Dikerjain Monyet Uluwatu

Kali ini tema blogging dari KUBBU adalah tentang perjalanan dan petualangan. Pikiranku melayang kembali ke 10 tahun silam saatku pergi ke Bali.

Saat pergi ke Bali, aku ketinggalan pesawat sehingga harus membeli tiket pesawat susulan keesokan harinya. Kenapa bisa ketinggalan? Ada revisi skripsi yang harus aku kumpulkan dan jadwalnya berbenturan dengan keberangkatan ke Bali. Ini adalah liburan keluarga beserta karyawan dari tempat perusahaan papaku bekerja. Yang tadinya pergi diniatkan bertiga, kini aku harus pergi sendirian. Aku belum pernah ke Bali saat itu.

Liburan kami sudah dijadwalkan menggunakan tour guide, jadi tiap spot berpergian sudah direncanakan. Aku yang baru sampai dari Jakarta langsung bergegas ke hotel untuk menyusul kedua orangtuaku yang ada di Uluwatu. Di Uluwatu ada tempat sembahyang bagi umat agama Hindu. Uniknya di Uluwatu ini yang menjadi ciri khas adalah banyak sekali monyetnya.

Monyet-monyet berlarian nampaknya sudah biasa dengan turis di sana. Kami dihimbau untuk menjaga barang bawaan karena monyet bisa mengambil barang-barang berharga. Aku duduk di batu karena lelah sudah berjalan mengelilingi Uluwatu. Tiba-tiba dari arah samping belakang ada monyet menyabet kacamataku. Aku spontan kaget karena mataku minus dan kesulitan melihat jarak jauh.

Ada monyet pintar yang mengambil kacamataku. Mau lari mengejarnya tapi monyet ini lebih lincah. Larinya sangat kencang. Monyetnya sesekali mendekat seolah-olah mengajak negosiasi. Tiba-tiba ada ibu-ibu warga lokal yang nampaknya sudah biasa dengan kondisi tersebut, dia mulai mengajak negosiasi monyet tersebut. Seperti memberikan kode-kode, monyet tersebut menerima negosiasi telor mentah yang ditawarkan oleh ibu tersebut. Akhirnya kacamataku dilempar oleh monyet itu, sayangnya kacamataku sudah digigit dan sedikit rusak bekas gigitan.

Nampaknya memang monyet di Uluwatu sudah terbiasa mencuri barang-barang milik turis. Pintarnya monyet ini dia bisa tahu barang apa yang menurut manusia berharga dan bisa ditukar dengan makanan. Setelah kacamataku kembali, ada turis bule yang kameranya diambil sama monyet lagi tidak jauh dari kejadian kacamataku diambil. Lagi-lagi si ibu sudah bersiap dan memberikan kode kepada monyet itu untuk negosiasi mengembalikan kamera. Sudah seperti bisnis manusia dan monyet nampaknya.

Di Bali selama liburan singkat aku bertemu dengan teman yang kukenal dari grup whatsapp. Sebut saja namanya Bunga. Bunga, usianya berbeda 1 tahun denganku. Dia merantau di Bali, Bunga berasal dari Lombok. Kami berkenalan dari grup Kaskus yang kebetulan temannya dia adalah temanku. Kami sering bercanda, sesekali Bunga membelaku ketika teman-teman cowok di grup menggodaku.

Bunga bekerja sebagai bartender di salah satu bar kecil di Bali. Aku berniat mengunjunginya, namun jadwal sudah cukup padat sampai malam. Kalau aku ijin ke bar sama orang tuaku pastinya nggak akan diijinkan, akhirnya aku kabur diam-diam sekitar jam 10.00 malam menuju bar tempat temanku bekerja menggunakan taksi.

Sesampai di bar, temanku menawarkan minum alkohol. Itu pertama kalinya aku bertemu dengan dia. Kami ngobrol di bar. Banyak bule berdatangan lalu lalang. “Ada minuman yang ga ada alkoholnya gak? Jus jeruk gitu?”tanyaku ke Bunga. Dia tertawa dan menyuruhku ke Seven Eleven bila mencari jus. Aku tidak mau ambil resiko mabuk tengah malam karena akan menyulitkanku sendiri pulang sendirian ke hotel. “Ya udah, bikinin yang paling dikit aja kadar alkoholnya,”jawabku.

Bunga menghidangkan Baileys, minuman ini rasanya mirip seperti susu dengan sedikit rasa pahit. Tiba-tiba tamu langganan Bunga datang. Sebut saja tamu langganan Bunga ini adalah Bob. Bule dari Australia. Usia paruh baya. Kepalanya botak dan memiliki badan sedikit gempal. Jenggotnya seperti baru dicukur beberapa hari lalu jadi terlihat agak kasar. Aku sedikit kaget dengan perkenalan dengan bule. Mungkin karena beda budaya, salam dari bule itu dengan cium pipi kanan dan kiri. Jadi bule ini cium pipiku kiri kanan. Tapi bule ini ngeselin banget, kebanyakan bercandanya. Minta cium pipi kiri kanan berkali-kali. Bunga cuma ketawa-ketawa aja lihat aku dikerjain sama bule ini.

Tidak sampai di situ saja. Saat sedang duduk ngobrol, bule ini iseng nyamperin terus ngumpetin sendal jepitku. Sesekali bulenya bercanda dan akhirnya sendalku dibalikin sih. Nggak terasa jam udah menunjukkan pk 00.00, aku harus balik segera ke hotel karena besok pagi-pagi harus ikut tour dari pagi. Jaman itu, belum ada taksi online. Jadi kita harus menelepon kantor Bluebird untuk pesan taksi. Aku pun takut naik taksi lokal yang melintas, takut digetok harga mahal atau dirampok di tengah jalan. Saat menyebrang jalan untuk menunggu di titik jemput ketemu dengan gerombolan orang yang nampaknya sedang mabuk. Jalannya sempoyongan dan meracau di jalan. Lumayan deg-degan sih kalau sampai disamperin sama gerombolan ini. Aku cepat-cepat ke titik jemput di Seven Eleven menunggu taksi jemputan.

Akhirnya taksinya datang juga dan aku tiba di hotel. Kira-kira sampai hotel hampir pk 1.00, langsung mandi dan tidur. Saat ini Bunga sudah tidak di Bali. Dia sudah pindah ke Norwegia karena menikah dengan bule di sana. Saat itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bertemu Bunga. Pengen deh suatu saat nanti ke Bali lagi, pengennya sih ke beach club kayanya seru juga ya.

8 comments

  1. Monyet-monyet di uluwatu memang begitu. Makanya ketika berada di sana lebih baik mengamankan barang bawaan agar tidak ambil begitu saja. Yaa memang sering balik barangnya, tapi bikin khawatir juga kalau sampai rusak.

    Ketemu teman untuk pertama kalinya itu sangat menyenangkan. Meskipun udah sering ngobrol via sosmed, bakal lebih berkesan ketika bisa ngobrol secara langsung.

  2. Bahagia & Sukses selalu buat temannya, Bunga, Bali memang selalu punya cerita, entah disudut mana kita berada, untuk monyet-monyet yang Di Uluwatu memang sudah sedemikian darisananya, beberapa bulan lalu dari sana juga monyetnya masih berkelakuan sama.

  3. Sebenernya takut banget sama monyet tapi menyerah karena ada pertunjukan Kecak di sana, untung ga dikerjain monyet akutuh

  4. Hai kak Inez.. ini saya baru aja pulang dari Bali. Walaupun tadinya ndak mau ke uluwatu, karena kunjungan sebelumnya pernah di serang monyet yang gagal menarik kacamata saya. Maka, kunjungan yang sekarang, jadi kurang tenang. Sebentar-sebentar melirik kiri kanan agar jauh dari jangkauan monyet. Beberapa kali melihat dan mendengar jeritan kaget turis yang kacamata, HP atau topinya diambil sang monyet. Yang miris, ketika turis ( sepertinya dari Thailand) diambil dompet kecil yang berisi HP, KTP, SIM dan kartu2 lainnya, yg masing-masing diambil oleh beberapa monyet. Saya dan beberapa turis lain berusaha membantu… namun dari pihak pengelola lambat respond, sehingga sang monyet ‘berhasil’ merusak beberapa kartu….

  5. Tapi seru aja gak siih kak? Kalo ada monyet yang ganggu jadi nambah kesan berkunjung ke uluwatu. wkwkwk

    Aku juga gitu soalnya, tapi ga di bali. Waktu lagi ke pulau merak kecil, malah dikejar sama monyetnya gegara aku yang bawa makanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.