Sharing Exit Strategy Tiket.com

Sharing Exit Strategy Loket.com

Sharing exit strategy tiket.com

Dulu saat kuliah di Binus, ada salah satu strategi yang diajarkan di materi enterpreneurship, yaitu exit strategy di dalam bisnis. Jujur waktu dulu belum ada gambaran seperti apa kenyataannya dalam bisnis. Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri sebuah sesi sharing yang dibawakan oleh salah seorang co-founder tiket.com di block71 Jakarta. Di sesi sharing ini saya akhirnya mengerti apa sih yang dulu saya pelajari saat kuliah mengenai exit strategy. Natali Adrianto, ex CTO tiket.com berbagi di acara kopi chat mengenai bagaimana exit strategy tiket.com yang berjalan mulus selama 3 bulan.

Awal Mula Tiket.com

Sebelum memulai startup tiket.com, beliau memulai startup urbanesia.com dan golfnesia.com. Jadi kalau jaman dulu, website yang pertama kali mempopulerkan istilah “nesia” ya beliau ini. Sayangnya kedua startup ini tidak berlanjut hingga sekarang, karena tidak prospek ke depannya. Akhirnya di tahun 2011, Natali Ardianto memulai bisnis bersama partnernya untuk menggarap tiket.com, sebuah portal untuk menjual tiket. Saat ini beliau mengundurkan diri dari tiket.com. Per Desember 2017 beliau resmi mengundurkan diri dari posisi CTO tiket.com.

Saya sangat tertarik dengan dunia startup. Selain karena dulu saya kuliah di jurusan komputer, saya juga pernah bekerja di perusahaan startup Singapura. Mimpi saya pun juga ingin memiliki perusahaan startup. Ternyata, tiket.com ini tidak pernah mendapatkan pendanaan dari venture capital/institusi. Kaget juga karena menurut saya tiket.com ini cukup besar. Selama ini hanya pernah satu kali mendapatkan suntikan dana dari angel investor. FYI investornya ini adalah traditional company yang punya free cash flow 3 trilyun. Natali menekankan denganΒ memiliki exit strategy saat memulai perusahaan memudahkan perusahaan untuk membuat visi dan misi perusahaan.Β 

Menentukan Exit Strategy

Exit strategy dari tiket.com adalah IPO. IPO( Initial Public Offering ) adalah penawaran saham perdana, artinya saham perusahaan dijual ke publik. Untuk tahu apa saja syaratnya bisa dibaca di syarat IPO. Jadi sudah jelas, tiket.com membuat visi dan misi perusahaannya harus selaras dengan exit strategy yang ditentukan di awal.

Finance Sangat Penting

Menurut Natali, ada 2 penyebab startup itu gagal. Yang pertama, founder dan co-foundernya nyerah. Yang kedua, kehabisan uang. Masalah apapun masih bisa dicari jalan keluarnya, tapi kalau sudah nyerah ya selesai. Kalau uang habis, ya itu udah gak ada obatnya, karena uang perlu untuk operasional, marketing dan lain-lain. Jadi ada 3 hal penting yang menjadi fokus di tiket.com, technology, finance dan marketing. Margin penjualan tiket sangat kecil, untuk tiket kereta saja bisa di bawah 1 %, tiket event 1-3 %, tiket pesawat 3-4%, jadi margin yang didapat harus dihitung sangat cermat dan tidak boleh ada yang hilang. Jadi finance sangat critical. Bisa dibayangkan di tahun kedua berdirinya tiket.com untuk divisi IT ada 30 orang, divisi finance ada 35 orang.

Pekerjakan Profesional

Di awal berdirinya tiket.com, finance di perusahaan belum tertata dengan rapih. Awalnya, mentor dari Natali hanya datang sesekali untuk mengecek, namun ketika officially jadi CEO, tiap hari datang. Kenapa tiket.com mengangkat mentor tersebut jadi CEO? karena beliau sudah 30 tahun lebih berpengalaman sebagai CEO. Satu pesan penting dari Natali adalah “hire good one“, yang sudah pengalaman IPO bila exit strategy nya mau IPO. Jangan pakai ilmu “luki“. Luki=Lu Kira-Kira aja sendiri. Ketika memakai ilmu kira-kira tanpa pengalaman yang mumpuni, ya hasilnya tidak profesional. Selain itu, ketika sudah tau exit strategynya IPO maka, ada 2 poin krusial yang menjadi sorotan bagi perusahaan. Pertama, nett aset harus 100 milyar, kedua harus diaudit oleh lembaga audit yang kredibel. Jadi yang harus dikejar oleh tiket.com adalah bagaimana caranya supaya dapat untung yang banyak, dan laporan keuangan harus bagus. Akhirnya diputuskanlah mempekerjakan CFO yang profesional, yang sudah berpengalaman 2 kali IPO.

Dari sinilah perbaikan besar-besaran tiket.com terjadi. Ketika CFO diganti baru, banyak karyawan yang keluar. Hal ini disebabkan karena tidak semua karyawan nyaman dengan perubahan dan tidak bisa mengikuti perubahan. CFO baru pun mengambil kebijakan untuk memperbaiki kesalahan dalam hal perpajakan yang dilakukan tiket.com dahulu. Seluruh kekurangan pajak berikut dendanya dibayarkan. Butuh waktu sekitar 2 tahun untuk menyelesaikan pelaporannya. Setelah laporan perpajakan sudah sesuai dengan kewajiban, laporan keuangan perusahaan diaudit oleh Ernst & Young, maka tiket.com bisa mengajukan pinjaman ke bank. Salah satu syarat exit strategy adalah nett aset 100 milyar, jadi perusahaan mencari gedung dengan harga 100 milyar, membayar DP 25% dan sisanya 75 milyar dicicil selama 25 tahun.

Jual atau IPO?

Yang menjadi pertanyaan tadinya kan mau IPO, kenapa sekarang tiket.com diakuisisi oleh grup Djarum? kenapa tiket.com tidak melakukan fund raising seperti startup lainnya? Ketika mau .beli 100%. Bila ingin tetap mempertahankan IPO, harus siap berkompetisi dengan burung biru. Si burung biru ini mendapatkan investasi 350 juta dollar dari VC luar. Dengan tim IT burung biru yang 500 orang, akan berat bagi tiket.com untuk mengejar dalam bidang teknologi. Tapi bila tiket.com dijual 100%, pemilik baru bisa dengan sesuka hati menyuntikkan dana berapapun.

Man Plan. God Destroy

Proses dari awal sampai selesai penjualan tiket.com memakan waktu hanya 3 bulan. Kenapa bisa cepat sekali? Karena tiket.com sudah membuat SOP sangat detail dan dibuat lebih dari 2 tahun,keuangan juga sudah diaudit oleh lembaga yang kredibel. Ada salah satu hal yang menarik juga, Natali mengungkapkan bahwa tiap kali rapat BOD( Boad of Director ), selalu diadakan doa bersama. Natali juga menekankan untuk menjauhi tindakan seperti penyuapan kepada oknum. Jadi ini juga merupakan kunci proses penjualan berjalan dengan lancar.

Prioritas

Ada 4 hal yang diprioritaskan dalam tiket.com, partner, employee, customer, baru stakeholder. Kenapa customer bukan yang utama? Padahal banyak perusahaan yang mengutamakan customer. Customer menurutnya, bisa dicari. Customer yang hilang juga bisa balik, kalau kita mau memperbaiki layanan. Tapi kalau partner hilang, selesai sudah. Misalnya saja, partner payment terbesar BCA. Kalau tidak ada ini, maka bisnis tiket.com terganggu. Kedua employee. Karyawan adalah aset perusahaan. Untuk mempertahankan karyawan, misalnya saja sekelas manajer, tiket.com memberikan car ownership dengan skema pembayaran 50% dari perusahaan, dan 50% karyawan selama 3 tahun, lalu asuransi untuk keluarga. Benefit-benefit tersebut membuat karyawan bertahan di perusahaan, laporan finance pun baik karena depresiasi kendaraan 50% selama 3 tahun akan 0 karena tahun berikutnya sudah dibebankan kepada karyawan.

Tips untuk Founder & Co-Founder

Pesan Natali untuk para founder dan co-founder startup yang baru memulai startup.Pertama “Your first startup always fail!”. Jadi kalau sudah tahu startup pertamanya sudah pasti gagal, beranilah mengambil keputusan. Kalau berpikiran takut gagal, keputusan yang tepat tidak akan pernah bisa diambil.Β  Kedua berani tega dalam mengambil keputusan. Apabila ada karyawan yang memang “sucks“, jangan ragu untuk memecatnya. Hal ini biasanya menjadi kendala bagi wanita karena terbentur perasaan kasihan kalau yang dipecat ini punya keluarga yang harus dinafkahi. Misalnya saja 1 karyawan ini membuat 100 karyawan lainnya mendapat masalah, lebih baik pecat 1 karyawan yang bermasalah tersebut. Contoh lain juga Natali memberikan pendanaan bagi 11 startup, ada salah satu perusahaan yang sudah menghabiskan dana 2,5 milyar dalam setahun, namun baru membukukan pemasukkan 10 juta. Natali langsung mengganti CMO perusahaan tersebut, dan dalam waktu 2 bulan CMO baru bisa membukukan pendapatan 5,5 milyar.

Semoga sharing kali ini mengenai exit strategy loket.com memberikan manfaat dan pencerahan bagi teman-teman mengenai startup digital. Jangan lupa share dan boleh dong minta pendapat kalian di kolom komentar.

Baca juga Masjid Ramlie Musofa, Taj Mahal Rasa Jakarta

82 comments

  1. Kak Inez! Ini artikel yang sangat bernas untuk mereka yang sedang membangun start-up. Terima kasih ya, Kak, sudah merelakan waktu untuk menulis artikel ini. πŸ™πŸΌ

  2. Ini nih yg harus dimiliki utk yg punya start-up baru, emang ga selalu berhasil yaa perlu perjuangan utk bisa jadi sukses, intinya belajar dari kegagalan

  3. keren banget sharingnya. Jadi mikir juga, ketika memutuskan untuk menjadi founder dari sebuah start up, berarti banyak banget hal yang harus diurus. Ga mungkin bisa sendirian! Mulai lirik kanan kiri nih siapa aja yang bisa digandeng buat mewujudkan mimpi besar ini.

  4. Baca artikel ini nggak berasa banget, walaupun ada beberapa istilah yang nggak aku paham tapi ceritanya ngalir. Aku jadi tau jatuh bangunnya tiket.com, keren nih artikelnya buat yang mau usaha start up.

  5. Your first startup always fail..waduh harus benar benar siap mental nih buat yang mau bisnis startup..
    Artikel yang sangat bagus jadi tahu tahu strategy strategy bisnis startup.
    Ternyata customer tidak selalu menjadi first priority..benar juga ya

  6. Di suatu sore menunggu jam pulang kerja, aku sama temen kantorku pernah berangan2 buat punya startup tapi bingung startnya gimana. Hehe.
    Walau aku agak bingung bacanya karena emang ga ada basic bisnis (excuse mulu ih), next bisa aku baca ulang biar lebih paham lagi. Artikel kak inez itu selalu penuh akan manfaat 😊

  7. Bagus banget kak artikelnya. Emang mentalnya harus siap sih intinya kalau mau memulai usaha. Segala resiko terburuk bisa terjadi kapanpun. Mungkin itu penyebabnya saya masih jadi buruh kantoran hahaha

  8. Ini tulisan luar biasa. Saya selama ini hanya sebagai end user saja untuk menggunakan aplikasinya, ternyata ada proses Panjang didalamnya. Uniknya lagi, tulisan ini menginformasikan proses pembaharuan internal tiket.com

  9. Your first start up always fail. Quote yang menantangku mewujudkan mimpi lama yaitu pengen banget punya coffeeshop dan toko buku sendiri. Perjalanan tiket.com dari awal hingga seperti sekarang yang ditulis Kak Inez menjadi contoh bagi mereka yg mau memulai bisnis

  10. Selalu nambah informasi baru kalo baca artikel kak inez. Wah burung biru ITnya 500 orang. Apakah itu yang membuat kalo ngetik di google tentang beli tiket selalu doi di urutan teratas ya? πŸ€”πŸ€”

  11. Your first start up always fail… Ini kata-kata aseli nampar banget. Ditambah Harus tega ambil keputusan, buat saya tersadar ternyata saya masih perempuan banget… Hehehe… Ternyata si burung biru itu masih meraja yah, Kak Inez… Terima kasih buat wawasan exit strategy yang bermanfaat banget.

  12. Saya berkawan sama Natali di Linkedin, dan sempat WA an juga. Memang orangnya visioner banget dan kelihatannya senang belajar hal baru. Makanya dia jadi keren

  13. Wah menarik banget sharingnya. Saya sendiri juga mendirikan usaha jual pulsa online, namanya pulsaboss.com. Udah setahun tapi masih belum berkemabng pesat. Semoga bisa mengembangkannya seperti tiket.com

  14. Wah pengetahuan baru buat aku nih. Perusahaan startup dan exit strategy. Perusahaan starup udah banyak macamnya di Indonesia. Mengenai pembuat keputusan yang harus tega juga sangat setuju. Terkadang tidak hanya perempuan yang berfikir ada anak dan keluarga yang harus di nafkahi tetapi laki laki juga berpikir seperti itu.

    Harusnya memang yang menjabat sebagai pembuat keputusan karakter yang tidak mengutamakan hati dan perasaan.

  15. Menarik banget ya memerhatikan start up. Aku pernah pengen punya start up. Bener juga ya, harus tega mecat karyawan yg bermasalah. Ini aku lihat juga karakter seorang bos di sebuah start up. Demi perkembangan start up itu sendiri dan orang2 di dalamnya. Tapi ini nggak hanya di start up sih. Seharusnya dilakukan juga oleh bos2 jenis perusahaan lain biar perusahaan itu sehat.

  16. Sekarang aku jadi paham kenapa banyak startup yang tutup. Jadi tambah ilmu lagi. Menjual tiket itu emang untungnya dikit banget. Kalau ga bisa mendapatkan kustomer yang banyak dan loyal, susah majunya. Ditambah lagi kalau enggak menjaul produk lain selain tiket. Nice sharing, Kak Inez.

  17. Ini ilmu bisnis bangeet.. thankyou Kak Inez sharingnya. Ternyata ga mudah ya bikin startup. Pernah juga beberapa teman pindah kerja ke startup , eh ternyata malah tutup. Mungkin ini yang disebut startup pertama yang gagal itu yaa..

  18. Selalu salut dengan tulisan kak Inez, selain informatif juga mengajak pembacanya untuk open mind, seperti sharing mengenai exit strategy ini. GBU kak

  19. Wah, untuk memulai bisnis memang harus punya perencanaan yang matang dan tekad yang kuat ya. Ga bisa asal nyerah begitu aja. Dulu sempet juga ketemu sama pak Natali tahun 2014an, tiket.com masih belum familiar dan sekarang tiket.com udah banyak dikenal orang πŸ™‚

  20. Wah…ternyata sulit juga ya. Harus benar2 mateng persiapannya. Aku pernah coba bikin usaha startup ini, tapi gak berjalan karena cuma sebagai sambilan disamping kerjaan tetap. DApat pencerahan nih setelah baca artikel ini

  21. Suka banget baca tulisan Inez yang selalu bikin wawasan nambah. Selama ini pakai tiket.com juga enggak pernah tahu jatuh bangunnya. Ternyata semua memang ada prosesnya dan enggak mudah ya. Thanks ilmu tentang exit strategy-nya ya, Nez. Semoga sukses terus dan segera tercapai mimpinya!

  22. Information Ka.

    Perusahaan yang kokoh, dibangun dari pondasi yang kokoh.

    Start up lagi marak banget, kalau ga ngerti bisa langsung tumbang, but never try never know. Mereka yang punya start up kudu baca ini nih.

  23. Aku baru memulai sebuah usaha dan artikel bisnis seperti ini bermanfaat banget untuk menambah pengetahuan dalam dunia bisnis… Sepertinya aku setuju bahwa pengambil keputusan itu biasanya orang yang ga mengutamakan hati dan perasaan soalnya daripada nambah ribet ke belakangnya mending diputus di depan ya, ka 😁

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.