Berbagi Pengalaman Menjadi Volunteer Pengajar

Beberapa tahun lalu, sekitar 2009 atau 2010 saya bertemu dengan komunitas mengajar anak-anak kaum marjinal, sebutlah komunitas SK. Komunitas ini berawal dari seorang ibu yang sering bertemu dengan 2 orang kakak beradik dan temannya. Ketiga anak ini sering terlihat mengemis, kadang memulung sampah di sekitar perumahan ibu ini. Singkat cerita, si ibu ini mengajak ketiga anak ini untuk ke rumahnya. Rumah ibu ini besar sekali, ada teras di depan rumahnya yang bisa dipakai untuk duduk-duduk. Si ibu ini punya keponakan perempuan, beliau meminta keponakannya ini untuk mengajar anak-anak tersebut. Semakin hari semakin banyak anak-anak yang datang. Keponakan ibu ini dibantu oleh teman-temannya untuk mengajar.

Pengalaman Pertama

Saya masuk setelah kegiatan belajar mengajar ini sudah berjalan, lebih tepatnya berapa lama saya lupa. Saya tidak ikut dalam tim inti kepengurusan, karena tujuan saya murni mengajar. Namun seiring berjalannya waktu kakak-kakak pengajar ada keperluan lain sehingga yang mengajar tinggal saya sendiri saja. Biasanya saya mengajar dari jam 1 siang hingga 4 sore. Anak-anak sangat antusias sekali, kadang jam 10-12 siang mereka sudah datang. Di teras ada buku bacaan, kertas mewarnai, krayon, pensil warna, spidol, papan tulis, peralatan tulis. Jadi sebelum saya datang, mereka sibuk sendiri mewarnai atau menggambar. Kadang ketika saya datang, mereka meminta perpanjangan waktu untuk mewarnai. Tapi sebagai guru ya harus tegas, kalau sudah saatnya kegiatan mulai, semua harus selesai menggambar dan mulai belajar.

Keuangan Untuk Operasional

Untuk keuangan kegiatan, selain dari uang sendiri, kadang ada donatur dari teman. Penyedia rumah menyiapkan air putih dan gelas, kadang untuk snack kami belikan gorengan atau biskuit. Tapi percayalah, rejeki ada aja kalau mau berbuat baik. Kalaupun nggak ada makanan, kita selalu mengajarkan anak-anak datang ke sana bukan untuk makan, tapi untuk belajar. Jadi mereka belajar untuk menerima kondisi kita.

Untuk mengajarnya, karena anak-anak yang saya ajar ini campur, ada yang sekolah dan tidak sekolah maka pendekatannya pun berbeda. Untuk anak yang tidak sekolah, biasanya mereka orientasinya uang, jadi mereka sangat concern dengan menghitung uang. Bagaimana tidak, mereka setiap hari memungut botol, kardus, dll yang harus dikiloin dan diuangkan jadi mau tidak mau mereka harus belajar menghitung. Saya menyesuaikan dengan mengajar matematika.

Jatuh Cinta Bisa Membuat Pintar Membaca

Ada kejadian menarik. Ada murid saya, namanya Uyu. Si Uyu ini tidak bisa baca tulis. Saya dan teman-teman tiap minggu berusaha mengajarinya, tapi sepertinya tidak ada hasil. Tadinya teman saya pikir dia mungkin punya gangguan seperti disleksia. Tapi setelah dia punya handphone dan punya pacar, sms san lancar dong. Jadi punya pacar memotivasi seorang Uyu untuk belajar baca. Kabar terakhir si Uyu ini sudah menikah di kampung. Kalah saya.

Untuk saya sendiri, saya punya buku pegangan untuk bahan referensi. Biasanya intisari kumpulan rumus yang dijual di toko buku. Saya juga baca-baca buku pelajaran sekiranya masih relevan dengan materi yang akan saya ajarkan. Saya selalu bilang ke anak-anak kalau mereka pintar dan cerdas. Hal ini untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Bernegosiasi Dengan Anak

Untuk anak TK biasanya saya bacakan cerita. Di rak buku ada cerita rakyat. Bacakan seperti mendongeng, biasanya anak-anak senang mendengarkannya. Tapi kepala agak pusing juga sih kalau ada yang berantem sampai nangis. Atau kadang saya suruh mereka mewarnai, kadang saya juga ikut mewarnai membantu adik-adik ini. Kalau anak kelas 1- 6 SD masih bisa diatur. Kalau sudah memasuki usia ABG, seperti misalnya masa SMP SMA sudah agak repot. Pendekatannya sudah berbeda. Jadi biasanya kalau yang anak SMP SMA saya hanya tanyakan ada tugas apa yang bisa saya bantu ajarkan. Kalau mereka jawab tidak mau belajar, saya akan minta mereka membantu saya mengajar. Win win solution. Kadang kalau sudah selesai ngajar saya dengerin mereka curhat juga.

Mengajar anak-anak tidak harus selalu mengajar tentang mata pelajaran. Ada banyak hal yang bisa kita ajarkan. Misalnya saja, dari hal yang kecil. Belajar untuk membuang sampah pada tempatnya. Di sana saya mengajarkan anak-anak untuk disiplin membuang sampah pada tempatnya, kalau masih berantakan tidak boleh pulang. Belajar untuk berkata-kata yang baik, tidak boleh ngomong jorok. Belajar untuk tanggung jawab, misalnya saja anak-anak saya suruh mencuci gelas yang sudah mereka pakai. Menghapus papan tulis setelah selesai mengajar. Membereskan rak buku setelah selesai membaca. Mengajarkan adik-adik untuk menjauhi rokok dan narkoba. Mengajarkan untuk menggunakan kata maaf, terimakasih dan tolong.

Tantangan Eksternal

Kendala yang saya temui misalnya ada anak yang memang tiap hari kerja memulung atau mengemis, tidak diijinkan oleh orang tuanya, karena dengan mereka belajar ini mengurangi pendapatan keluarga. Mental kita harus benar-benar disiapkan kalau menghadapi hal semacam ini. Karena tidak menutup kemungkinan ada ancaman dari orang yang tidak suka.

Kendala berikutnya, bila kita ingin membantu anak untuk kejar paket A,B,C biasanya terkendala di surat akta lahir dan Kartu Keluarga. Saya pernah sampai mengurus ke RT setempat meminta surat keterangan. Puji Tuhan dimudahkan walaupun harus bolak-balik dan diskusi panjang.

Tantangan Internal

Kendala selanjutnya bisa dari faktor internal. Selama berkomunitas, konflik di internal pasti ada, apalagi banyak kepala pasti banyak pemikiran. Jadi dibutuhkan kedewasaan diri dan menahan ego masing-masing. Kalau perlu egonya ditinggal dulu di rumah.

Hal yang menyenangkan dan selalu saya rindukan adalah ketika saya mendengar anak-anak ini tertawa, memanggil nama saya, dan cerita mengenai kemajuan mereka di sekolah. Bayangkan bangganya kita mendengar kalau anak yang kita ajar dari rangking 10 besar bisa masuk 5 besar atau 3 besar.Β Saya berhenti mengajar di komunitas ini karena pemilik rumah menjual rumahnya. Jadi saya tidak bisa mengajar lagi.

Dukanya, ketika adik yang saya ajar tidak tinggal di sana lagi, entah digusur, pulang kampung, pindah lapak,dll. Tapi yang paling sedih ketika ada adik yang saya ajar meninggal dunia karena sakit. Bayangkan saja hari Minggu masih ketemu belajar bareng, beberapa waktu kemudian sudah tidak ada.

Komunitas Baru

Tempat kedua tempat saya mengajar sebut saja A. Komunitas ini sudah berupa yayasan. Sangat terstruktur dan memiliki SOP yang baik. Mereka memiliki divisi-divisi yang menjawab permasalahan seperti yang saya temui dulu di lapangan. Mereka memiliki divisi yang khusus untuk mengurus berkas yang diperlukan untuk kejar paket A,B,C. Sebelum mengajar ada pelatihan mengenai gambaran besar apa yang dilakukan yayasan tersebut. Mereka sangat concern dengan anak. Seperti misalnya saja kita tidak boleh melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal. Pengajar tidak boleh bicara kasar, tidak boleh merokok di area belajar mengajar, untuk pengambilan foto pun ada etikanya. Kita harus lebih rendah posisinya daripada anak-anak. Tidak boleh mengeksploitasi kemiskinan. Tidak boleh melakukan pelecehan seksual. Tidak boleh menyebarkan informasi dimana lokasi anak-anak ini berada di media sosial. Kita tidak tahu apakah teman yang ada di sosial media kita pedofil/tidak.

Untuk belajarnya memang agak sedikit berbeda dari komunitas saya dulu. Mungkin dikarenakan pengajarnya cukup banyak, jadi ketika baru masuk anak-anak dikumpulkan dan berbaris sesuai kelasnya. Mereka berbaris rapih dan menyanyi. Ada kakak yang memberikan komando dengan tegas untuk anak-anak ini sehingga anak ini teratur. Setelah selesai mereka duduk sesuai kelasnya masing-masing. Gurunya lumayan banyak, jadi kadang 1 guru hanya menangani 1-4 murid. Muridnya sendiri sekitar 40-70 an. Sama seperti komunitas saya sebelumnya, anak-anak ini datang dan pergi. Saking banyaknya nama, saya foto satu-satu terus saya kasih notes nama untuk memudahkan saya mengingat nama mereka. Ini sih trik saya supaya bisa lebih dekat dengan mereka. Kan mereka pasti senang kalau kakak pengajar ingat nama mereka. Kamu aja kalau namanya diinget seneng kan?

Setelah selesai, biasanya kakak-kakak pengajar ada meeting gitu. Mereka biasanya mereview apa yang sudah diajar, pengajarnya siapa, trus masing-masing anak yang diajar gimana responnya saat diajar. Apakah cepat menerima materi, antusias,atau perlu bimbingan khusus, dll. Ada PIC yang mendata ini semua.

Kayanya ini dulu, kalau ada kenangan yang saya ingat saya akan update. Stay tune yah.

Oh ya, saya berkenalan dengan teman-teman baru dan akan membuat kegiatan seperti ini lagi. Namanya Halo Gemar, kalau kalian tertarik, bisa japri saya ya di whatsapp. Nanti saya infokan ke ketua grup belajar mengajar ini.

36 comments

  1. Whoaaa… Mengajar anak-anak sebagai seorang sukarelawan dalam waktu yang sama dengan usia yang beraneka ragam itu big challenge banget buat saya. Kak Inez keren abis deh iiih.

    One says to teach is to touch ones life forever. Pasti si Uyu akan inget Kak Inez selamanya 😊

  2. Salut untuk kak Inez…Menceritakan hal yang mengharukan, humanis dengan cara yang realistis dan mencerahkan pembacanya. Semoga dengan berbagi ilmu, juga membawa kebaikan untuk Kak Inez. GBU

  3. Top kak…keluarga besarku adalah guru, namun kayaknya anak-anak nya belum ada yang berjodoh menjadi seorang guru, biasanya Bapak/Ibu setelah pulang mengajar di sekolah akan bercerita mengenai murid-muridnya, tentang semangat belajar, kenakalan, dan semua pernak-pernik lainnya, kebetulan orang tua mengajar sekolah menengah pertama dimana siswa-siswi nya adalah anak yang baru puber dan mencari jati diri, jadi banyak kisah menarik, suatu saat bapak setelah pensiun pun banyak muridnya dahulu yang masih datang ke rumah kalau Lebaran, murid-murid bapak juga banyak bercerita mengenai cara bapak mengajar, yang suka bercanda, yang pernah marah di kelas, yang sering membonceng muridnya yang rumah nya searah rumah kami, saat-saat itu akan membekas selamanya, tidak cuma bagi pengajar tapi juga bagi murid-muridnya, mengajarakan kebaikan walau sedikit akan lebih berharga daripada mencemooh keburukan.

  4. Super Kak.. Aku juga pernah jadi sukarelawan pengajar buat pemula.. Sempet kaget.. Waktu salah satu temen ngajak joint jd sukarelawan, karena gak percaya di wilayah pusat Ibukota masih ada anak-anak yg belum tersentuh.. Salam perjuangan !!!

  5. Seneng ya bisa ngajar anak2 apalagi kalo anak2nya begitu antusias, lucunya anak yg awalnya ga bisa baca jadi bisa baca karna jatuh cinta, ternyata cinta bisa mengubah segalanya hahaa

  6. Di tengah kesibukannya sebagai warga megapolitan, Kak Inez masih menyempatkan diri untuk mengabdi kepada negeri ini. Komitmennya yang luar biasa, membuatnya tak gentar berhadapan dengan birokrasi negeri yang sungguh berbelit. Keep up the good work, Kak.

  7. Mantab, gak gampang loh ngajar itu. Ada beban supaya murid yg diajarkan itu mengerti. Dan strategi utk mencapai kesana itu gak mudah, jadi gak sesimple cuma ngasih pengajaran doang. Bagi gw, guru itu hebat bgt

  8. Luar biasa semangat Kak Inez untuk berbagi ilmu ke anak-anak. Aku pernah ikut kelas inspirasi, tadinya aku kira aku yang memberikan sesuatu ke mereka, ternyata mereka juga memberikan sesuatu kepadaku. Yang mereka berikan banyak banget, salah satunya : kebahagiaan.

  9. Aku punya teman yg hobi mengajar anak-anak juga. Mulai dari kaum marjinal sampai kaum menengah..
    Kalau pada dasarnya memang suka anakΒ² pasti punya jiwa dan semangat untuk mengajar.
    Lanjoetkan kak..!!! 😁

  10. “Jadi punya pacar memotivasi seorang Uyu untuk belajar baca. Kabar terakhir si Uyu ini sudah menikah di kampung. Kalah saya.”
    Mau ketawa bacanya…
    Bisa jadi sih, seseorang termotivasi untuk maju dan hidup yang lebih baik karena pasangannya.

  11. Kalau baca tulisan seperti di artikel ini jadi ingat masa-masa kuliah dan sma. Saya diwajibkan untuk mencari sekolah jalanan untuk mengajar bersama teman-teman saya. Seru banget ya kak pasti dan ada rasa bangga tersendiri juga melihat anak-anak itu.

  12. Tulisan kamu bikin saya kembali ke masa 25 tahun lalu, ketika saya jadi memberanikan diri jadi pengajar suka rela. Saya jadi teringat pengalaman keseruan saat itu.
    Pernah suatu hari kelas saya kosong, tidak ada murid, ternyata ada komidi putar dilapangan kampung jadi mereka pun kesana. Saya susul mereka untuk mengajak masuk kelas tapi ujung ujungnya saya malah ikutan naik komidi putar bareng mereka, it was so fun.
    Disitu saya merasakan indahnya berbagi.

  13. Aku pernah punya kegiatan kayak gini juga,Kak, waktu kuliah. Ngajar ke anak-anak di kampung di sekitar kampus, malah sampai bikin LSM kecil2an. Bener banget tantangannya banyak. Tapi seneng, merasa bisa memberi manfaat.

  14. Mulia sekali ya, Ibu yang menyediakan rumahnya untuk anak2 belajar. Kakak2 pengajarnya pun.
    Aku juga ada tempat serupa, di daerah Depok deket rumahku. Murid2nya anak dari pemulung dan kebetukan mengajarnya pun di lingkungan itu langsung

  15. Dulu pernah bantu-bantu di CAN (Cahaya Anak Negeri) Bekasi. Kebetulan yang ngelola teman, mba Nadia.

    Benar sekali yang dibilang kak inez di atas. Saya malah pernah lihat orang tua anak yang tiba-tiba datang ke CAN dan memukul anaknya karena orang tuanya tidak setuju untuk belajar. Karena anak itu harus kerja.

    Aku kagum loh dengan orang-orang seperti kak inez ini. Mau melakukan kegiatan ini.

  16. Salut Kak masih bisa meluangkan waktu untuk kegiatan sosial! Aku bayangin wajah anak-anak itu waktu belajar dan senyum sendiri jadinya. Pasti bangga banget deh kalau ketemu mereka suatu saat nanti dan sukses dan mereka ingat Kakak yang ngajarin.. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa katanya πŸ™‚

  17. Emang paling bahagia tuh kalau anak yg kita ajar jadi dapet rangking dan meningkat prestasinya. Berasa ga sia-sia ngeluangin waktu, tenaga, dan meteri buat mereka.
    Menarik banget kak kegiatannya. Kegiatan berikutnya didaerah mana kak?

  18. Wah keren banget mbak inez, saya juga pengen banget bisa ngajar adik-adik, tapi rasanya waktunya belum ada huhu semoga bisa lanjut seperti mbak inez. ngomong2 kalo anak-anak senengnya emang curhat ya hahaha semangat terus ya mbak!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.