My Family

Saya bersyukur memiliki keluarga seperti saat ini. Saya teringat banyak orang di luar sana yang tidak memiliki ayah atau ibu. Ada juga yang tidak tahu siapa keluarga mereka karena besar di panti asuhan. Tidak ada keluarga yang sempurna. Itulah yang selalu saya ingat setiap kali ada saja kejadian yang bikin mengelus dada.

Jika diurut beberapa generasi ke atas, kakeknya kakek saya itu katanya dari China. Rambutnya setengah gundul dan dikepang. Mirip seperti film kungfu Wong Fei Hung. Dulu katanya juga jago kungfu. Beliau tinggal di pulau jawa, tepatnya di wilayah Purbalingga.

Lalu skip menuju generasi kakek saya. Kakek saya ini namanya Oey Ping An. Beliau nama Indonesianya adalah Selamet. Dulu dikasih nama seperti itu karena sering sakit-sakitan. Generasi sejak kakek ini nggak ada yang bisa bahasa mandarin. Justru kakek saya ini lebih jago bahasa belanda, kalau pagi suka baca koran bahasa belanda.

Kakek punya 12 anak dari 2 istri. Ayah saya anak ke-11. Istri pertama beliau yaitu mak Cinta meninggal karena disentri. Dulu ada wabah dan nyawa mak Cinta tak bisa diselematkan. Istri kedua beliau ini mak Mugi. Anaknya cuma dua, yaitu ayah saya dan tante saya.

Mereka semua tinggal di kota Purbalingga, kehidupan yang sangat sederhana. Kadang miris juga kalau dengar kisah jaman dulu, telor 1 dibagi 4 untuk makan. Lalu beberapa anak dititipkan ke saudara karena memang ekonomi keluarga tidak baik.

Saya merupakan cucu terkecil dari keluarga ini. Jadi jarak antara saya dan sepupu saya lumayan jauh. Ada sepupu saya yang usianya sudah 60 an. Saya tidak dekat dengan keluarga besar. Namun kami pernah bertemu di Cimahi pada saat reuni keluarga besar.

Lalu sekarang bahas tentang ayah dan ibu saya. Mereka ini bertemu di Bandung lalu menikah dan menetap di Jakarta. Saya memiliki seorang kakak laki-laki yang beda 10 tahun dengan saya. Kami tinggal di pusat kota Jakarta, tidak jauh dari istana negara. Makanya tiap kali ada demo rusuh depan istana, sebaiknya saya tidak pergi-pergi karena akan sulit untuk pulang ke rumah.

Ayah saya seorang insinyur sipil. Beliau adalah orang yang paling gigih yang pernah saya temui. Setelah absen hampir 25 tahun dari kuliah, beliau meneruskan kuliahnya lagi di universitas yang sama. Dari keluarga beliau, hanya ayah saya yang lulus kuliah.

Ayah saya orang yang sangat bertanggung jawab dengan keluarga dan selalu memprioritaskan anak-anaknya. Seringkali kalau ada makanan yang dia dapat dari kantor, dia pasti mengingat keluarga yang ada di rumah. Kadang terharu kalau mengingat ini semua. Beliau sosok ayah yang tegas, namun lembut hatinya.

Kalau bahas sosok ibu, kadang sayang, kadang sebel. Apalagi kalau sudah mulai ngomel-ngomel. Aduh, pusing kepala dengernya. Ibu saya ini hobinya beberes rumah. Udah diberesin hari ini nanti beberapa hari lagi beberes lagi. Hobi banget nonton youtube. Kadang kalau saya lagi asik main game, saya dipanggil-panggil cuma untuk nunjukin video yang dia tonton. Yang bikin sebel lainnya suka drama queen gitu deh.

Tapi ibu saya ini orangnya rajin. Jadi beliau suka jahit-jahit gitu. Beberapa waktu yang lalu saya dijahitkan beberapa rok dari kain sprei motif doraemon. Ada juga motif unicorn. Wah kalau dilihat sama temen-temen saya pasti diketawain nih. Tapi tetep kok dipakai roknya untuk tidur dan dasteran di rumah.

Jadi demikianlah cerita my family. Puji syukur masih diberikan orang tua yang sayang. Bagaimana dengan keluarga kalian?

 

3 comments

  1. Bersyukur banget ya dilahirkan di keluarga lengkap dan harmonis. Aku pikir emak aku doang yang hobi beberes, ternyata semua emak kayak gini ya.

  2. Asik ya keluarga kak agnes. Ayah yang tegas, bertanggung jawab dan lembut hatinya. Serta ibu yang rajin dan suka menjahit baju untuk anaknya. Hormat saya untuk mereka ya kak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.