Mari Kita Cerita Tentang Hari Ini

Beberapa bulan ini waktu saya banyak tersita mengurusi pernikahan teman. Mulai dari bulan Januari, kami banyak mengunjungi vendor pernikahan di wedding expo. Namun apa mau dikata, Covid melanda dan rencana untuk menikah teman saya terpaksa diundur. Yang tadinya menggebu-gebu mencari vendor jadi tidak bersemangat.

Sinyal untuk melanjutkan pernikahan ini muncul setelah bulan Juni. Pihak mempelai pria menetapkan tanggal lamaran dan Juli kemarin akhirnya teman saya ini dilamar pujaan hatinya. Pernikahan akan diselenggarakan bulan Desember. Pencarian vendor baru dimulai bulan Juli. Lagi-lagi saya yang dibikin ribet urusan cari vendor wkwkwk.

Diskusi Vendor Pernikahan

Hari ini pun tidak jauh dari pembahasan mengenai vendor-vendor tersebut. Kebetulan untuk urusan Wedding organizer, mc akad dan resepsi, entertain, makeup sudah final. Tinggal ada dua pilihan vendor dekorasi yang ingin digunakan. Lalu untuk vendor foto ada beberapa yang menjadi kandidat. Kebetulan kemarin kami bertemu dengan 2 vendor sekaligus. Makanya pembicaraan berlanjut sampai hari ini.

Memilih vendor untuk pernikahan itu tentang kecocokan. Harga mungkin nomer sekian. Saya pribadi banyak belajar dari persiapan pernikahan ini. Attitude, service, dan respon dari vendor menentukan banget keputusan klien. Ada beberapa vendor yang menurut saya bagus, namun ketiga hal tersebut kurang. Akhirnya teman saya memutuskan untuk tidak memakai mereka.

Kunci Bertahan di Industri Pernikahan Selama Pandemi

Saat pandemi ini, industri pernikahan seperti wedding sangat terdampak. Ada yang selama 3 bulan tidak mendapatkan penghasilan jadi hanya bertahan dari tabungan. Ada juga yang sampai menjual truknya demi bertahan di krisis seperti ini. Banyak cerita dari vendor yang menjadi insight buat saya. Kuncinya jika ingin bertahan harus benar-benar memiliki brand yang kuat, inovasi, dan berkolaborasi dengan yang lain.

Menulis

Hari ini pun saya menulis, melakukan revisi side job saya di sebuah agency. Menulis menjadi salah satu hobi saya beberapa tahun terakhir ini. Awal saya menulis sekitar tahun 2003 atau 2004. Waktu itu blog saya tulis di salah satu buku harian online, saya udah lupa namanya. Tapi saya rasa udah nggak ada. Masih jamannya ngeblog lewat warnet. Menulis membutuhkan latihan. Saya pun merasa masih butuh banyak latihan untuk menulis konsisten.

Bagi saya menulis adalah salah satu cara untuk self healing. Dengan menulis saya bisa mengeluarkan pikiran, ide, uneg-uneg. Kadang kalau sempat, saya mencoba menulis artikel organik untuk share ilmu atau informasi yang menurut saya berguna buat orang lain.

Ada beberapa pengalaman tentang sharing saya di blog, seperti misalnya beberapa orang menghubungi saya terkait artikel yang saya buat. Ada yang konsultasi seputar dokter, ada yang konsultasi seputar kuliah. Ada juga yang menjadikan blog saya menjadi bahan referensi konten perusahaan dia. Wah tulisan saya ada pembacanya juga gitu.

Jadi kira-kira begitulah cerita saya hari ini. Semoga terhibur mendengar celotehan saya ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.