Backpacker Murah ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Lagi kepengen sweet escape vitaminsea ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Kaya anak millenials ala ala gitu liburan ke pantai pas weekend. Mau ke Bali kejauhan, dan mahal. Pulau Tidung ajalah deket, murah meriah. Kebetulan, di grup backpacker Jakarta ada pengumuman untuk wisata backpacker murah ke Pulau Tidung. Harga yang ditawarkan berkisar 200 ribuan. Lebih tepatnya 220ribu. Ini sudah termasuk biaya kapal pulang pergi, penginapan kamar AC, sewa kapal untuk snorkling 3 spot, makan siang, makan malam dan BBQ. Oh ya buat ya nggak tau pulau Tidung ada dimana, letak pulau Tidung itu ada di kecamatan Kepulauan Seribu ya.

Liburan Dimulai

Sudah cukup lama saya gak liburan. Akhirnya saya coba pm kakak cp( contact person ) yang kebetulan saya kenal, namanya bang Deby. Niatnya mau nanya dulu apakah slot masih tersedia. Masih galau soalnya ikut atau nggak. Setelah japri, langsung dimasukkan ke dalam grup chat. Akhirnya saya fix ikut deh ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Ini pengalaman pertama saya ikutan trip nginep sama Backpacker Jakarta. Nggak kebayang, jalan-jalan sama orang baru, ke tempat yang baru pertama kali dikunjungi.

Cara Pergi Ke Pelabuhan Kali Adem

Pagi-pagi kami janjian di Pelabuhan Kali Adem, dekat Muara Angke. Dari rumah ke meeting point ongkos ditanggung masing-masing ya. Karena janjiannya pagi dan belum pernah ke Pelabuhan Kali Adem akhirnya saya memutuskan naik grab car. Dari arah Tanah Abang ke Pelabuhan Kali Adem kira-kira 40ribuan. Ada sedikit drama saat naik grab car. Drivernya ngga tahu lokasi penjemputan, jadi saya menunggu agak lama. Mungkin sekitar 15 menit. Ditambah lagi pada saat menuju ke sana, driver nya kehabisan bensin. Jadi kita isi bensin dulu di pom bensin arah Pluit, dan itu rame banget. Dari kejauhan saya lihat antriannya panjang, waktu udah menunjukkan pk 06.39 , janjiannya pk 07.00 keburu nggak ya? Antri bensin memakan waktu 20 menit. Saya langsung meminta drivernya ngebut untuk sampai ke tujuan. Kalau ditinggal uang hangus masalahnya. Nggak pake acara tunggu-tungguan.

Sebenarnya kalau mau ke Pelabuhan Kali Adem bisa pake trans jakarta. Pertama naik kendaraan ke halte trans jakarta stasiun kota, nanti naik yang jurusan kali adem. Ada bisnya kecil gitu, dan turun persis di depan loket pelabuhan Kali Adem. Cara kedua, bisa dari grogol. Kalau kalian tahu roxy square, nah sering lewat tuh angkot merah namanya B01 jurusan Muara Angke. Tapi angkot ini ga persis turun di pelabuhan Kali Adem, kita harus jalan lagi ke dalam.

Pengalaman Naik Kapal Ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Akhirnya sampai juga di pelabuhan Kali Adem. Ternyata kapal kami berangkat jam 8nan, saya sampai pelabuhan kira-kira pk 07.40 . Di sana ramai sekali orang yang ingin berakhir pekan ke pulau yang ada di dekat Jakarta. Ada banyak pulau seperti pulau pari, pulau tidung, pulau harapan, pulau pramuka dll. Harga kapal biasa hanya 45ribu, perjalanan yang harus kami tempuh kira-kira 2.5 jam. Kalau naik kapal cepat, hanya butuh 1 jam saja, harga tiket kapalnya 150ribu. Buat yang nggak kuat mabuk laut, persiapan sebelum naik kapal minumlah antimo. Yang namanya kapal 45 ribu, tempat duduk ala kadarnya. Panas, sudah pasti. Tapi ketika kapal sudah berjalan, angin semilir masuk dan aroma laut tercium. Aroma liburan sudah datang! Jangan lupa pakai life jacket, karena penting. Antisipasi aja kalau ada apa-apa.

Sun Block Penting Kalau Liburan Ke Pantai

Sesampai di sana, kami berjalan kaki lumayan jauh kira-kira 10 menit ke penginapan. Kami sampai sekitar pk 11.30. Perut sudah lapar tapi badan lelah. Ingin rasanya rebahan di kasur dan tidur siang. Kami disambut welcome drink, jus jeruk. Lumayan lah menyegarkan di tengah teriknya matahari. Setelah istirahat sebentar, akhirnya makan siang. Menunya ayam rendang dan sayur asem. Setelah selesai makan, mulailah saya menyiapkan diri. Mengoles seluruh badan dengan sun block. Bukannya nggak kepengen hitam, tapi pedihnya kulit terbakar itu bisa berhari-hari. Lebih baik saya pake sunblock daripada harus menahan pedih beberapa hari.

Saya menyewa alat snorkling dan sepatu katak sebesar 35 ribu untuk sepeda 20 ribu. Ini di luar sharing cost tadi ya. Kalau di sana, nggak pake sepeda rasanya capek kemana-mana jalan kaki. Tapi, sepeda di sana kurang terawat sih menurutku. Kurang dikasih oli, jadi lumayan pake tenaga juga gowes sepedanya, pegel-pegel euy. Tapi daripada capek jalan kaki, naik sepeda aja lah. Akhirnya saya naik sepeda bawa sepatu katak, alat snorkling, plastik isi cemilan dan sunblock, sama lifejacket. Lalu sepeda kita parkirkan dekat perahu dan jalan kaki sedikit ke pelabuhan kecil.

Pengalaman Snorkling Pertama Sampai Patahin Tangga Kapal

Kapal yang kita naiki ini kapal kecil. Mungkin kapal yang bisa dinaiki 20-30 an orang lah. Sewa kapal kata kak Deby itu 700 ribu. Tapi saya tidak perlu bayar lagi, karena ini sudah termasuk sharing cost. Pemanasan sebelum snorkling sangat penting, untuk mencegah kram. Oh ya kalau sudah lama tidak pakai sepatu katak lebih baik tidak coba pakai. Kenapa? Kaki bisa kram. Dan betul saja, saat nyebur ke laut kaki mendadak kram. Di luar perkiraan saya, secepat itu kramnya. Akhirnya saya mencoba melipir ke pinggir kapal, berusaha naik, karena mendadak perut saya dan tangan saya ikutan kram. Berusaha tidak panik saya mencari tangga kapal. Niatnya sih ingin naik. Sepatu katak saya lempar ke dalam kapal. Berenang di kolam renang dan di laut sangatlah berbeda. Ombak yang besar membuat saya sedikit panik.

Akhirnya saya menaiki tangga, Tangganya apa kuat ya menahan bobot saya yang besar ini?  Betul saja. Kreeeeekkkk. Tangganya patah. Otomatis badan saya terjun ke bawah laut, mungkin tenggelam sampai kira-kira 2 meter. Lalu saya berusaha berenang ke atas dan mencari sesuatu yang bisa saya pegang. Saat tangga patah orang-orang teriak histeris. Bang Deby melemparkan lifejacket untuk saya pakai agar tidak kelelahan mengambang di atas air. Singkat cerita, dengan bantuan orang sekapal, akhirnya saya bisa naik ke atas kapal. Saya hanya duduk di dalam kapal melihat teman-teman snorkling. Takut kram lagi saat naik, jadi daripada ambil resiko lebih baik diam di dalam kapal dan menikmati semilir angin laut.

Jackpot

Di atas kapal saya lihat beberapa teman saya mabuk laut. Mungkin karena tidak terbiasa naik kapal. Beberapa kali jackpot dan akhirnya rebahan istirahat. Bagi kalian yang mabuk laut, sebaiknya muntahkan saja apa yang ada di perut, tapi jangan minum air setelah muntah, karena air memicu muntah lagi. Boleh minum, tapi kira-kira 1 sendok setiap 30 menit. Bila muntah terus-menerus tubuh kita bisa dehidrasi.

Sunset Jembatan Cinta Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Setelah puas snorkling, kami mengejar sunset di jembatan cinta. Entah kenapa dinamakan demikian, tapi saya senang, karena saya bisa main air di pantai. Saya duduk di pantai, memandang sunset dan bermain pasir. Duduk di pinggiran pantai, sambil terkena deburan ombak. Hangat. Menyenangkan. Perasaan itu yang saya kenang.

Banyak orang yang ke jembatan cinta dan melompat dari atas jembatan ke dasar laut. Jujur sih pengen ikutan lompat juga, cuma takut. Ya takut kram lagi, jadi nggak ikutan lompat deh. Hehehe.

Malam Perpisahan

Saatnya mandi, setelah badan lengket dan penuh pasir. Ternyata… airnya tidak seperti di Jakarta. Air yang ada di Pulau Tidung adalah air payau. Sambil menunggu BBQ, kami duduk di pinggir pantai sambil nyanyi dengan gitar. Ah! Rasanya ingin belajar main gitar jadi puas nyanyi sendiri.  Saatnya makan malam. Makan ikan bakar, sosis bakar dan sayur sop. Setelah itu kami saling berkenalan dan memberikan kesan terhadap liburan kami yang singkat ini. Lalu kami pergi tidur.

Saat sampai di kamar, sudah lelah sekali. Bawaannya pengen tidur banget. Perlu digarisbawahi, kami sharing cost ber 20. Jadi kami sewa 2 kamar home stay. Dalam 1 kamar tidur sekitar 10 orang per kamar. 1 kamar homestay ada 2 ruangan. Ruang dalam dan ruang tamu. Jadi ada 5 orang di ruang dalam dan 5 orang di ruang luar. Kasurnya ada dua di ruang dalam dan ruang luar. Yang penting nyaman lah buat tidur. Harga sewa homestay 350 ribu per malam.

Jakarta,I’m Back!

Keesokan harinya, banyak yang bangun pagi dan mengejar sunrise. Saya sendiri masih tepar dan tidur di kasur. Baru terbangun saat pk 09.00, kesiangan. Bangun tidur langsung bergegas sarapan, cari makanan di depan homestay. Pesan indomie goreng pake bakso, harganya 20 ribu. Lalu segera balik dan bersiap kembali ke Jakarta.

Pk 10.00 kapal kami akan berangkat dari Pelabuhan di Pulau Tidung. Kami sudah ada di pelabuhan dari pk 09.30. Kapal cepat sekali terisi penuh, jadi kalau bisa datang lebih cepat agar dapat tempat duduk yang nyaman. Perjalanan kembali ke pelabuhan Kali Adem membutuhkan waktu kira-kira 2.5 jam.

Untuk yang mau lebih hemat lagi, bisa aja bawa alat camp, dan camping di dekat pantai. Setahuku kemarin lewat ada lokasi khusus untuk camping. Demikianlah kisah perjalananku ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu, semoga bisa mendapatkan pencerahan seputar liburan di Pulau Tidung.

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.