Yang Paling Saya Sebal Dari Musim Kemarau : Biang Keringat

Beberapa bulan belakangan ini, musim kemarau sedang terjadi di Jakarta. Di musim seperti ini musuh yang paling saya sebelin itu biang keringat. Ketika badan keringetan karena suhu udara yang panas, rasanya itu gatel dan pedih banget kulit. Biasanya daerah yang sering terkena biang keringat di tubuh saya yaitu bagian leher dan lekukan tubuh seperti lekukan siku atau ketiak.

Pertama kali kena biang keringat itu saat masih kecil. Mungkin sekitar TK A atau TK B. Yang jelas saat saya masih di bangku taman kanak-kanak. Sebagai seorang anak kecil yang aktif dan suka main lari-larian saya pun sering kali berkeringat. Belum lagi kalau terpapar sinar matahari pada saat siang hari. Leher saya banyak bintik-bintik merah dan kata mama saya itu disebut keringet buntet. Maklum orang jawa, namun setelah saya beranjak dewasa saya mulai mengerti itu namanya biang keringat.

Dari kecil ketika saya terkena biang keringat, mama selalu rutin memberikan lotion khusus biang keringat di bagian leher. Rasanya enak sekali, dingin dingin gitu. Gatalnya pun berkurang banyak. Kadang sesekali diberi bedak talc untuk mengobati biang keringat.

Kita itu tinggal di negara tropis, pastinya akan selalu terpapar sinar matahari saat musim kemarau. Jadi supaya biang keringatnya nggak muncul, sering-sering mandi deh. Badan jadi seger. Terus pakai pakaian yang adem supaya nggak gampang keringetan. Baju yang dipilih haruslah yang menyerap keringat. Hindari baju yang panas dan bikin keringetan.

Kata dokter, biang keringat sebaiknya tidak digaruk. Bener juga sih, soalnya kalau digaruk nanti kulitnya luka dan infeksi. Terus nanti kalau sudah infeksi jadi luka dan bekas lukanya berbekas dan kulit kita jadi ada bekas luka. Jadi saya selalu tahan-tahan ini jari supaya nggak garuk biang keringat saat gatal banget.

Pengalaman biang keringat saya yang lain yaitu pada saat saya dirawat di rumah sakit dan harus rawat inap selama seminggu. Setelah sekitar 1 minggu saya sakit di rumah, akhirnya saya memutuskan untuk berobat ke rumah sakit. Di sini saya dirawat sekitar 1 minggu juga. Saat saya lama tidur di rumah sakit, punggung saya mulai gatal-gatal dan pedih. Beberapa hari kemudian, biang keringat ini makin lama makin mengganggu. Saya merasa tidak nyaman bila tiduran. Geser kanan, geser ke kiri, tengkurep, pokoknya segala macam cara sudah dilakukan. Hasilnya tetap punggung rasanya nggak nyaman.

Saat kondisi punggung biang keringat seperti itu, seorang suster yang baik hati yang sedang merawat saya memberikan masukan. Untuk menghilangkan rasa gatal karena biang keringat, sebaiknya dioleskan minyak kelapa. Bingung mencari dimana, untungnya pihak rumah sakit menyediakan minyak kelapa.

Hanya dalam waktu 1-2 hari biang keringat saya pun hilang. Ternyata ampuh banget ini minyak kelapanya. Dokter yang merawat saya menjelaskan, punggung saya terkena biang keringat dikarenakan saya terlalu lama tiduran sehingga punggung saya berkeringat. Sayangnya ketika punggung saya ini berkeringat, saya berbaring terus di ranjang. Tidak ada sirkulasi di punggung menyebabkan saya terkena biang keringat. Waktu itu juga posisi saya demam, jadi banyak mengeluarkan keringat setelah minum obat pereda demam. Jadi dokter menyarankan agar saya sering mengganti baju ketika sudah basah karena keringat.

Pastikan ketika sedang pergi keluar rumah untuk selalu membawa tissue. Jadi ketika badan sudah keringetan bisa dikeringkan menggunakan tissue. Pakai tabir surya ketika sedang jalan keluar dan menggunakan baju yang menyerap keringat. Semoga informasi ini bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.