Pejuang Nakes Saat Pandemi Covid

Tidak pernah terbayangkan di benak saya bahwa dunia akan mengalami pandemi Covid 19. Masih teringat ketika awal-awal pandemi begitu sulit menemukan masker, hand sanitizer, dan vitamin. Kalaupun ada harganya cukup mahal. Jauh dari harga standard. Orang-orang begitu ketakutan akan tertular oleh Covid. Penyakit ini masalahnya pada saat itu belum ada obatnya dan penyebarannya cukup cepat.

Bulan demi bulan berlalu, saya pun tetap tinggal di rumah untuk menghindari penularan Covid. Saat itu orang di rumah, yaitu ayah saya masih rutin ke kantor. Ternyata di sana ada yang terinfeksi Covid. Akhirnya kami sekeluarga terinfeksi Covid juga. Kurangnya tenaga medis tidak bisa mengevakuasi kami sekeluarga untuk dirawat di RS. Akhirnya mau tidak mau kami naik kendaraan umum ke RS.

Taksi online yang saya pesan pun membatalkan berkali-kali karena takut tujuan kami sekeluarga ke rumah sakit. Akhirnya setelah bersabar menunggu ada taksi yang mengantarkan kami ke RS. Kondisi kami sekeluarga sudah mulai memburuk. Saat itu saturasi oksigen saya sudah di bawah 90. Suasana kota Jakarta mencekam saat itu. Banyak orang ketakutan akan Covid. Berita orang meninggal karena Covid dari teman pun mulai memenuhi WA.

Di RS ruang IGD sangat penuh, nampaknya RS kekurangan tenaga medis. Petugas sampai kewalahan karena pasien datang terus-menerus tiap jam. Ruang rawat juga penuh, butuh waktu 2 hari di ruang IGD bagi saya dan keluarga untuk mendapatkan kamar. Saya dirawat sekitar 11 hari di rumah sakit. Ayah saya dirawat 16 hari di RS.

Perjuangan nakes sangatlah penting di situasi genting seperti ini. Saya sangat mengapresiasi nakes Indonesia yang harus rela tidak pulang berbulan-bulan untuk bekerja di rumah sakit karena pandemi. Tidak sedikit nakes yang harus kehilangan nyawanya karena tertular Covid 19. Banyak dokter spesialis paru, dokter jaga, dan perawat yang meninggal karena Covid.

Belum lagi para nakes harus menggunakan hazmat yang dipakai berjam-jam. Dengan pakaian berlapis-lapis, kebayang sih ribetnya kalau mau pipis atau makan. Harus benar-benar bersih agar tidak tertular oleh virus Covid.

Saya sangat salut dengan salah satu penerima apresiasi Satu Indonesia Award 2020. Sebagai seorang lulusan keperawatan yang menunggu wisuda, beliau terpanggil hatinya untuk menjadi relawan saat Covid melanda. Saat itu dibutuhkan perawat yang bisa menyetir ambulans untuk menjadi relawan di Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia ( HIPGABI ). Pekerjaan ini sangatlah beresiko. Namun Ika Dewi Maharani tetap dengan keyakinannya untuk mengemban tugas kemanusiaan menjalankan tugas.

Pasien yang dijemput Ika merupakan pasien positif Covid dengan tanpa gejala ( OTG ), gejala ringan, maupun sedang. Ika sangat rentan terinfeksi virus Covid karena tiap hari berinteraksi dengan pasien, namun semua tetap dijalaninya dengan tekun. Selama 4 bulan sudah ada puluhan pasien yang berhasil diantar oleh Ika.

Perjuangan Ika patut diapresiasi karena tidak semua orang berani untuk mengambil resiko demikian. Berbulan-bulan juga Ika tidak dapat bertemu keluarga karena tugas yang dijalaninya. Ika berikrar selama tenaga dan jasanya masih dibutuhkan untuk membantu sesama, dia akan terus mengabdikan dirinya untuk masyarakat.

Saat ini, tahun 2023 Indonesia sudah keluar dari status pandemi Covid. Syukur puji Tuhan badai ini sudah berlalu. Vaksin pun sudah diberikan kepada masyarakat sehingga daya tahan tubuhnya dapat menghadapi virus Covid. Masyarakat sudah bebas bepergian dan tidak perlu di isolasi diri di rumah. Masker pun menjadi tidak wajib digunakan. Terimakasih nakes Indonesia yang sudah menjadi garda terdepan di situasi sulit saat pandemi Covid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.