Talk Show Wedding Batak Exhibition 2024 : Harta, Tahta, Wanita

Indonesia memiliki berbagai macam suku yang ada dari Sabang hingga Merauke, salah satunya suku Batak. Saya memiliki teman juga yang kebetulan campuran dari Tionghoa dan Batak. Kebetulan teman ini adalah teman kuliah saya dulu. Teman saya bercerita bahwa bila orang dari etnis lain ingin menikahi orang dari suku Batak maka diperlukan membeli marga agar bisa dilangsungkan pernikahan secara adat. Teman saya pun bercerita kalau ayahnya yang etnis Tionghoa diangkat anak dari suku Batak yang bermarga Silaen. Akhirnya ayah dan ibunya bisa dinikahkan secara adat dengan adat dari Batak.

Budaya Batak sendiri tentunya sangat kaya dan unik. Jika kita membahas lebih dalam mengenai budaya Batak, tentunya budaya Batak ini menganut paham Patriarki.

Apa Itu Patriarki?

Patriarki merupakan sistem yang ada di suatu budaya tertentu yang dimana laki-laki memiliki kekuasaan lebih besar dibandingkan perempuan. Dalam konteks keluarga, laki-laki dianggap memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan. Nama keluarga juga diteruskan dari keturunan laki-laki, sedangkan perempuan tidak berhak meneruskan nama marga dari ayahnya.

Dalam adat Batak, sistem patriarki sangatlah kental. Mari kita lihat beberapa aspek sistem patriarki yang diterapkan dalam suku Batak.

Dalihan Na Tolu

Sistem kekerabatan ini menempatkan pria sebagai pemimpin dalam marga. Perempuan biasanya mengikuti marga dari suaminya.

Warisan

Untuk penerima warisan jatuh ke tangan anak laki-laki. Secara adat, perempuan tidak berhak dalam warisan orang tua.

Peran dalam keluarga

Dalam budaya suku Batak, perempuan diharuskan mengurus rumah tangga dan keluarga. Sedangkan laki-laki fokus mengurus hal yang di luar rumah tangga.

Kenapa Patriarki Dalam Suku Batak Tetap Ada?

Budaya patriarki dalam suku Batak sudah menjadi tradisi selama ratusan tahun. Adat istiadat yang sudah turun-temurun ini sulit diubah dalam waktu yang singkat. Dari sisi nilai-nilai sosial, suku Batak sangat menghargai hierarki dan otoritas. Laki-laki dianggap sebagai pemimpin merupakan hal yang wajar. Agama juga berpengaruh dalam budaya patriarki yang ada di suku Batak.

Dampak Negatif Dari Patriarki

Sistem patriarki tentunya memiliki dampak negatif terhadap perempuan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Keterbatasan Pilihan

Perempuan yang berada di dalam keluarga patriarki biasanya memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan, memilih pekerjaan dan pasangan hidup.

Diskriminasi

Perempuan juga sering mendapatkan diskriminasi di dalam berbagai aspek kehidupan, dianggap lebih tidak kompeten daripada laki-laki.

Kekerasan Domestik

Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dan dialami oleh perempuan karena adanya ketidaksetaraan gender.

Talk Show Harta, Tahta, Wanita. Budaya Patriarki Dalam Suku Batak

wedding batak exhibition 2024

Dalam talkshow yang diadakan di SMESCO pada Wedding Batak Exhibition yang bertema Harta, Tahta dan Wanita yang dibawakan oleh Ina Rachman S.H., M.Hum membahas tentang budaya patriarki yang ada pada suku Batak. Dalam talk show tersebut Ibu Ina Rachman menekankan bahwa budaya Batak didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut juga termasuk dalam soal warisan. Pada dasarnya ada 3 pilihan untuk membagi warisan dalam suku Batak. Yang pertama membagi warisan berdasarkan hukum Islam jika memang beragama Islam. Yang kedua membagi warisan berdasarkan adat, dan yang terakhir membagi warisan berdasarkan hukum positif. Intinya ketiganya bisa dilakukan selama ada kesepakatan dari seluruh ahli waris.

Sayangnya bila warisan dibagi berdasarkan hukum adat, anak perempuan tidak memiliki hak atas warisan orang tuanya. Namun seiring perkembangan jaman, saat ini anak perempuan bisa mendapatkan bagian dari warisan karena kasih sayang dari pemberi warisan. Selama tidak ada ahli waris yang keberatan akan hal tersebut maka hal itu sah.

Orang yang mendapatkan marga karena diangkat oleh marga tertentu atau istilahnya beli marga, juga berhak mendapatkan warisan sesuai adat. Hal ini dikarenakan orang tersebut sudah sah diakui secara adat menjadi bagian dari anggota keluarga marga tersebut.

Wedding Batak Exhibition 2024

Wedding Batak Exhibition 2024 merupakan acara budaya Batak yang pertama kali digelar di Indonesia yang mempromosikan budaya Batak secara khusus. Hongkia Doni Silalahi sebagai Program Director WBE menyampaikan acara ini menampilkan talkshow dan dimeriahkan juga dengan adanya fashion show, hiburan musik, pameran budaya dari Sumatra Utara, dan tenant-tenant dari UKM.

Wedding Batak Exhibition diadakan untuk mempertemukan antara vendor dan calon pengantin yang bertemakan budaya Batak maupun nasional. Menurut Ibu Martha Simanjuntak Project Director dari WBE dan juga founder IWITA, acara ini lebih dari sekedar pameran. Wedding Batak Exhibition ini juga sebagai sarana untuk memberikan ruang bagi talenta muda menampilkan bakat dalam fashion, musik,kompetisi make up artist dan tarian adat.

baju adat suku batak

Suku Batak memiliki 5 sub etnis antara lain Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Mandailing, Simalungun. Penari yang menari di acara pembukaan menggunakan pakaian adat yang mewakili 5 sub etnis tersebut. Di acara Wedding Batak Expo kali ini kita diperkenalkan dengan keragaman tradisi pernikahan adat Batak yang unik dan beragam.

Acara Wedding Batak Exhibition ini digelar oleh Helaparumaen dan Chataulos. Organisasi ini memiliki dedikasi melestarikan budaya Batak dan mempromosikannya. Kedua organisasi ini juga memiliki komitmen yang kuat untuk menyediakan platform bagi masyarakat Batak dan masyarakat luas untuk belajar, menghargai, dan merayakan budaya dan tradisi Batak. Dukung terus budaya Indonesia yang beragam, Wonderful Indonesia! Enjoy Jakarta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.