CERDIK Untuk Pencegahan Penyakit Jantung Koroner

Beberapa waktu yang lalu, ayah dari teman saya terkena serangan jantung. Puji Tuhan, masih bisa diobati, lalu dengan asuransi BPJS dilakukan pemasangan ring untuk jantungnya. Saya tahu beliau merupakan perokok berat untuk waktu yang lama. Perokok aktif merupakan salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner.

Mengenal Penyakit Jantung Koroner

Jadi apa sih yang dimaksud dengan penyakit jantung koroner? Penyakit jantung koroner adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya penyempitan pembuluh darah koroner. Tanda secara klinisnya antara lain nyeri dada atau rasa tidak nyaman di dada, atau rasa tertekan ketika sedang mendaki, bekerja berar, ataupun berjalan terburu-buru di jalan datar atau jalan jauh.

Penyakit jantung koroner ini adalah penyakit yang disebabkan salah satunya oleh pola makan dan gaya hidup. Ada beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner. Misalnya seperti merokok, makan makanan yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, dislipidemia, hipertensi, diabetes militus, kurang aktivitas fisik, obesitas, stress, dan konsumsi alkohol berlebih.

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang membutuhkan proses puluhan tahun untuk sampai menjadi sumbatan di pembuluh darah jantung. Jadi, seharusnya penyakit ini dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat dan seimbang. Cara mencegahnya dengan menerapkan gaya hidup sehat dan mengelola stress.

Fakta Berdasarkan Statistik Mengenai Penyakit Jantung Koroner

Menurut data dari WHO pada tahun 2015, penyakit jantung koroner menempati nomer 1 sebagai penyebab kematian di seluruh dunia. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, menurut data dari Sample Registration System (SRS) Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan penyakit jantung koroner menempati urutan kedua sebesar 12,9% sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Urutan pertama dipegang oleh stroke. Menurut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) data peningkatan beban biaya kesehatan yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2014 dana yang harus dikeluarkan BPJS sebesar 4,4 trilyun rupiah, lalu pada tahun 201 menjadi 7,4 trilyun rupiah. Kenaikan sebesar 68.2% merupakan angka yang sangat besar bagi BPJS. Perlu sinergi dan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penyakit jantung koroner. Edukasi yang baik kepada masyarakat diharapkan dapat menekan jumlah penyakit jantung koroner.

Tanda dan Gejala Serangan Jantung

Lalu apa saja tanda dan gejala bila seseorang terkena serangan jantung? Tanda yang khas penyakit jantung koroner adalah rasa tidak nyaman di dada atau nyeri dada ( angina ) yang berlangsung selama lebih dari 20 menit saat istirahat atau ketika sedang melakukan aktivitas. Rasa sakit ini disertai gejala keringat dingin atau gejala lain seperti mual, pusing dan lemah. Namun gejala tersebut mirip dengan serangan panik atau sakit maag akut. Yang membedakan antara penyakit jantung koroner dan serangan panik atau sakit maag adalah, nyeri pada penyakit jantung koroner berpindah-pindah. Nyeri pada penyakit jantung koroner dapat berada di belakang dada, di belakang tulang dada yang menjalar ke leher, dari dada ke bahu dan lengan, dari lengan menjalar ke rahang, dari dada kiri bawah di ulu hati ( ini yang sering disalah tafsirkan sakit maag ), di daerah punggung di antara kedua belikat. Serangan panik sakitnya akan menghilang setelah beberapa menit ketika kondisi sudah lebih tenang.

Pertolongan Pertama Penyakit Jantung Koroner

Lalu apa saja pertolongan pertama apabila ada seseorang mengalami serangan jantung akibat penyakit jantung koroner? Pertama segera hubungi ambulans di 119 atau layanan ambulans rumah sakit terdekat melalui nomer handphone atau telepon rumah. Posisikan penderita dengan posisi setengah duduk, sambil menunggu petugas medis datang atau segera dibawa ke IGD terdekat. Hindarkan penderita untuk melakukan berbagai aktivitas seperti bicara, batuk, mengejan. Penderita harus segera ditangani segera oleh tenaga medis untuk mendapatkan pertolongan pertama. Kedua bisa melakukan pertolongan pertama bantuan hidup dasar ( resusitasi jantung paru)  yang bisa dilakukan oleh tenaga medis atau orang awam yang terlatih. Ketiga melakukan defibrilasi menggunakan AED ( Automatic External Defibrilation ). Keempat segera bawa penderita ke rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan. Kelima, oleh pihak medis akan dilakukan bantuan hidup lanjut dan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan Penyakit Jantung Koroner Dengan CERDIK

Pencegahan penyakit jantung koroner dapat dilakukan dengan upaya CERDIK.

Cek kesehatan secara rutin

Sebaiknya bila dalam keadaan sehat atau beresiko kena penyakit jantung koroner, bisa rutin mengecek ke pusat kesehatan mengenai tekanan darah, gula darah sekali dalam setahun.

Bila sudah pernah terkena serangan jantung, sebulan sekali rutin melakukan pengecekan

Enyahkan asap rokok

Berhenti merokok, menjauhi asap rokok. Bila belum merokok, jangan ikut merokok. Lakukan penerapan kawasan bebas rokok.

Rajin aktifitas tubuh

Minimal selama 30 menit per hari olahraga seperti jalan kaki selama 5 hari dalam seminggu.

Diet yang sehat dengan kalori seimbang

Batasi konsumsi gula( 4 sendok makan ) dan garam ( 1 sendok teh ), lemak ( 5 sendok makan) per hari

Istirahat yang cukup

Tidur selama 7-8 jam per hari

Kelola stress

Harus seimbang antara bekerja, istirahat, sosial, olahraga dan rekreasi sehingga terhindar dari stress. Dekatkan diri kepada Tuhan, sehingga dapat mengendalikan stress. Bersikap terbuka, ikhlas, positif dalam menjalani kehidupan.

Demikianlah cara pencegahan penyakit jantung koroner dengan CERDIK. Jangan lupa untuk berbagi di sosial media kalian bila ingin memberitahu teman-teman, keluarga dan siapa saja mengenai artikel yang bermanfaat ini. Dengan berbagi artikel ini kalian sudah membantu untuk mengedukasi masyarakat. Hidup CERDIK, Jantung Sehat!

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.