Selamat Jalan Kak Yunita

Ini kali pertama saya kehilangan seorang teman. Namanya kak Yunita, salah seorang blogger, guru, penikmati sastra, dan suka nonton film. Saya ingat pertama kali ketemu di taman, saat itu ada acara kopdar di sana beberapa tahun yang lalu. Kami tidak dekat sebelumnya, namun suatu saat kami menjadi salah satu pengurus di komunitas blogger. Kami jadi intens bertemu dan di situlah pertemanan kami dimulai.

Sebuah pesan di grup whatsapp mengabarkan bahwa kak Yun masuk rumah sakit. Kondisinya kritis. Keesokan sorenya saya mencoba membesuk, namun tirai keburu ditutup. Saya terlambat. Saya melihat beberapa teman meninggalkan ruangan dengan mata sembab. Sepanjang jalan saya berdoa untuk kebaikan beliau, namun Tuhan berkehendak lain. Satu hari menjelang hari ulang tahunnya beliau meninggalkan kita semua.

selamat jalan kak yunita

Kak Yun terimakasih sudah menjadi teman curhat ketika saya galau atau sedih. Terimakasih sudah menjadi orang yang menawarkan bantuan ketika saya sedang susah. Terimakasih untuk traktiran kopi, makanan, karaoke, dan banyak hal lainnya. Kakak adalah orang yang paling baik dan tulus yang pernah saya kenal.

selamat jalan kak yunita

Kak Yun, Minggu 22 Februari 2020 yang lalu kita masih sempat bertemu. Saya masih tidak menyangka itu adalah kecupan perpisahan terakhir denganmu. Entah kenapa hari itu saya ingin sekali datang bertemu. Padahal ada banyak hambatan menuju ke sana. Mungkin itu adalah tanda dari Tuhan agar kita bisa bertemu sebelum dirimu dipanggil Tuhan.

Kak Yun, saya rindu chatt halu mengenai gebetanmu, atau kisah-kisah asmara kamu di masa lalu. Ngobrol dan nginep sampai larut malam. Saya rindu ngeledekin kamu seperti trip Dilan di Bandung. Kak Yun ada beberapa hal yang belum kita lakuin nih, guest post dan diet bareng. Tulisan ini aku dedikasikan untuk mengenang Kak Yun ya.

Kak Yun, saya datang ke rumahmu hari Minggu, saya melewati toko kue kesayangan kamu loh. Air mata langsung mengalir saat saya lewat situ. Kue putu ayu yang selalu kamu bawakan itu membuat saya ingat Kak Yun lagi. Saat datang, saya menyaksikan kerandamu dibawa ke mesjid dari kejauhan. Kak Nunik sahabatmu datang langsung memeluk dan menangis. Saya berusaha kuat, namun dalam hati kecil saya ingin menangis.

Saya melihat mobil ambulans mengantarmu ke pemakaman. Saya melambaikan tangan, mengucapkan selamat tinggal. Maaf Kak Yun saya tidak bisa mengantarmu ke pemakaman. Sepanjang jalan pulang air mata mengalir, tapi saya harus ikhlas. Kebaikanmu akan selalu dikenang. Selamat jalan Kak Yunita Tresnawati. Aku mengasihimu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

Kak Yun, nanti kita jumpa lagi ya. Di surgaNya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.