapa obat yang saya konsumsi saat ini. Obat anti depresan, anti psikotik, mood stabilizer dan penenang. Semua diracik dan dikonsumsi setiap hari. Pernah saya ganti dokter karena dokter langganan sedang traveling namun obat saya habis. Eh pas ganti obat nggak cocok. Reaksi tubuh saya jadi lebih agresif, gampang marah. Akhirnya saya dibalikin lagi ke obat awal yang biasa dikonsumsi dan normal lagi.

Efek obat bipolar yang saya rasakan adalah saya menjadi lebih santuy. Kadang nggak bisa sedih, atau nggak bisa senang. Kalau dulu saya sedih bisa sedih banget, kalau senang bisa joget-joget jingkrak-jingkrak. Sejak minum obat jadi flat aja emosinya.

Penyebab Bipolar

Dokter saya sendiri tidak bisa memastikan apa yang menjadi penyebab bipolar, namun faktor dari genetika dan lingkungan. Untuk lingkungan di sini adalah lingkungan keluarga, teman-teman, pekerjaan. Apakah di lingkungan saya memiliki stressor yang membuat saya tertekan.

Tiap orang memiliki pemicu yang berbeda-beda hingga bisa masuk ke fase depresi. Namun orang yang di keluarganya ada yang memiliki riwayat gangguan kejiwaan misalnya seperti depresi,anxiety, gangguan bipolar, dsbg memiliki peluang lebih besar memiliki gangguan bipolar. Di keluarga saya, ibu dan kakak saya pernah didiagnosis oleh psikiater depresi dan anxiety.

Bahaya Bipolar

Bipolar sangat berbahaya bila ada di fase depresi. Ketika orang depresi, maka keinginan bunuh dirinya sangat kuat. Selain itu depresi juga merusak otak secara perlahan. Saya menyadarinya ketika menjadi mudah lupa dan kesulitan untuk fokus. Untuk mengurangi dampak tersebut dokter memberikan obat anti depresan agar pasien tidak terus menerus di dalam fase depresi.

Karena cukup lama ada di fase depresi membuat saya mengalami obesitas. Saya sudah konsultasikan ini dengan dokter gizi. Penyebab obesitas saya selama ini adalah bipolar. Memang seperti lingkaran setan.

Apakah Bipolar Bisa Sembuh?

Ini adalah pertanyaan yang sering saya ajukan kepada psikiater saya. Jawabannya selalu sama. Bipolar bisa dikendalikan. Dengan rutin minum obat, dan mengurangi tingkat stress, menjauhi pemicu stress. Sama seperti penyakit darah tinggi. Penyakit tidak menular ini tidak bisa disembuhkan, namun bisa dikendalikan dengan rutin meminum obat.

Dokter saya hanya bilang, kalau bisa nanti diberikan hingga dosis paling minimal. Namun harus selalu observasi. Beliau berkata, melihat dan menimbang lingkungan saya belum bisa lepas obat karena sumber stressor adalah lingkungan.

Apakah Obat Bipolar Menyebabkan Ketergantungan?

Dokter pastinya tahu obat terbaik apa untuk pasiennya. Ada satu sesi dimana ayah saya dan dokter berdiskusi membahas masalah ketergantungan ini. Intinya semua obat yang saya konsumsi di bawah pengawasan dokter. Baik dari dosis dan jenis obatnya. Saya harus meminum obat sesuai dengan anjuran dokter, tidak boleh ditambah atau dikurangi tanpa konsultasi dokter.

Dokter itu kuliah bertahun-tahun untuk belajar ilmu psikiatri, jadi dia tahu kapan harus menaikan dosis, menurunkan dosis, mengganti obat, atau menghentikan pemakaian obat. Yang menyebabkan ketergantungan adalah orang-orang yang minum obat tidur atau penenang yang membeli secara bebas dan minumnya dosisnya dilebihkan sendiri tanpa pengawasan.

Cara Menghadapi Orang Bipolar

Sebagai pasien yang memiliki gangguan bipolar saya akan memberikan beberapa tips untuk caregiver menghadapi orang bipolar.

1. Empati

Coba untuk berempati kepada orang dengan gangguan bipolar. Kalau lagi sedih ya dengerin aja curhatnya. Nggak perlu kasih solusi atau menghakimi. Jadilah pendengar yang baik.

2. Beri dukungan

Dukungan di sini misalnya bila memiliki teman atau saudara, dukung mereka untuk melakukan pengobatan. Bipolar ini butuh banget bantuan medis biar hidup jadi lebih berkualitas. Kalau perlu temani saat berobat.

3. Berikan ruang

Ketika orang dengan gangguan bipolar sedang marah-marah, berikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan emosinya. Tidak perlu terpicu oleh kemarahannya. Jika sudah reda, boleh deh diajak bicara baik-baik.

4. Jangan menghakimi

Ketika bertemu dengan orang bipolar, jangan langsung menghakiminya, misalnya pasti kurang ibadah. Pasti banyak berbuat maksiat. Pasti kesurupan setan. Pasti ga percaya Tuhan dll.

Kadang ucapan-ucapan seperti ini membuat orang dengan gangguan bipolar jadi down dan bisa berpotensi membawa mereka ke fase depresi.

5. Sabar

Kuncinya sabar. Kadang untuk orang dengan gangguan bipolar tipe 1 bisa agresif banget. Saya cuma bisa kasi pesan sabar ya. Jangan emosi. Jadi care giver itu nggak mudah. Jalani dengan ikhlas aja.

6. Jangan Membandingkan

Batas ketahanan mental seseorang juga berbeda-beda. Jadi jangan menyamaratakan. Kadang ada aja orang nyeletuk, “Ah gitu doang jadi depresi. Ah gitu doang down. Aku tuh dulu lebih parah daripada kamu.” Kalau udah dengerin orang yang kaya gini itu malah bikin orang dengan gangguan bipolar jadi lebih terpuruk. Jadi ya sebaiknya ga usah membandingkan situasi kalian dengan orang bipolar. Responnya pasti berbeda saat menghadapi tekanan.

Buat teman-teman yang mungkin merasa ada kemiripan gejalanya bisa segera konsultasi ke psikiater atau psikolog. Jangan mendiagnosis diri sendiri kalau bukan profesional di bidangnya. Untuk menegakkan diagnosa bipolar membutuhkan observasi psikiater atau psikolog. Kalau terkendala dengan biaya bisa pakai BPJS karena gratis.

Demikianlah sharing saya mengenai pengalaman gangguan bipolar yang saya alami. Semoga teman-teman yang membaca artikel ini mendapatkan perspektif baru mengenai gangguan bipolar. Setiap orang yang memiliki gangguan bipolar atau caregiver yang menangani orang dengan gangguan bipolar MEMILIKI PENGALAMAN YANG BERBEDA. Mungkin pengalaman saya tidak sama dengan Anda, tidak perlu diperdebatkan. Jadi jangan disamakan antara satu dengan yang lainnya. Thanks sudah membacanya.

One comment

  1. Dulu aku kira bipolar itu cuma gangguan mood aja, semacam mood swing. Ga nyangka saat ke psikiater ternyata aku jg kena bipolar, banyak nggak enaknya. Obat sekali belum tentu cocok, banyak penyesuaiannya, kontrol diri, ubah pola pikir, dll. Tetep semangat dan bertahan ya kak, thanks for sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.