Cerita Mengenai Anak Berkebutuhan Khusus

Dulu saya sering sekali mendengar kata autisme. Ayah saya merupakan anak ke-11 dari 12 bersaudara. Salah satu kakak beliau merupakan anak berkebutuhan khusus yaitu autisme. Ada juga kakaknya yang memiliki down syndrome.

Ternyata salah satu keponakan saya juga memiliki autisme. Saya tidak tahu pasti autisme yang seperti apa yang dia alami. Sepupu saya bercerita, ketika istrinya hamil 7 bulan dia terkena serangan stroke. Istrinya sempat tidak sadarkan diri. Anaknya terpaksa harus dilahirkan dengan cara caesar. Puji Tuhan ibu dan anak selamat.

Perjuangan tidak sampai di situ. Anak ini didiagnosa oleh dokter merupakan ABK ( anak berkebutuhan khusus )  Sepupu saya cukup shock karena belum memiliki pengalaman merawat anak berkebutuhan khusus. Beliau banyak belajar dan bertukar pikiran dengan dokter, psikolog, dan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

Perjalanan yang dilalui menjadi orang tua yang berkebutuhan khusus tidaklah mudah. Keponakan saya ini masih seperti anak kecil yang berlari-larian dan teriak-teriak padahal fisiknya sudah dewasa. Saya bertanya apakah keponakan saya ini bisa sekolah? Namun sayangnya keponakan saya bukan merupakan anak autis yang bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Saat itu sepupu saya lebih mengarahkan anaknya untuk mencari bakatnya di bidang musik.

Beberapa pelatihan sudah dicoba, mulai dari piano, gitar, dan drum. Yang menurut saya cukup menarik untuk keponakan saya ini adalah drum. Saya dikirimkan beberapa kali video keponakan saya ini bermain drum dan mengikuti iringan musik. Anak ini dapat memukul drum dengan cukup presisi dan tampil percaya diri.

Ada cerita lucu tentang keponakan saya ini. Jika kita menjanjikan dia sesuatu, misalnya saja McD, maka dia akan mengingatnya. Dia akan berkeliling rumah seolah-olah mengingatkan orang tuanya untuk membelikan makanan yang dijanjikannya. Dia akan berhenti gangguin papa mamanya kalau sudah dipenuhi. Hehehe. Lucu banget.

Terkadang saya berpikir, bagaimana ke depannya? Jika orang tua anak ini sudah tidak ada. Siapakah yang akan merawatnya? Apakah dia bisa bertahan hidup mengingat keterbatasannya. Sepupu saya pun sudah memperhitungkannya. Salah satu sharing dari komunitas orang tua yang memiliki autis, anak-anak mereka diarahkan untuk bermusik, sehingga ke depannya bisa mencari nafkah menjadi pemain band.

Saya sempat beberapa kali lihat di mall ada lagu dibawakan oleh band yang personelnya semua autis. Jika dipoles dan diberikan pelatihan yang tepat, anak-anak ini dapat berkarya seperti anak lainnya. Keren pokoknya.

Ada lagi pengalaman lain yang dimiliki oleh teman saya. Anaknya ini sudah beranjak remaja. Perbedaannya anak ini dengan keponakan saya adalah anak ini dapat bersekolah dan mengikuti pelajaran sedangkan keponakan saya tidak. Saya mendapatkan berbagai insight seputar autisme dari teman saya ini. Untuk mengurangi tantrum ada beberapa makanan yang harus dihilangkan dari menunya. Oh ya anaknya ini sekolah di sekolah umum loh. Jadi teman-temannya tahu kalau dia merupakan anak berkebutuhan khusus.

Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan orang tua yang kuat dan tangguh bagi saya. Tidak mudah untuk merawat anak berkebutuhan khusus. Orang tua harus terus-menerus belajar dari berbagai sumber untuk merawat anak berkebutuhan khusus. Biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit untuk mengikuti berbagai sesi konseling dan terapi. Untuk orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tetap semangat ya. Jangan putus asa. Anak adalah titipan Tuhan. Pasti ada rencana Tuhan dalam hidup anak tersebut. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Yakinlah Tuhan akan memberikan jalan.

Untuk teman-teman yang suka baca Novel remaja bisa mampir nih ke blog temenku.

 

One comment

  1. Semoga para orang tua ABK selalu dilimpahkan kekuatan, ya. Moga keponakanmu bisa mandiri dan berprestasi nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.