Pengalaman Terinfeksi Covid-19 Gejala Berat

Terinfeksi Covid-19 merupakan pengalaman paling tidak menyenangkan seumur hidup saya. Pandemi ini benar-benar menguras psikis dan fisik saya. Semua berawal dari vaksin covid-19 yang saya dapatkan di hari Jumat, 11 Juni 2021. Awalnya saya memutuskan untuk segera vaksin covid-19 karena saya merasa insecure dengan pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini. Gerakan saya terbatas karena Covid-19. Kemanapun dipenuhi ketakutan tertular.

Hidup selama 1,5 tahun dengan ketakutan tertular dan menularkan tidaklah menyenangkan. Saya memiliki orang tua yang memiliki riwayat komorbid. Jika saya tertular dan menularkan mereka akan sangat riskan sekali. Puji Tuhan mereka mendapatkan vaksin Sinovac di bulan April. Saya sedikit lega, namun masih was was kapan giliran saya vaksin. Saya memiliki komorbid, jika saya terkena covid, maka gejalanya bisa fatal. Oleh sebab itulah saya memutuskan untuk vaksin segera.

Pasca vaksin dengan Astra Zenecca, saya tidak merasa apa-apa. Saya sempat naik motor ke Bekasi bersama teman saya sekedar makan all you can eat. Rasa sakit mulai berasa sekitar 1-2 hari kemudian. Lengan saya sakit ketika dipegang. Bekas suntikan bengkak. Badan mulai tidak fit. Saya sempat merasakan sakit di seluruh tubuh. Saya mulai banyak tidur untuk istirahat memulihkan kondisi saya pasca vaksin.

Selama beberapa hari terakhir papa dan kakak saya mengalami batuk-batuk. Hingga suatu ketika di hari Selasa atau Rabu kakak saya mengeluhkan demam. Badan saya pun demam! Suhu tubuh saya sekitar 38 derajat. Saya sudah curiga kakak saya kena covid. Saya menyarankan dia untuk menggunakan masker dan segera pergi ke dokter untuk swab antigen. Kami tinggal serumah. Di rumah tentunya kami berinteraksi dan menghirup udara di AC. Saya membatin, sudah pasti bakalan positif semua nih kalau begini jadinya.

Kabar buruk pun sesuai perkiraan saya. Kakak saya positif. Malam itu juga jam 21.30 saya mengajak papa mama untuk swab antigen. Kami bertiga swab antigen dan hasilnya reaktif. Dua garis merah menandakan kami positif covid. Hari pertama didiagnosa covid, obat segunung sudah diresepkan. Lumayan mahal juga, seorang sekitar 300 ribu hanya untuk obat saja. Belum lagi biaya dokter dan swab. Kira-kira per orang untuk obat, lab dan konsultasi habis 600 ribu.

Kami disarankan untuk isolasi mandiri karena gejalanya ringan. Benar sekali, hari-hari awal memang ringan. Kami minum obat, memberitahu RT bahwa kami positif covid sekeluarga. Lingkungan rumah kami heboh. Kami diperhatikan dan disarankan melakukan tes PCR di kecamatan secara gratis.

Sakit covid=harus keluar biaya ekstra. Kami harus membeli makanan lewat gofood. Beli obat-obatan. Beli kebutuhan sehari-hari tanpa keluar rumah lewat aplikasi online. Yang mulai drop pertama kali adalah papa saya. Suhu tubuhnya tinggi. Batuk terus – menerus. Dia melakukan PCR di saat demam tinggi. Saya tidak tega melihat papa saya pucat menunggu giliran PCR. Puji Tuhan, pegawainya baik banget, kami didahulukan.

Seperti yang sudah saya duga, kami positif covid melalui tes PCR. Papa awalnya ngga mau dirawat di RS. Keponakannya membujuk dia untuk segera dirawat. Namun karena covid ini sedang meningkat, di IGD papa saya tidak diperhatikan selama 12 jam jadi dia memutuskan pulang.

Kondisi kami semakin memburuk. Saya mulai merasakan lemas, sesak nafas dan batuk. Lagi-lagi papa menolak tawaran petugas kecamatan untuk dirawat karena trauma ditelantarkan di IGD. Untungnya saya punya oxymeter untuk mengecek saturasi oksigen. Alat ini saya beli untuk jaga-jaga. Saturasi oksigen kami di bawah 90. Sudah saatnya kami ke IGD dan mendapatkan perawatan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.