Flashback : Dari Door to Door, Forum Jual Beli , Lalu Market Place

Sedari kecil saya sangat suka dengan dunia bisnis. Saya selalu ikut mama saya pergi ke Pasar Pagi Mangga Dua, Pasar Jatinegara, Tanah Abang, Asemka, Pasar Pagi. Pada awalnya memang terpaksa, karena tidak ada yang menjaga saya di rumah. Kakak saya pulang sekolah di sore hari, karena masuk sekolah siang, papa saya kerja dan sering pulang malam. Kadang dinas keluar kota. Akhirnya saya mau tidak mau saya yang masih kecil itu harus ikut mama pergi keliling belanja. Lebih sering disuruh bawa barang dagangan sih. Hahaha. Kalau liburan sekolah saya menemani mama saya jualan di pasar kecil dekat tanah abang. Namanya Pasar Thomas. Letaknya di Cideng Timur arah ke Tanah Abang, samping SPBU Cideng.

Terbiasa menerima uang dan melayani pembeli membuat saya ingin mencoba berjualan juga. Waktu itu saya masih kelas 4 SD. Jualan pertama saya adalah penggaris plastik. Saya masih ingat harga penggaris itu adalah 500 rupiah. Saya mau menjual ke tetangga saya yang seumuran dengan saya. Saya jual dengan harga 1000 rupiah. Tapi ya namanya anak kecil, polos aja gitu. Uang belum dikasih tapi barang sudah dikasih. Akhirnya teman saya itu tidak membayar penggaris yang sudah dia ambil. Malah dibalikin ke saya dengan kondisi rusak. Sedih sih. Tapi ya namanya anak kecil, habis dijahatin besoknya main lagi.

Lalu saat menemani mami lagi untuk kesekian kalinya, saya menemukan mainan yang sangat menarik. Kalau sekarang mungkin mirip kaya slime, tapi kalau dulu itu kaya ingus gitu, kenyal-kenyal dan sangat lembek. Dalamnya isi mainan dari silikon seperti potongan jari, mata, telinga. Mainan ini laku keras karena nggak ada yang jual di rumah. Lama-lama anak-anak dekat rumah mulai kenal saya sebagai bandar mainan. Mulai dari organizer, tamiya, mainan prank, gantungan kunci. Lumayan untungnya nambahin duit jajan.

Saya dulu pernah jualan di sekolah. Tapi sayangnya, sekolah tidak mengijinkan saya buka lapak di kelas saat jam istirahat. Ketika memasuki SMP saya menghentikan aktivitas berjualan. Selain karena tidak boleh jualan juga, saya masuk SMP favorit di Jakarta. Saya harus fokus sekolah, ikut les tambahan. Memasuki SMA saya tidak jualan apapun. SMA saya disibukkan dengan kegiatan organisasi seperti OSIS dan ekstrakurikuler PMR.

Kuliah adalah awal saya mencoba mempelajari bisnis. Mulai dari bisnis MLM Sophie Martin, Oriflame, jualan pulsa, saya coba semua. Yang paling sedih sih saat jualan pulsa. Untungnya 1000-2000 tapi yang ngutang bisa bulanan bayarnya. Cash flow keuangan jualan pulsa berantakan. Dari situ saya belajar, jangan ngutangin customer kalau nggak jelas bayarnya kapan. Waktu itu, papa punya teman seorang importir aksesoris Natal di Jakarta. Saya mengajukan diri untuk menjual aksesoris Natal itu. Dengan bermodalkan kepercayaan, saya coba minta sample, lalu keliling ke toko buku rohani yang ada di Jakarta menawarkan aksesoris tersebut. Dari sekian banyak toko, yang memiliki antusias baik adalah Toko Buku Immanuel. Tapi sayangnya, mereka tidak ingin membeli putus, maunya menjual dengan sistem konsinyasi. Akhirnya saya infokan ke teman papa tersebut, dan barang dikirim ke Toko Buku. Puji Tuhan laku cuma satu item. Profitnya tidak seberapa, tapi pengalaman luar biasa jadi sales door to door itu priceless dari situ saya belajar apa artinya penolakan ketika menjual. Kalau tidak salah umur saya sekitar 18 atau 19 tahun saat itu. Saat itu saya pertama kali mengenal pemasaran online. Saya lumayan banyak masuk ke mailing list seperti yahoo dan post iklan di koran baris online. Lumayan banyak yang menghubungi ingin beli, namun sayangnya yang menjual pohon Natal dan aksesorisnya itu telah meninggal dunia. Saya tidak bisa menjual lagi.

Lalu mulailah saya mengenal forum jual beli kaskus. Di situ saya menjual mula-mula kaos doraemon. Jual handphone, jual modem, aksesoris komputer, lalu paket data internet. Dari sistem stok ecer sedikit, dropship dan menjadi agen yang mendistribusikan ke daerah-daerah sudah pernah saya coba. Ada pelajaran yang saya dapat dari berjualan di kaskus ini. Pertama, respon pelanggan harus cepat. Kedua, kumpulkan reputasi agar dipercaya oleh calon pelanggan berikutnya. Cara mengumpulkan reputasi bisa dengan meminta pelanggan memberikan testimonial atau bukti barang sudah diterima. Ketiga, jualah produk yang memang ada peminatnya. Kesalahan saya saat menjual kaos doraemon adalah saya melihat dari kacamata saya sendiri bukan dari permintaan pasar. Saya suka dengan produk doraemon, tapi pasar belum tentu suka dengan selera saya. Kesalahan fatal ini membuat stok kaos saya tidak laku dan menanggung kerugian.

Setelah iklan di kaskus berjalan cukup baik, saya mulai membuka toko di Tokopedia dan Bukalapak. Marketplace itu ibarat pasar grosir. Siapapun bisa menjual di sana, dengan harga serendah-rendahnya. Oleh sebab itu, bila ingin berjualan di marketplace harus siap dengan perang harga. Kalau memang tidak siap dengan hal itu, milikilah brand sendiri dan Anda bisa keluar dari perang harga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.