Pengalaman Ke Psikiater

Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman ke psikiater. Cerita ini saya bagikan karena saya yakin banyak orang-orang di luar sana butuh informasi ini.

Waktu SMA saya menderita sakit maag. Lambung saya begitu sakit saat itu. Rasanya sangat mual, ingin muntah. Berat badan saya turun banyak. Mungkin ada 5-10 kilogram. Yang jelas rok saya saat SMA lumayan kendor karena sakit itu. Mungkin itu adalah sakit lambung terparah yang pernah saya alami seumur hidup saya. Ketika saya di gereja, saya tidak ingin ke ruang ibadah. Badan saya dingin dan pucat. Saya hanya tiduran di depan konsistori karena sakit sekali perutnya.

Baca juga : Pengalaman Gangguan Bipolar

Beberapa kali saya ke dokter internist. Saya diberikan obat untuk mengobati asam lambung yang naik. Dokter sempat penasaran juga kenapa lambung saya sakit. Akhirnya saya diberikan rujukan untuk melakukan tes endoskopi. Tes nya lumayan mahal. Saya dibius untuk mengambil sample jaringan dari dalam lambung saya. Hasilnya baik. Dokter menyimpulkan lambung saya tidak bermasalah. Saya dikirimkan ke psikiater anak.

Pengalaman Pertama Ke Psikiater

Saya duduk beserta ayah saya di depan psikiater. Seingat saya, ayah saya disuruh menunggu di luar. Kami mengobrol seputar apa yang menjadi masalah saya. Apa yang membebani pikiran saya. Semua saya utarakan. Beliau menyimpulkan saya mengalami depresi dan saya harus minum obat penenang. Saat itu ayah saya seperti tidak menerima kalau memang saya membutuhkan pertolongan medis seputar kejiwaan saya. Ayah saya tidak mengijinkan saya untuk meminum obat tersebut. Di sinilah masalah itu semakin besar, seperti bola salju yang menggulung.

Pengalaman Kedua Ke Psikiater

Tahun 2017 saya memutuskan ke psikiater. Seperti ada yang aneh di dalam diri saya. Saat itu saya jadi mudah lupa, mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Perasaan cemas berlebih. Mood swing yang semakin cepat waktunya. Ketakutan-ketakutan yang tidak berdasar. Saya butuh pertolongan medis sebelum situasinya menjadi lebih buruk.

Saya meminta ayah saya untuk membawa saya ke psikiater. Beliau mengantarkan saya ke salah satu RS langganan kami di Jakarta Pusat. Saya memilih psikiater wanita. Entahlah, saya inginnya demikian.

Saya menunggu di ruang tunggu. Begitu nama saya dipanggil, saya langsung masuk ke ruangan. Dokternya sekitar umur 30-40 an. Masih muda. Mukanya bersimpati melihat saya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya dokter itu kepada saya.

Saya menjelaskan situasi saya dari masa SMA hingga hari itu. Saya menjelaskan sedetail mungkin mengenai perasaan-perasaan saya. Kekecewaan saya. Perlakuan orang tua, teman, orang lain kepada saya. Apa yang saya alami. Apa yang memicu sakit lambung saya. Mood swing saya. Semua saya jelaskan secara rinci selama 1 jam.

Sebaiknya jika kalian ingin bercerita ke psikiater, jelaskan secara rinci. Kalau perlu catat di kertas. Jika tidak berani bercerita, sebaiknya menulis di kertas dan diberikan kepada psikiaternya.

Setelah saya bercerita, saya mengalami sakit kepala hebat selama 2 hari. Seumur hidup saya tidak pernah mengeluarkan unek-unek ke siapapun. Makanya pelepasan emosi negatif itu seperti stress relieve buat saya. Dokter meresepkan obat anti depresan untuk saya selama 2 minggu. Diagnosa awal depresi mayor.

Setelah saya bercerita, ayah saya masuk dan dijelaskan oleh psikiater kondisi kejiwaan saya. Dokternya menjelaskan bahwa pengobatan ini akan berlangsung cukup lama melihat kondisi saya sudah di tahap yang cukup parah. Pengobatan membutuhkan konsistensi dan disiplin serta dukungan dari keluarga.

Setelah itu saya rutin pergi ke psikiater. Setelah saya minum obat anti depresan saya merasa saya sangat berenergi. Bicara saya cepat. Saya serba bisa ini itu. Saya sangat gembira dan merasa sudah normal. Namun di sini ternyata dokter sambil mengobservasi. Ternyata apa yang saya alami adalah Bipolar tipe 2. Obat saya pun berubah. Saya harus rutin ke psikiater dan memantau perkembangan kejiwaan saya.

Dukungan Keluarga Sangat Dibutuhkan

Awal saya memutuskan ke psikiater merupakan dukungan dari ayah saya. Tanpa dukungan beliau saya tidak tahu apa jadinya saya saat ini. Walaupun pada awalnya beliau menolak pengobatan psikiater, namun setelah dijelaskan oleh dokter yang menangani saya akhirnya beliau menyetujui.

Pengobatan gangguan kejiwaan bukanlah pengobatan yang dilakukan seperti untuk sakit flu yang hanya butuh 1-2 minggu saja. Pengobatan gangguan kejiwaan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan untuk beberapa kasus tertentu membutuhkan pengobatan seumur hidup.

Jadi peran keluarga di sini ya support pengobatan selama memang masih membutuhkan berobat. Sebaiknya tidak menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter. Bila memang terkendala masalah biaya bisa menggunakan BPJS kesehatan karena biaya konsultasi ke psikiater dan obat ditanggung BPJS.

Apakah Obat Dari Psikiater Menyebabkan Ketergantungan?

Pada dasarnya obat yang digunakan untuk gangguan kejiwaan ada banyak. Dokter pastinya sudah memberikan resep sesuai dengan keluhan penyakit yang kita miliki. Tidak semua obat yang diresepkan dokter adalah obat golongan benzodiazepine. Penggunaan obat benzodiazepine ini sangat ketat dan dalam pengawasan dokter.

Nah, yang bikin jadi ngaco kadang pasien itu sendiri. Main makan obat seenaknya sendiri, misalnya naikin dosisnya, nurunin dosisnya tanpa sepengetahuan dokter. Bahkan ada aja yang beli di toko online tanpa pengawasan dokter. Jadi kalau kata dokter saya nih, obat ini mah nggak bahaya dan nggak ketergantungan asal dosisnya tepat. Jadi dokter tahu kapan waktunya ngurangin dosis, naikin dosis atau menghentikan pengobatan.

Kebetulan kalau saya pas di awal-awal ngga ada golongan obat benzodiazepine. Tapi itu bukan berarti saya berantakan minum obatnya. Saya nggak boleh lepas obat tanpa pengawasan dokter karena ini menyebabkan obatnya tidak berfungsi dengan maksimal.

Cara kerja suatu obat utk gangguan kejiwaan seperti saya ini minimal 2 minggu baru kerasa efeknya. Lalu obat ini dipantau selama beberapa bulan. Bila efeknya sudah cukup maka obat akan diberikan terus, lalu dosis bisa dikurangi sedikit-sedikit. Kalau efeknya masi kurang, dosisnya dinaikan bertahap. Saya sendiri pun sudah mengalami 4-5 kali ganti obat selama 3 tahun terakhir.

Kapan Sebaiknya Kita Ke Psikiater?

Hal ini yang sering menjadi pertanyaan orang-orang. Kadang mereka takut ke psikiater karena takut mendapatkan stigma “orang gila” padahal mah berobat ke psikiater sama seperti kamu sakit yang lainnya.

Jika kamu merasa ingin mengakhiri hidup dan perasaanmu tidak membaik selama lebih dari satu bulan sebaiknya saran saya segera hubungi psikiater. Karena ketika terjadi pikiran negatif di otak ingin bunuh diri kamu sudah masuk ke fase depresi, bukan stress lagi.

Mungkin tahap awal kalau kamu stress kamu bisa konseling dengan psikolog. Atau kamu merasa ada yang salah dengan dirimu, ngobrol-ngobrol dulu aja sama psikolog. Jika memang membutuhkan terapi yang menggunakan obat untuk membantu proses penyembuhan biasanya psikolog akan menyarankan kamu ke psikiater.

Psikiater dan psikolog itu berbeda. Kalau psikiater bisa kasih resep. Pendekatannya selain dari konseling, juga dari obat. Seperti misalnya kasus saya, saya memiliki gangguan bipolar. Obat yang diresepkan untuk saya adalah anti depresan, anti psikotik, obat penenang. Tiap obat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda. Kalau cuma konseling dengan psikolog saja tidak membantu bagi saya, namun saya butuh obat untuk membantu menyeimbangkan zat kimia yang ada di otak.

Memilih psikiater juga cocok-cocokan. Kadang ada aja psikiater yang kurang empati dengan permasalahan kita sehingga kita merasakan kurang nyaman untuk berbicara lebih terbuka mengenai masalah kita. Kalau saran saya sih, kalau emang kamu kurang sreg ganti dokter aja. Yang emang kamu rasa nyaman dan enak buat bercerita. Saya aja kalau konsultasi kadang bisa sampai nangis. Nggak tahu kenapa padahal saya mah nggak pernah nangis depan orang. Mungkin karena sudah nyaman saja.

Update Kondisi Saya

Sudah 3,5 tahun saya rutin berkunjung ke psikiater. Awalnya yang konsultasi 1 jam, lalu menurun jadi 45 menit, sekarang jadi sekitar 15-30 menit. Memang untuk kondisi bipolar seperti saya ini harus selalu dipantau. Namun saya merasa sudah sangat jauh lebih baik jika dibandingkan saya pertama kali berkunjung ke psikiater dulu.

Kondisi depresi berat membuat otak mengalami kerusakan. Saya pun merasakannya. Saya jadi mudah lupa sebelum diterapi obat. Namun setelah diterapi obat, saya menjadi lebih baik. Memang ada ketidakseimbangan zat kimia di otak dan intervensi obat membantu meningkatkan kualitas hidup saya. Kondisi saya pun terbilang stabil saat ini. Setidaknya saat saya down, nggak parah-parah amat.

Terapi Yang Membantu Masa Pemulihan

Banyak sekali terapi yang saya lakukan sendiri untuk memulihkan kejiwaan saya. Misalnya saja dengan berkomunitas. Terlibat dalam kepanitiaan, berinteraksi dengan teman-teman baru membuat saya merasa lebih baik. Mengikuti kegiatan sosial juga bisa memberikan dampak positif bagi diri sendiri. Dengan adanya rasa berbagi, memberi, kaya ada kesenangannya masing-masing. Saya pun juga aktif memberikan support untuk teman-teman di grup whatsapp yang mengalami gangguan kejiwaan namun belum mendapatkan treatment dari profesional.

Baca juga : Biaya ke Psikiater

Demikianlah sharing pengalaman ke psikiater dari saya. Buat teman-teman yang saat ini sedang bergumul dengan kejiwaannya dan sudah memiliki banyak perasaan negatif ingin bunuh diri, sebaiknya segera berobat ya. Saya berdoa untuk kesembuhan kalian. Kalian pasti kuat, kalian pasti bisa melewati ini semua. Jangan pernah menyerah. Kalian luar biasa masih berjuang untuk hidup hingga hari ini. Peluk hangat untuk kalian semua!

6 comments

  1. Hi Inez, thank you ya udah menyempatkan untuk menulis artikel ini. Sangat membantu buat aku yang ingin ke psikiater. Barusan coba konsultasi dengan psikiater online di aplikasi Halodoc, dan didiagnosa sebagai borderline. Sebenernya kalo untuk borderline ini aku udah tau dari beberapa tahun lalu sih, pas teman deket aku bilang kalau aku mirip banget sama pacarnya dia yang borderline juga. Tapi kalau self-diagnose kan bisa aja salah atau gak akurat. Btw memang kalau lewat aplikasi dokternya gak bisa meresepkan obat, ya? Karena tadi kata dokternya aku harus minum antidepressant, tapi gak diresepin sama dia. Kayaknya memang harus ke psikiater di RS langsung. Oh ya, mau tanya, untuk obatnya sendiri itu harganya mahal gak ya? Karena jujur gak pernah tau kisaran harga antidepressant. Thank you once again!

    1. halo angel,utk harga di kisaran berapa beda-beda ya. kalo obat saya sekitar 100 ribuan per box.
      Sebaiknya minta yg versi generik kalau ada ke dokternya, soalnya dokter suka main kasih obat paten hehehe. Apalagi kalau terkendala masalah biaya utk menebus obat.
      Sebaiknya kalau minta diresepkan obat langsung ke RS saja. Aplikasi konsul psikiater online hanya utk konsul aja.

  2. Halo kak terima kasih sudah mau sharing…
    Aku udah dari setahun lalu merasa gak nyaman sama pikiran2 aku, udah coba konsultasi ke psikolog tapi gak begitu berefek sekarang mulai berpikiran untuk ke psikiater.
    Kalau boleh tau di RS Carolus kakak di tangani dr siapa ya? Saya takut ketemu dokter yang kurang empati…
    Terima kasih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.