Pengalaman saya pertama kali bertemu dengan ODGJ ( Orang Dengan Gangguan Jiwa ) ketika saya masih kecil. Mungkin saat itu saya masih kelas 1 SD. ODGJ tersebut berpakaian lusuh dan berambut urakan seperti tidak pernah dirawat. Ketika saya jalan melewatinya, hati ini pasti dag dig dug. Takut sekali dikejar oleh ODGJ. Apalagi pengasuh saya suka menakuti kalau nanti saya mendekat akan dikejar. Jadi setiap saya jalan melewatinya, saya lari sekencang-kencangnya. Berharap ODGJ tersebut tidak mengejar.
ODGJ ini biasa berteduh di bangunan bekas warung. Kadang dia merokok, yang entah darimana dia dapatkan rokok itu. Saya juga sering kali melihat banyak warga sekitar memberikan makan. Hingga suatu ketika saya tidak pernah lagi melihat ODGJ ini. Saya mendoakan dia dirawat di tempat yang lebih baik.
Stigma Masyarakat Tentang ODGJ
Seperti yang saya ungkapkan di awal, pengasuh saya menakuti saya tentang ODGJ. Padahal ketika dipikir-pikir setelah saya dewasa ODGJ adalah orang-orang yang membutuhkan semangat dari orang sekitar, dukungan obat-obatan dan fasilitas kesehatan agar dapat berfungsi dengan baik.
Mencap ODGJ untuk ditakuti adalah salah. Mencap ODGJ adalah orang yang kerasukan setan juga salah. Seringkali stigma seperti ini masih ada di masyarakat. Sehingga seringkali di desa-desa kita menjumpai orang yang memiliki ODGJ dipasung di rumah, dikucilkan dari masyarakat, bahkan keluarga tidak menginginkan sehingga menelantarkannya.
Griya Schizofren, Memanusiakan ODGJ
Saya sangat antusias ketika melihat salah satu pemenang Satu Indonesia Awards dari Astra peduli dengan ODGJ. Triana Rahmawati merupakan penggagas Griya Schizofren. Sebuah komunitas anak muda yang peduli dengan masalah kejiwaan. Komunitas ini merupakan gerakan kemanusiaan yang berprinsip persahabatan. Griya Schizofren memanusiakan ODGJ khususnya yang mengalami skizofrenia.
Berawal dari program kreativitas mahasiswa pada tahun 2013, kegiatan sosial ini berlanjut hingga sekarang. Komunitas Griya Schizofren bekerja sama dengan Griya PMI Solo yang menampung ODGJ. Terapi yang diberikan merupakan terapi sosial dengan memberikan kasih sayang, kegiatan kesenian seperti menyanyi dan menggambar.
Sociopreneur, Solusi Pendanaan Kegiatan Sosial
Melakukan kegiatan sosial seperti ini tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kak Triana ini tidak ingin bergantung terus kepada donatur. Untuk mendukung kegiatan sosial dari Griya Schizofren beliau menggagas sebuah ide untuk membuat bisnis yang berasal dari hasil karya ODGJ yang melakukan terapi dengan kesenian. Hasil karya dari ODGJ tersebut kemudian dijual melalui sosial media yang dicetak di atas tote bag dan barang-barang lainnya. Dana dari penjualan barang-barang tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan operasional komunitas Griya Schizofren.
Tidak sampai di situ, hal yang membuat saya terinspirasi dengan Kak Triana ini beliau mengontrak beberapa rumah untuk ditempati oleh mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial. Penerima beasiswa ini diberikan challenge untuk membuat project-project sosial lainnya. Misalnya saja ada salah satu penerima beasiswa yang membuat project mendongeng untuk anak-anak dan juga mendongeng untuk ODGJ.
Saya melihat semangat untuk menolong Kak Triana ini seperti sebatang lilin yang memberikan api untuk lilin-lilin yang lain. Awalnya cahayanya kecil, namun semakin lama semakin terang karena tidak terfokus kepada diri sendiri namun mengembangkan potensi orang lain sehingga kebaikan dan cinta kasih untuk sesama semakin menyebar. Sangat menginspirasi!
Mari Jadi Lilin Selanjutnya
Sebagai orang yang memiliki gangguan jiwa bipolar, saya sangat tersentuh dengan apa yang Kak Triana lakukan untuk teman-teman ODGJ lainnya. Saat ini, saya sudah memulai untuk membuat blog seputar isu kesehatan mental. Banyak orang di luar sana yang belum teredukasi secara baik mengenai kesehatan mental. Masih banyak orang yang mengaitkan ODGJ dengan kurang iman. Padahal justru orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental butuh dukungan moril dan pengobatan secara medis.
Semoga dengan semakin banyaknya orang yang teredukasi tentang kesehatan mental, semakin berkurang juga jumlah kasus bunuh diri yang ada di Indonesia. Stigma negatif itu harus dihapus. Orang pergi ke psikiater bukan berarti dia lemah. Mereka butuh pertolongan. Sama seperti sakit fisik, jiwa ini juga membutuhkan bantuan medis ketika sakit.
Saya berharap selalu ada lilin-lilin baru yang memiliki semangat yang sama untuk menolong sesama di Indonesia ini, terutama tentang kesehatan mental. Isu yang jarang orang bahas karena dianggap sebagai aib. Untuk teman-teman yang memiliki sakit mental, ingatlah selalu ada jalan untuk setiap permasalahan dan sakit yang kita miliki. Jika merasa memerlukan bantuan segera hubungi psikolog dan psikiater terdekat. Semua dapat dilalui. Kita dapat bangkit bersama-sama. Salam sehat jiwa.
