Kasus Dedy Susanto vs Revina Di Mata Saya

Beberapa minggu belakangan ini terjadi sebuah kasus yang sangat viral di media sosial. Seorang Doktor Psikologi diduga melakukan pelecehan seksual kepada kliennya. Nama Doktor psikologi ini adalah Dedy Susanto, seorang Youtuber dan Influencer di instagram yang memiliki followers ratusan ribu. Sebelum kasus ini terkuak, jujur saya sebagai orang awam menyukai video motivasi yang dia berikan. Namun semua berubah ketika saya melihat status twitter yang membahas mengenai apa yang dilakukannya kepada klien wanitanya.

Pelecehan Seksual Oleh Dedy Susanto Terhadap Klien Wanitanya

Kasus ini berawal dari seorang influencer di instagram yang bernama  Revina yang mempertanyakan mengenai sertifikasi Dedy Susanto sebagai seorang yang bersertifikat untuk menterapi klien. Saling membalas direct message di instagram,memberikan klarifikasi di feed instagram, pokoknya saling argumentasi. Hingga akhirnya, seperti bisul yang sudah matang. Bisul ini pecah juga. Beberapa wanita mengaku pernah dilecehkan dan diperkosa oleh Dedy Susanto. Mereka diajak untuk diterapi secara khusus di hotel. Dunia sosial media heboh.

Masing-masing follower baik dari follower Dedy Susanto dan follower Revina saling menghujat selebgram tersebut. Masing-masing punya sanggahannya sendiri membela sosok selebgram yang mereka puja. Followers die hard Dedy Susanto pun menganggap bahwa kasus ini merupakan upaya untuk menjatuhkan Dedy Susanto dengan fitnah. Mereka beranggapan mana mungkin seorang Dedy Susanto yang merupakan Doktor Psikologi melakukan hal demikian sehingga menyerang Revina. Dedy Susanto sendiri pun menggiring opini bahwa kesaksian korban pelecehan seksual merupakan sebuah penipuan untuk menjelekan dia.

Di tengah kehebohan itu, saya melihat banyak netizen justru mempermasalahkan Revina yang mantan Yonglex, menuduh gimmick dan mencari endorse,mencari sensasi. Bukan fokus kepada masalah utamanya yaitu mengenai pelecehan seksual yang dilakukan Dedy Susanto kepada kliennya. Kadang saya berpikir apa ada yang salah dengan otak mereka mengapa tidak berempati ketika wanita lain dihadapkan dengan perkosaan serta pelecehan seksual.

Studi Kasus Dari IG Stories Revina

Revina pernah posting di IG storiesnya mengajak diskusi followers yang dia miliki. Topiknya sangat menarik menurut saya. Topik ini masih berkaitan dengan tulisan yang saya bahas dengan kasus perkosaan. Kurang lebih seperti inilah storiesnya. Bila ada seorang gadis pergi dugem dan mabuk hingga dia tidak bisa pulang, lalu dia diantar teman-teman prianya, di mobil dia digrepe-grepe. Sampai di hotel dia diperkosa secara bergilir. Lalu dua hari kemudian gadis ini datang ke kamu ( di sini diibaratkan datang menemui followers ), apa yang bakalan kamu lakukan?

Banyak jawaban yang sungguh mengagetkan karena banyak orang menyalahkan kenapa si gadis pergi dugem. Ada yang bilang konsekuensi dari pergi dugem ya seperti itu. Ada yang mencaci maki si gadis bahwa dia goblok sampai ke tulang. Ada yang mengomentari kenapa minum banyak sampai mabuk. Ada juga yang menyindir nakal boleh, goblok jangan.

Ada juga netizen yang berkomentar bahwa kejadian itu sudah lewat, udah terima saja kenyataan. Saya juga dalam hati membatin, gila. Ini otoritas tubuh diganggu orang lain kok terima saja. Ya gak bisa gitu lah! Ada juga yang bilang dugem itu nggak ada faedahnya ditambah mabok. Jadi si perempuan lah yang goblok. Sudah diperkosa, masih digoblok-goblokin pula. Mungkin ini penyebab banyak wanita yang diperkosa takut untuk melaporkan perbuatan ini karena stigma di masyarakat yang sangat menghakimi.

Yang paling epic sih, ada yang menganalogikan seperti kucing dikasih ikan asin. Siapa yang berani menolak? Ini sih udah gak bener. Masa si gadis dianalogikan sebagai objek ikan asin. Wanita bukan ikan asin. Kita itu manusia. Bukan objek, jadi saya rasa analogi itu tidak memanusiakan manusia! Intinya sih banyak netizen menyalahkan si gadis inilah yang salah. Padahal dia ini adalah si korban.

Pasal 285 KUHP, seks tanpa konsensus kedua belah pihak termasuk pemerkosaan. Apalagi dia lagi ga sadarkan diri, disetubuhi bergilir ya namanya perkosaan. Mau si korban ini laki-laki ataupun perempuan, tetap saja perkosaan.

Jadi bila balik lagi ke pertanyaan, kalau terjadi perkosaan, itu salah siapa? Salah si pemerkosanya ya. Bukan salah si wanita. Bukan karena dia berpakaian terbuka, bukan karena dia jalan malam, dan hal-hal menghakimi dan menyudutkan wanita lainnya. Jangan menganalogikan wanita seperti permen yang kalau tidak ditutup rapat oleh bungkus permen maka dikerubungi semut. Wanita bukan benda, punya darah, tubuh, perasaan, akal budi. Jadi nggak pas kalau kamu analogikan dengan permen.

Melihat Kasus Dedy Susanto Dari Sudut Pandang Kekerasan Berbasis Gender

Gender adalah bentukan, konstruksi, interpretasi masyarakat atas perbedaan kondisi biologis laki-laki dan perempuan. Gender bukan sesuatu yang dibawa dan ditetapkan sejak lahir melainkan dibentuk, dikembangkan, dan dimantapkan sendiri oleh masyarakat.

Seks sendiri berbeda dengan gender. Seks mengacu pada jenis kelamin, bersifat biologis. Fisiknya dapat dirubah namun fungsi reproduksinya tidak. Sedangkan pembeda antara seks dan gender adalah kaitannya dengan psikologis, sosiologis dan budaya.

Dedy Susanto merampas kemerdekaan tubuh klien wanitanya secara sewenang-wenang. Dengan mengatasnamakan terapi dan menganggap dirinya profesional ( S3 Psikologi ), dia menggunakan celah ini untuk memanipulasi klien wanitanya sehingga melakukan pelecehan dan memperkosa korbannya di hotel. Menurut saya Dedy Susanto sudah melakukan kekerasan berbasis gender.

Tanggung Jawab Blogger Menjadi Media Ramah Gender

Sebagai seorang blogger yang memiliki media blog untuk berbagi pandangan dalam bentuk tulisan, saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi media ramah gender. Banyak masyarakat masih belum sadar gender. Seperti sharing di atas, kasus perkosaan jangan selalu menyalahkan si korban yaitu si wanita. Semoga ke depannya semakin banyak media online lainnya juga menjadi ramah gender sehingga tidak hanya mengejar traffic dan uang dari iklan, melainkan memiliki tanggung jawab moral menjadi media yang ramah gender.

Bila ada temanmu yang menjadi korban perkosaan, segera ajak ke kantor polisi terdekat dan lakukan visum di rumah sakit. Beri dukungan dan jangan menghakimi ya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.