Tidak seorang pun akan menyangka bahwa dunia akan dilanda pandemi covid. Ya, virus yang tidak nampak, namun bisa memporak-porandakan ekonomi suatu negara. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan teman baru. Beliau adalah orang yang expert di bidangnya. Puluhan tahun beliau bekerja di industri food and beverages. Saat covid, restoran tempat dia bekerja terkena dampak covid. Mall harus tutup dan hanya bisa berjualan untuk delivery order. Manajemen menerapkan kebijakan untuk memangkas gaji pegawai hingga hanya tersisa 30% saja. Tidak ada pilihan.
Saya tahu begitu berat hari-hari yang dihadapi beliau. Bagaimana dia harus menghidupi kedua anaknya dan seorang ibu. Suaminya telah tiada. Jujur saya sangat kagum akan kegigihan beliau. Di tengah situasi sulit seperti itu beliau tidak menyerah. Padahal begitu banyak karyawan yang mengundurkan diri karena merasa tidak cukup dengan gaji yang dipangkas.
Puji Tuhan, ibu ini memiliki dana darurat. Dana yang bisa membantunya untuk mencukupi pengeluaran. Prinsip beliau, gaji berapapun pada situasi sulit seperti itu harus diterima. Sisanya biar Tuhan yang mencukupkan. Hal itu terbukti, dengan tabungan dana darurat yang dimiliki, ibu ini bisa menghidupi anak-anaknya walau berada di situasi yang sulit dengan memanfaatkan dana darurat.
Berapakah Dana Darurat Yang Harus Kita Kumpulkan?
Saat covid seperti ini merupakan saat-saat yang tidak pasti. Orang bisa kapan saja dipecat dari pekerjaannya. Sumber pendapatan bisa saja hilang dengan begitu saja, namun kehidupan tetap harus berjalan. Ada makanan yang harus dibeli, tagihan-tagihan yang harus dibayar. Ketika kita tidak bekerja karena suatu hal, lantas harus bagaimana? Dana darurat adalah jawabannya.
Idealnya, bagi yang masih single kita memiliki dana darurat 3-6 bulan pengeluaran. Bagi yang sudah memiliki keluarga, setidaknya 6-12 bulan pengeluaran. Dana ini adalah dana yang sifatnya nggak boleh dikutak-katik. Dipakai hanya pada situasi darurat. Bersifat likuid dan nggak boleh disimpan di instrumen yang high risk.
Bagaimana Cara Mengumpulkan Dana Darurat?
Rasanya besar sekali ya kalau tiba-tiba harus memiliki dana darurat segitu banyaknya. Makanya nih, kalau mau ngumpulin dana darurat bisa menggunakan perencanaan. Kita bisa menyisihkan dana darurat dari uang bonus pekerjaan, uang dari kerja sampingan, uang yang disisihkan dari gaji bulanan, uang THR dan lain-lain. Intinya semakin cepat terkumpul semakin baik. Bila dana darurat sudah terkumpul, kita bisa lebih fokus untuk melakukan investasi.
Mengumpulkan dana darurat bisa menggunakan target. Misalkan, pengeluaran bulanan per bulan 3 juta. Dana darurat yang ingin dikumpulkan 18 juta. Kita bisa membuat rencana untuk menyisihkan pendapatan bulanan sebesar 1,5 juta selama 12 bulan hingga terkumpul 18 juta.
Dimanakah Sebaiknya Meletakan Dana Darurat?
Dana darurat merupakan dana yang bisa kita ambil sewaktu-waktu ketika di situasi darurat. Jadi sebaiknya di instrumen yang likuid. Contoh instrumen yang likuid adalah tabungan dan emas. Kita bisa segera mencairkan dana dari kedua instrumen ini. Instrumen lainnya yang bersifat likuid adalah reksadana pasar uang. Resiko reksadana pasar uang cederung rendah, return stabil, pencairan juga terbilang cepat hanya beberapa hari saja.
Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Menyiapkan Dana Darurat?
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui berapakah pengeluaran rutin bulanan kita secara garis besar. Untuk bisa melacaknya kita harus mencatat pengeluaran sehari-hari dan mengelompokannya. Setelah sudah bisa mengelompokannya maka kita bisa memperkirakan berapakah pengeluaran bulanan dan mulai membuat perencanaan dana darurat.
Jika dana darurat sudah terkumpul bisa deh mulai investasi. Belajar tips investasi dulu ya sebelum memulai investasi agar kita tidak salah dalam berinvestasi. Ada beberapa artikel seputar investasi di blog temanku www.shyntako.com yang bisa kamu baca-baca. Selamat mengumpulkan dana darurat ya! Semoga lekas terkumpul!
