Apa Yang Saya Pelajari Dari Event Startup Amigo 2019

Beberapa waktu yang lalu saya ikut salah satu event yang diadakan oleh Telkom, namanya AMIGO Summit Innovation 2019. Ini merupakan event mengenai lomba startup dan update informasi terkini seputar startup dan teknologi. Saya sendiri ini orangnya interest sama dunia startup sejak jaman kuliah. Kebetulan saya mengambil jurusan Information System dan Management jadi hal-hal seputar startup sangat menarik. Saya sendiri pun pernah bekerja di salah satu perusahaan startup asal Singapura, jadi saya kurang lebih tahu lah bagaimana rasanya ada di lingkungan dunia startup.

Di seminar kali ini ada segmen menarik yang mengulas kegagalan dari para founder dan co-founder startup. Jadi segmen ini anti mainstream banget. Anak muda jaman sekarang pasti punya cita-cita ingin punya startup layaknya tokopedia, bukalapak, gojek. Startup unicorn ini memang luar biasa dengan nilai valuasi miliaran dollar dalam waktu kurang lebih 10 tahun. Namun, itu hanya segelintir startup yang sukses. Ada banyak banget startup yang tidak mampu bertahan di 5 tahun pertamanya.

Saya excited banget pas acara Amigo ini. Acaranya banyak dan bagus-bagus. Sampai bingung mau ikut seminar yang mana karena seminarnya pararel. Di acara ini saya melihat bagaimana cara startup ini pitching di depan investor. Menarik banget deh pokoknya. Banyak startup yang keren-keren idenya dan sudah monetize di Indonesia. Acara ini gratis dan saya tulis untuk merangkum apa yang sudah saya pelajari di sana.

Kisah Gagal Konsula

Salah satu founder yang berbagi kisah kegagalan kali ini adalah Johannes Ardiant. Konsula adalah startup pertama yang ditutup oleh Johannes. Sebelum memutuskan membuat startup Konsula, Johannes melihat ada 3 sektor yang menarik untuk dijadikan startup. Pertama adalah pendidikan, kedua logistik, ketiga adalah kesehatan. Namun akhirnya Johannes dan tim memutuskan untuk memilih sektor kesehatan sebagai startup nya.

Konsula merupakan sebuah startup kesehatan yang memiliki misi untuk memperbesar akses kesehatan bagi masyarakat. Konsula menyediakan direktori dokter online yang dapat diakses melalui Konsula.com di mana pengguna dapat mencari dokter terbaik yang sesuai dengan kondisi mereka, dan kemudian melakukan reservasi online dengan dokter yang ditemukan. Konsula juga menyediakan software manajemen praktik kedokteran online yang memungkinkan dokter dan pengelola fasilitas kesehatan untuk mengatur jadwal perjanjian dan mendigitalisasi data pasien. Software manajemen praktik ini dinamai Konsula Connect dan berisikan modul manajemen profil, modul manajemen appointment dan antrean, serta modul rekam medis elektronik.

Konsula didirikan pada Agustus 2015. Pada bulan Oktober 2015, Konsula mendapatkan pendanaan awal dari East Ventures. Intinya sih, startup Konsula itu mengkoneksikan antara pasien dan dokter. Seperti telemedicine gitu lah kalau dalam bahasa sederhananya.

Kenapa Konsula Gagal?

Johannes bercerita bahwa pengguna aplikasi Konsula memiliki tingkat retention yang rendah. Artinya penggunanya ini bukan pengguna yang loyal dan balik lagi untuk menggunakan aplikasi Konsula. Coba kamu bayangin, jika kamu download aplikasi namun aplikasinya gak penting-penting amat untuk memecahkan masalah kamu. Kira-kira bakalan dipertahanin gak? Jawabannya tentu tidak kan. Inilah yang dialami sama Konsula. Produk yang dibuat tidak ada yang menghasilkan.

Jadi sering banget nih ya founder dan co-founder menciptakan produk yang menurut dia ini keren banget, fiturnya ini itu banyak, canggih pokoknya. Tapi sebenarnya fitur yang dibuat itu belum tentu adalah fitur yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Oleh sebab itu ada yang namanya MVP ( minimum viable product ).

Minimum Viable Product

Apa sih MVP itu? Simplenya sih gini. Kamu mau pergi dari titik A ke titik B. Kamu bisa kan naik skateboard. Intinya kamu bisa kan pindah dari titik A ke titik B dengan kendaraan yang paling minim. Skateboard bisa menjawab kebutuhan kamu, tapi kalau ada mobil pasti lebih baik dong? Nah skateboard ini MVP. Jadi perusahaan startup itu seharusnya membuat produk yang baik dan diterima target pasar. Prioritasnya adalah, bagaimana supaya masalah yang dihadapi sama pengguna bisa terpecahkan oleh produk yang dibuat. Fokus utama startup saat melakukan MVP adalah menemukan value dari produk atau layanan yang dihadirkan. Konsumen tuh simple kok, cuma butuh aplikasi yang mudah digunakan sama berfungsi. Mereka nggak peduli teknologinya seperti apa, atau berapa banyak fitur yang dimiliki.

Peranan MVP di sini besar banget yaitu menangkap feedback dari konsumen. Dari feedback ini terlihat fitur mana yang tidak berguna, kurang dipahami, atau belum dibutuhkan konsumen. Kalau sudah, ya perusahaan tinggal fokus deh sama fitur yang memang bisa langsung membantu konsumen. MVP ini dibuat untuk memvalidasi masalah yang ada. Apakah masalah yang sebenarnya yang dihadapi oleh konsumen? Apakah produk kita adalah solusi untuk menjawab masalah si konsumen? Dua pertanyaan ini sangat krusial sehingga menentukan bagaimana masa depan produk dari perusahaan.

Keputusan Exit Strategy Yang Tepat

Selain itu Johannes mengingatkan bahwa founder dan co-founder harus menjaga visi dari perusahaan. Jadi kita nggak harus selalu mengikuti apa yang disuruh sama investor. Ketika kita merasa produk ini gagal, kita harus berbesar hati mengakui bahwa kita gagal dan segera mengakhiri bisnis. Selama masih ada uang, perusahaan startup bisa memulai bisnis baru. Tidak ada uang, tidak ada bisnis,artinya bangkrut. Di sini saya melihat Johannes pintar melihat peluang, jadi sebelum seluruh dana suntikan dari investor habis, dia sudah beralih ke bisnis barunya yaitu lemonillo. Tidak mudah bagi Johannes untuk mengakui bahwa Konsula gagal, namun keputusannya tepat karena Lemonillo hingga hari ini berjalan dengan baik. Nggak tahu deh 2-5 tahun mendatang. Semoga masih baik-baik saja.

Kisah Gagal Valadoo

Mungkin millenials jaman sekarang nggak pernah dengar apa itu valadoo. Kalau mau flashback ke 9 tahun yang lalu sih, valadoo ini salah satu startup awal yang berdiri di Indonesia. Jaman itu startup itu di Indonesia masih sedikit. Valadoo ini adalah travel agency dan belum ada kompetitor seperti traveloka atau tiket.com. Valadoo ini berdiri tahun 2010. Di tahun keduanya Valadoo mendapatkan pendanaan dari Wego, namun karena kurangnya strategi yang baik valadoo harus tutup di tahun 2015.

Valadoo ini awalnya mau duplikasi seperti situs yang sukses di USA Groupon. Ada beberapa kesalahan fatal yang dilakukan oleh Valadoo.

Copycat No Strategy

Kesalahan terbesarnya adalah, udah copycat Groupon, eh ga punya strategi. Selain itu valadoo ini tidak tahu produk yang ada di market. Valadoo tidak sadar dan tidak tahu bahwa ada orang lain yang mengerjakan hal yang sama.

No Competitor Analysis

Valadoo juga tidak melakukan competitor analysis, padahal saat itu sudah ada Disdus dan Living social. Kedua kompetitor ini sama persis menggunakan bisnis daily deals seperti groupon.

No Exit Strategy

Ini kasusnya agak beda sama konsula ya. Kalau konsula pas mau exit, dia bikin bisnis baru. Nah kalau si valadoo ini ya keluar tanpa strategi.

Produk Tidak Berdasar Market Oriented

Pas dengerin pembicaranya sih emang produknya ini agak ngga jelas ya.

Banyak Fasilitas Kantor Tidak Terpakai

Uang dari suntikan dana investor banyak banget terpakai untuk hal-hal yang ngga penting-penting amat.

Ego Founder dan Co-Founder

Yang namanya berbisnis dengan orang lain pasti akan ada saatnya beda pendapat. Tapi bila masing-masing mempertahankan egonya ya tidak akan ketemu jalan keluar karena semua merasa diri paling benar. Ini harus digaris bawahi ya guys. Semakin banyak kepala di dalam suatu bisnis akan semakin banyak konflik yang terjadi. Apalagi kalau ada investor yang masuk dan memiliki saham cukup besar dalam bisnis kamu. Pastinya keputusan kamu juga dipengaruhi sama investor.

Marketing Program Tidak Ada Konversi Yang Signifikan

Awalnya valadoo bekerja sama dengan malesbanget.com karena ingin menyasar anak muda namun strategi ini kurang efektif.

Merger Dengan Perusahaan Lain

Ini lumayan fatal sih. Pas denger ceritanya kadang sampai ngga habis pikir. Merger perusahaan lain ini cukup fatal. Jadi si valadoo ini ingin sistem marketing yang lebih efisien, jadi dia merger sama burufly. Aplikasi burufly ini mirip-mirip sama pinterest tapi khusus travel tanah air. Kebayang gak, si valadoo pake bahasa pemrograman drupal sedangkan si burufly ini pakai djanggo. Sederhananya, yang satu ngomong bahasa jawa, yang satu ngomong bahasa sunda. Kan roaming tuh kalau ngobrol. Kaya gitu lah, jadi perlu penyesuaian bahasa sehingga program merger ini dapat bekerja dengan baik. Pastinya butuh waktu, biaya, dan penyatuan tim kerja dari dua perusahaan yang berbeda. Pasti ada konflik dong.

Tidak Ada Positioning Produk

Yah intinya ga jelas deh produk valadoo. Mau daily deals juga, tapi merger sama aplikasi sejenis pinterest yang menurut saya sih keputusan diambil tanpa pemikiran yang matang.

Tim Yang Tidak Efektif

Terlalu banyak kepala yang mengatur, peleburan dua perusahaan menjadi satu pastinya menimbulkan konflik. Ketika di kantor pemimpinnya tidak bisa mengatur manajemen konflik dengan baik pastinya tim menjadi tidak efektif.

Denial

Founder dan Co-Founder ini denial pada diri sendiri dan merasa semuanya baik-baik saja dan masih bisa mengendalikan. Tidak terbuka terhadap coach dan investornya.

Kehabisan Uang

Ya, ini adalah kesalahan paling fatal. Ketika kita terus-menerus membakar uang untuk biaya promosi dan operasional sehingga tidak memiliki uang lagi maka selesailah sudah bisnisnya. Oleh sebab itu dari kisah gagal Valadoo yang dapat dipetik adalah jangan sampai kehabisan uang.

Artikel selanjutnya saya akan bercerita mengenai loket.com ,bagaimana CEO loket.com diberikan waktu 30 menit untuk memutuskan apakah mau berpartisipasi menjadi ticketing system pada ASEAN GAMES 2018 dan berdampak sangat besar terhadap bisnisnya. Stay tune ya!

29 comments

  1. Wuahhh bagusss bgttt..dan menambah pengetahuan bgttt.. Ttg manis pahitnya bisnis start up. Terima kasih helloinez.com. Ditunggu tulisan yg berikut nya..ttg loket.com =)
    Salam,
    GoAskes.com

  2. Jadi pengusaha nggak cuman harus siap sukses, namun disaat tidak sesuai dengan kenyataan yang dikehendaki, harus pinter-pinter juga atur strategi gimana caranya biar modal ga ludes.
    Keren yah kak. Selama ini yang kita tahu kebanyakan kisah mereka yang sukses saja.

    Makasih kak inez😊

  3. Thank you for sharing this valuable artikel ya, Kak. Menggapai mimpi, termasuk memiliki start up yg sukses, menang nggak mudah. Perlu kerja keras dan banyak aspek yang diperlukan. Semoga artikel kakak bisa menjadi referensi bagi siapa pun yg memerlukannya

  4. Sangat inspiratif. Ternyata dibalik kesuksesan mereka, ada proses yang gak mudah untuk mencapai semuanya. Satu lagi, ternyata mengembangkan startup ngga semudah yang dibayangkan, saya sendiri kalau aplikasi ojol bermasalah seringkali ngeluh dan menjelek-jelekkan perusahaannya.

  5. Wow, cerita anti mainstream nih. Justru kita belajar sama bisnis2 startup yg gagal, dan bagaimana strategi agar tidak ikut2an gagal seperti mereka..

  6. siapa tahu di masa depan nanti kepikiran buat mendirikan start up, sblmnya tuh taunya ya cari yg mau investasi di perusahaan kita aja. titik.
    wah ternyata tidak sesederhana itu, ferguso..
    makasi kak atas sharingnya

  7. wah.. mbanez ntar kalo mau bikin startup ajak2 aku ya.
    thank you buat artikel, jadi kebayang apa yg bisa dibayangin.

    bdw, aku sempet sekantor sama ceo nya, setelah dia dari valadoo. hihi.

  8. Startup mungkin lebih cocok buat para milenial. Berhubung saya bukan milenial pasti tergagap-gagap deng teknologi.
    Ternyata valadoo pernah kerjasama dengan malesbanget.com.
    Padahal itu salah satu situs terkenal di Indonesia.

  9. Bacaannya menarik banget, udah lama gak baca2 artikel yang bahas startup. Dari sini aku jadi belajar bagaimana bisa membuat startup dan mempertahankannya. Harus bisa petik dari pengalaman Konsula Dan Valadoo nih

  10. Kak Inezzz.. aku padamulah. Selalu suka baca tulisan kakak. Menjelaskan hal teknis dengan lugas dan berfaedah banget. Saya yang kudut banget tentang IT tidak berkerut kening untuk memahami istilah IT jadinya. Apalagi ada sisi Human interestnya seperti kegagalan beberapa star up. Pas banget judulnya : apa yang saya pelajari dari ….. many thanks kak inez

  11. Event yang keren..dikupas habis berarti ya..bisa jadi pembelajaran bagi yang berencana mendirikan start up nih. Baru tahu juga kenapa beberapa start up akhirnya gulung tikar. Banyak faktor yang bisa menyebabkan.

  12. Ternyata, banyak start up juga yah yang gagal. Tapi jadi bahan pembelajaran dan pertimbangan untuk bisnis start up ini. Pemilihan target yang tepat belum tentu menjamin keberhasilan start up

  13. Sumpah ini menarik banget ka inez, banyak pelajaran yang saya serap.
    Menjalankan bisnis tanpa pemikiran matang hasilnya menjadi gagal total.

  14. Wah bahasan yang jarang ada nih.. emang bikin startup tuh nggak mudah.. kadang idenya keliataan wow.. eksekusinya kurang. Tapi sekarang2 ini sering denger kalo kerja di startup apalagi yang udah subtle tuh kece banget kedengerannya.. hehehe..

  15. Ka Inez, Ka Inez….

    Baik bersua langsung ataupun baca tulisannya sama ana nih, sama sama selalu ngasih pelajaran kalau di dekatmu. Salah satu personil KUBBU yang paling banyak aku ambil ilmunya. Kamu pengalamannya banyak banget ishh. hihi

    Anyway, penting banget yaa kalau buka start up pakai modul design thinking, bukan bussiness thinking lagi. Nice kakakuh. Makin love nih akuh 😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.