Review Fim Dilan 1990

tiket nonton Dilan 1990 di TIM
tiket nonton Dilan 1990 di TIM

Akhirnya setelah beberapa tahun denger novel Dilan yang ngehits di kalangan anak muda, nonton juga film yang diangkat dari novel ini. Jujur secara pribadi saya belum pernah baca novelnya. Mungkin habis ini akan baca novelnya. Yang spesial dari karcis ini adalah pertama kalinya saya menonton film Indonesia di bioskop, dan itu film Dilan. Sekitar 2 jutaan penonton dalam waktu hampir 2 minggu. Sangat wow untuk film Indonesia!

dilan 1990 poster
dilan 1990 poster

Baiklah, sekarang waktunya untuk review film ini. Dari saya sendiri film ini 8/10. Banyak berita yang muncul di portal berita, netizen tidak suka Iqbal Rahman ex Coboy Junior main sebagai Dilan. Katanya nggak ada tampang bad boy. Iqbal terlalu cute untuk karakter Dilan. Pas itu saya pun nggak tahu mukanya seperti apa Iqbal, tapi pas lihat, alamak manis sekali ini bocah….. hahaha…. Pantas netizen pada kejam komentarnya. Iqbal sendiri di dalam memerankan Dilan sudah cukup baik dan menghayati. Chemistry dengan sosok Milea, yang diperankan Vanesha sangat terlihat, entahlah saya melihat sosok matanya seperti orang yang sedang jatuh cinta, apa iya mereka cinlok? Kisah cinta yang ringan, menggelitik, dan menggemaskan ini bikin saya senyum-senyum sendiri, seolah saya sendiri yang sedang dirayu sama Dilan. “Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu, tidak tahu kalau sore, tunggu saja.” Salah satu kalimat yang bikin saya tersenyum simpul sama seperti Milea ketika digombalin seperti itu. Untuk bagian art nya, keren. Sangat detail menampilkan nuansa tahun 90 an, mulai dari majalah Hai, poster yang ada di kamar Dilan, perabotan rumah Milea, dan yang nggak kalah kerennya adalah motor si Jendral Perang, Dilan. Di awal film, sosok Dilan menyapa Milea dengan “nyeleneh”. Masa nyapa cewe pake ramalan? hahaha. Dilan meramal akan bertemu Milea di kantin nanti. Cara yang out of the box untuk anak SMA jaman itu. Meskipun awalnya percakapan terlihat kaku, tapi lama – lama saya bisa menikmati percakapan bahasa baku di film Dilan 1990. Ada adegan perkelahian di film ini, yang saya takutkan untuk anak remaja jaman now adalah mereka mengikuti tren tersebut. Berantem antar sekolah. Semoga apa yang saya takutkan salah ya. Teman-teman saya pun bergosip karena efek film Dilan, anak sekolah jaman now kembali ke model tempo dulu, celana panjang model cutbray. Oh ya, saya juga nonton Dilan di balik layar. Tokoh Milea ini ditampar beneran sama si Anhar, ada mungkin sekitar 6 kali diulang adegan tamparnya, dan Vanesha yang memerankan tokoh Milea menangis beneran. Kasihan sih, tapi nangisnya jadi natural karena dia sakit, oh ya dan dia setelah ditampar berkali-kali kupingnya berdenging, tapi sudah sembuh sih.

Konflik yang ada di dalam film ini masih relevan dengan romansa anak muda jaman sekarang. Seperti misalnya hubungan LDR ( Long Distance Relationship) yang dijalankan oleh Milea dan kekasihnya Boni, drama pertengkaran dan salah paham dari hubungan LDR, sampai ada orang yang bisa membuat nyaman di saat kekasih LDR nun jauh di mata. Lalu konflik Dilan dengan gurunya yang berujung kepada diskorsnya Dilan karena berani memukul balik gurunya yang menampar, kegalauan saat sang gebetan ( Dilan ) tidak menelpon, over thinking cewek saat cowoknya menghilang. Semuanya konflik ini umum terjadi di percintaan remaja. Yang bikin saya bingung, ya di akhir filmnya aja sih, kaya gantung gitu aja, nggak jelas. Mungkin ya nyambungnya di film selanjutnya kali ya?

Sekian review kali ini. Tetap dukung perfilman Indonesia ya 🙂

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *