Refleksi Akhir Tahun 2019

Tulisan ini saya persembahkan untuk pengingat diri saya sendiri. Untuk mengingat perjalanan apa saja yang sudah saya lalui. Pelajaran apa yang sudah saya dapat. Apa yang harus saya perbaiki.

Resign

Bila melihat satu tahun ini ada banyak sekali dinamika di tahun 2019. Tentunya semua dinamika yang ada ini menambah pengalaman hidup saya. Di awal tahun saya memutuskan untuk resign dari perusahaan sebelumnya. Setelah saya memikirkan matang-matang akhirnya saya memberanikan diri memberikan surat resign ke atasan saya. Saya harus pindah. Mencoba di perusahaan yang lebih besar. Begitu gumam saya. Hingga akhirnya saya menjalani exit interview dan secara sah sudah lulus dari company yang lama.

Membuat Acara Pelatihan Blog

Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, kalau saya akhirnya menjadi panitia yang menyelenggarakan pelatihan blog. Menggarap acara mulai dari mencari pembicara, mencari peserta, tempat, urusan konsumsi, sampai jadi MC. Puji Tuhan semua selesai dengan baik. Walau penuh dengan kekurangan ini itu. Kurang tidur. Belajar banyak soal time management dan manajemen konflik di sini.

Officially Welcome to 30

Gak ada yang spesial di hari ulang tahun ini. Tapi saya bersyukur penyertaan Tuhan selalu ada hingga umur saya di umur 30. Tidak banyak yang mengingat hari ulang tahun saya. Tidak ada hadiah. Yang penting sehat. Tidak ada perayaan. Amin

New Job

Akhirnya saya mendapatkan pekerjaan baru di sebuah perusahaan yang tidak jauh dari rumah saya 🙂 jaraknya sekitar 7 Km. Kebetulan teman satu tim saya di company sebelumnya sudah masuk duluan. Saya pun ikut masuk. Lolos administrasi dan wawancara akhirnya memulai pelatihan selama sebulan.

Ada banyak hal yang terjadi selama saya bekerja di sini. Saya banyak mengenal karakter orang-orang yang saya tidak pernah temukan di pekerjaan sebelumnya. Saya belajar bagaimana mengambil sikap di tengah konflik lingkungan kerja yang dinamis. Ditolak oleh nasabah? Sudah biasa. Memang itu yang harus dihadapi. Saya menyukai pekerjaan ini, namun saya merasa saya masuk di waktu yang salah. Tapi gak ada yang harus disesali, mungkin memang rencana Tuhan saya diharuskan untuk berproses di tim ini.

Di tengah padatnya jadwal training dan penentuan sebagai agent premium saya dihadapkan dengan beberapa side job yang kebetulan ada sedikit masalah. Di satu sisi ada tanggung jawab kepada brand, di sisi lain saya harus berjuang untuk lolos di probation 1 bulan pertama sebagai agent premium. Di saat saya sudah berjuang untuk menyelesaikan keduanya. Ada hal-hal di luar rencana awal saya yang tidak bisa saya prediksi. Pokoknya saya gagal. Akhirnya saya jadi agent biasa. It’s not bad.

Dapat SIM C

Tidak pernah terpikirkan oleh saya memiliki motor. Saya gemuk. Seringkali saya mendapatkan perlakuan yang diskriminatif oleh ojek online. Intinya mereka tidak mau mengantar saya karena fisik saya ini. Banyak alasan yang diberikan. Mulai dari bilang ban bocor setelah melihat saya. Numpang nambah angin dulu abis itu kabur. Atau ada yang secara gamblang bilang ga mau anter saya karena saya gemuk. Mau marah? Lebih ke arah kasian sih. Memang mereka manner nya kurang baik saja. Toh kalau mereka ga mau antar saya bisa naik taksi. Pernah dalam sekali waktu lebih dari 3x ditolak. Memang saya harus beli motor untuk mobilisasi ke kantor. Akhirnya kebeli juga walaupun masih nyicil. Hihihi. Lalu saya bikin SIM C. Sebelum bikin SIM C ini saya latihan setiap malam naik motor keliling komplek rumah. Antri bikin SIM ini lama banget. Hampir seharian habiskan waktu untuk bikin SIM C ini.

Anxiety

Ini yang lumayan banyak mewarnai hidup saya selama 6 bulan terakhir. Anxiety. Karena banyak tekanan akhirnya anxiety saya kambuh. Dosis obat saya yang tadinya cocok sama saya akhirnya harus diganti total. Saya pun mulai mengalami psikosomatis. Mual, gatal-gatal di kepala, kesemutan, pusing, tidak bisa tidur nyenyak, hingga mimpi buruk. Belakangan obat dokter yang diberikan diganti dan dinaikan dosisnya bertahap. Anxiety yang saya alami berangsur-angsur terkontrol. Saya bisa mulai lebih tenang.

Harapan-Harapan

Terimakasih 2019. Terimakasih teman-teman yang sudah menjadi bagian dalam proses hidup saya. Baik itu masalah maupun sukacita saya yakin dan percaya semuanya membuat saya semakin berproses menjadi lebih dewasa. Terimakasih atas berkat Tuhan sepanjang 2019 yang selalu mencukupkan. Terimakasih atas kasih karunia berupa kesehatan yang baik sepanjang tahun 2019 ini. Terimakasih atas kedua orang tua yang masih diberikan kesehatan dan umur panjang. Semoga di tahun 2020 ini segera bisa menemukan pasangan hidup lalu berkeluarga, jadi nggak ditanyain mulu kapan bisa gendong cucu. Saya yakin di tahun 2020 nanti saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Lebih bersemangat, pemaaf, sabar, serta selalu menyertakan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup.

Dear Inez. Kamu adalah pribadi yang hebat. Kamu kuat. Kamu adalah seorang wanita yang berharga. Terimakasih untuk tetap bertahan. Terimakasih untuk selalu berjuang. Akan ada waktunya dimana kamu menemukan orang yang Tuhan siapkan untuk kamu. Aku mengasihimu.

With love,

 

Inez

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.