Youtuber Pamer Kekayaan

Beberapa waktu yang lalu saya melihat berita mengenai salah satu dosen UI yang menyinggung Atta Halilintar karena dinilai kontennya itu banyak yang pamer kekayaan. Lah, kemana aja pak?

Udah dari dulu si Atta kontennya ya begitu. Adeknya dulu pernah viral karena robek uang. Walaupun subscribernya banyak, sampai detik ini saya ga ada keinginan buat nonton channel nya si Atta.

Lalu mulai deh, ada gerakan netizen yang menggaungkan tagline “iri bilang bos” karena Atta yang disentil ini. Menurut saya sih wajar-wajar aja ya, mungkin penikmat kontennya si Atta emang doyan konten yang pamer-pamer gitu.

Konten pamer lumayan banyak dapat views di youtube. Misalnya aja konten nanya harga outfit yang sempat viral beberapa waktu yang lalu. Tau kan anak UPH outfit nya mahal-mahal. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Duit jajan gak usah ditanya deh, ngelebihin gaji UMR. Mungkin bisa selevel gaji manager kali ya? wong naeknya aja mobil mewah. Saya aja gemeteran denger outfit dia yang ratusan juta ke kampus.

Oke, lalu belakangan di tiktok lagi viral sisca kohl yang punya tagline “masak di kamar cek”. Ini juga nggak kalah bikin orang usap-usap dada. Beli makanan mahal hanya untuk konten tiktok. Masak di gerobak sambil bawa uang segepok yang mungkin puluhan sampe ratusan juta.

Pernah juga viral seleb pamer saldo dan bagi-bagi uang. Menurut Sosiolog Universitas Gajah Mada Sidiq Hari Madya dikutip dari Kompas.com fenomena ini merupakan upaya yang dilakukan segelintir orang untuk mempertahankan status sosialnya di hadapan orang lain. “Salah satu cara me-maintain status sosial di era media sosial sekarang ini adalah dengan konten yang secara simbolik menegaskan ulang siapa dirinya dan berada lapisan sosial mana,” ungkap Sidiq.

Kadang saya gak habis pikir sih, banyak konten bagus yang bisa dibuat tapi kenapa sih harus pamer kekayaan? gak ada ide konten lain apa yah. Banyak loh sebenernya ide untuk buat konten kalau emang mau sih.

Banyak konten kreator yang kreatif banget bikin konten yang gak melulu bahas soal pamer harta. Bener-bener mikirin soal konten mereka. Kuliner, komedi, cerita horor, review, banyak yang bisa dieksplor.

Saya setuju mengenai pendapat Ade Armando dimana nantinya konten-konten ini akan menciptakan kesenjangan dan kecemburuan sosial. Ya kan? Apa lagi kaya Sisca Kohl tuh, apa kaga ngeri ya pamer harta duit ratusan juta gitu, ga ngeri dirampok gitu?

Anak-anak muda yang punya arah fashion dan lifestyle seperti Atta tentunya memiliki standard yang tinggi, tapi bagaimana bila mereka nggak punya uang untuk beli? Apa bisa nanti terjadi tindak kejahatan agar memenuhi gaya hidup?

Semoga aja ke depannya tren konten pamer harta ini makin berkurang deh ya dan makin banyak konten yang lebih mendidik lainnya! Kalau pendapat kalian gimana nih tentang konten youtube yang pamer kekayaan? komen di bawah ya!

26 comments

  1. Kalo menurut gw pribadi, niat orang yang buat konten itu termasuk hal yg “gaib” sih, ga bisa tahu pasti apa yang dia maksud..
    Mau bener pamer apa mau memotivasi orang lain biar bisa banyak duit kayak mereka meskipun masih muda..
    Tapi jujur, gw lebih milih nonton konten yang lain dibanding konten tipe kayak gini misalnya kayak nonton konten Chandra Putra Negara, Arif Rahutomo, dll karena lebih clear ngejelasin step2 buat jadi pribadi yg punya value..
    Jadi bisa langsung dipraktekkin..

    Nice sharing!

  2. Tapi ini juga tergantung netizen indonesia. Konten-konten seperti ini malah laku dan banyak disukai oleh netizen. Seandainya jika netizen tidak peduli dengan konten seperti ini, makan konten seperti ini akan hilang dengan sendirinya.

    Konten pamer-pamer memang sangat laku di indonesia. Walaupum tidak mendidik. Jadi netizen indonesia juga mesti paham untuk menikmati konten yang berkualitas.

  3. Konten pamer selalu ada aja karena penikmatnya ada, jadi balik lagi ke penikmatnya juga sih. Aku pribadi sih memang nggak pernah tertarik nonton youtubenya Atta tapi kalau Sisca Kohl sering muncul di FYP jadi sering lihat, tapi yaudah sekedar lihat aja

  4. Aku pribadi gak setuju sih kak sama konten2 kayak gitu, selain gak ada faedahnya malah jadi bikin insecure orang2 yang ngeliat nya.. Karena dia ngebandingin diri dia sama artis yang dia tonton itu, apalagi kalo anak kecil yang ngeliat aduh jadi contoh yang gak baik buat mereka

  5. Nah iya sama kak inez, aku juga belum pernah sekali pun nonton channelnya atta. kalau tiktok aku bahkan ga pernah install, apa lagi setelah liat konten yang pamer harta check itu (yang banyak direshare di wag), rasanya jangankan buat nonton, denger ada orang ngomong bla bla bla check aja rasanya emosi, huh. Sabar… sabar…

  6. Yg Kak Inez sebutin di atas kok aku gak ada yang kenal, ya. Haha… Kalau Atta cuma tau dari infotainment. Gak pernah sekalipun terbersit buat nonton youtubenya juga. Wkwkwk

    Pamer kekayaan menurutku suatu hal yang gak etis, sih. Bisa jadi malah jadi Boomerang, dia bisa jadi korban perampokan yang taruhannya nyawa. Mendingan kontrn edukasi deh, biar tambah waras, bisa gila kalau nonton konten begituan. Haha

  7. Semua tergantung sih sebenernya. Tergantung pandangan tiap netizen yang liat video dari YouTubers itu.

  8. Kalo gen halilintar saya suka liat yutub nya tp kalo atta pribadi saya gak terlalu minat, suka asa lebay eh ko saya julid hahaha

  9. Aku menilai dari perspektif ibu yang punya dua anak remaja yang di keseharian pastinya nonton konten demikian. Memang konten pamer kekayaan digemari banyak kalangan usia tertentu. Menurutku yang perlu jadi tameng adalah orang tua.
    Jadi aku garis bawahi ke anakku, jika Atta misalnya memulai dari kerja keras sampai di titik ini. Meski harus hati-hati ngomongnya. Karena masih ada sisi positifnya yang bisa diambil, seperti Atta lewat jalur non akademis, fokus ke dunia digital dan bisnis di usia yang masih sangat muda dan sukses akhirnya. Jadi jangan cuma lihat pamer-pamernya aja,tapi apa yang diupayakan dulu untuk mencapai keberhasilannya.

  10. Miris banget sih ya, apalagi suscribenya jutaan. Bahkan ini bisa jadi toxic buat anak2 di daerah dengan kondisi perekonomian yang biasa saja. Mereka sempat bela2in isi saldo data hanya untuk nonton kayak ginian. Yang setengah mati orang tuanya untuk mencari duit dan gurunya yang berjuang mencontohkan gaya hidup sederhana.

  11. Dulu awal2 gen halilintar exist suka kepo sih mereka make a living nya gimana. Cara keluarga mereka mendidik anaknya buat jadi entrepreneur. Tapi pas udah giliran atta dan adek2nya bikin yutub aku mungkin pernah liat sekali dua kali. Karena penasaran jenis kontennya. Abis itu ya udah. Soalnya denger orang bilang ashiap aja aku emosi jujur. Haha.
    Konten kreator pamer kekayaan itu kayak pisau mata dua sih. Kadang jadi hiburan aja kalo misal mereka beli2 barang yang kita nggak tahu harganya semahal itu. Kalo negatifnya Bisa bikin kesenjangan juga.

  12. Biaya maintenance gengsi hidup memang tinggi, sampe pada gak jadi dirinya sendiri 😅
    Apakah dengan pamer kekayaan mereka merada bisa membeli derajat dan pandangan org lain terhadapanya. Bisa jadi.

  13. Kalau menurut aku sendiri sih, semuanya kembali pada niat dan tujuan pribadi masing-masing, baik dari si pembuat konten maupun penonton konten itu sendiri, perlu bijak memilih dan menyaring juga dewasa dalam menyikapi.
    Ada hal-hal yang menurutku perlu diperhatikan dan ditinjau kembali oleh pembuat dan penikmat konten.
    Niat dan tujuannya apa? Maunya apa? Kira-kira bisa memberikan manfaat, inspirasi dan menebar kebaikan kah atau tidak?

  14. Kalau aku pribadi biasa aja sih sama konten ini, sesekali malah halu kalau liat rumah bagus, furniture bagus, design rumah keren dan sebagainya. Nah kayaknya perasaan ini yg bikin konten ini jadi banyak peminatnya, sekadar memuaskan hasrat halusinasi…haahaa…paling gak ada gambaran kehidupan orang kaya itu gimana, jadi entar kalau beneran kaya gak kaget.

  15. Ade Armando diundang di podcast Om Deddy, terlihat bahwa argumen2nya kuat banget, dan dia terlihat matang ketika menyampaikannya. Menurut saya, cara orang menyampaikan gagasannya itu kadang lebih menarik dibanding gagasannya itu sendiri 🙂

  16. Sebenarnya tidak ada masalah, ini tergantung supply dan demand saja, mereka melakukan itu juga karena memang banyak yang nonton.

  17. Konten seperti ini menjamur sekali belakangan ini, karena didukung dengan peminatnya yang memang ada. Viewer konten2 seperti ini banyak ternyata dibandingkan dg konten yang mengedukasi.
    Konten pamer kekayaan, mendramatasi kemiskinan atau kesusahan, prank, dan yg sifatnya receh emang disukai sama warga +62 ini ternyata.
    Negeri yang aneh 😆

  18. Saya nyaris ndak sempat buka buka YouTube. Namun jika nanti ada lega waktu, mau juga liat berbagai konten youTube. Tertarik dengan tulisan kak inez, saya jadi teringet ulasan psikologi bahwa perilaku ‘pamer’ kekayaan di medsos bisa jadi untuk mendapat pengakuan sebagai bagian dari strata bergengsi secara social ekonomi, secara lebih luas. Atau suatu pertanda kurang empatinya ybs terhadap sekitar yang mungkin tingkat ekonominya di bawah dia. Atau bisa juga sebagai ‘ strategi’ agar kanal YouTube nya selalu menarik, karena tanggap menayangkan konten2 yang ‘sepertinya’ menghibur dan memenuhi impian penontonnya. Apapun itu, tergantung pilihan kita. Jika banyak yang minat, bisa jadi YouTuber akan semakin jor-joran ‘menggoreng’ konten pamer kekayaan tsb. Nah, tinggal bagaimana kita saja….

  19. Saya juga ga paham sebenarnya fenomena apa ini, namun menurut saya amat sangat disayangkan mereka yang bisa memberikan pengaruh justru memilih untuk memberikan pengaruh yang buruk hehe

  20. Clara termasuk penikmat konten pamer nieh… hihihi
    Soalnya penasaran sama barang yang dibilang branded tuh seharga segimana… hahaha
    Clara sendiri suka berterimakasih sama yang suka review” barang mahal, soalnya tanpa vlog itu Clara ga ngerti kalau ada barang atau fasilitas semahal dan semewah itu…
    Hehe…
    Cuma yah itu…
    Kalau dilihat anak” yang belum bisa berfikir dewasa, kadang suka maksa ke ortu buat beli barang tsb tanpa berfikir ortunya mampu atau nggak…
    Karena nggak dibelikan, kadang mereka suka kurang ajar gitu ke ortunya…
    Hmmm…

  21. Menurut ku gak bisa langsung judge jika si youtuber itu posting soal kekayaan pasti maksudnya pamer. Bisa jadi sebenarnya mereka ada maksud lain mungkin mau memotivasi penontonnya. Tapi heran juga sih sama penonton Indonesia, konten kayak gini justru laku. Ya youtuber yg bikin jd seneng2 aja bikin kontennya

  22. Konten-konten begini ternyata banyak digemari sama anak-anak. Sampe-sampe beberapa kali saya dengar dari anak-anak remaja di gereja saya, kalau mereka bercita-cita untuk jadi youtuber. Karena dianggap gampang dapat duit & mudah terkenal. Ini nih yang jadi beban, bagaimana bisa kasi pengertian ke mereka, bahwa perjuangan para konten kreator yang ga semudah itu. Tapi jujur aja, untuk isi konten pamer kekayaan, kok saya ga tertarik buat ngeliatnya yah. hahaha.. untung masi banyak konten kreator lain yang lebih menarik isinya.

  23. demandnya gedeeeee…..yang doyan tontonan seperti itu juga banyak, yang ga perlu pake mikir, ga pusing ngunyah konten, mensupport kehaluan yang hakiki wkwkwkwkk.

    satu sisi melihat para youtuber itu para pekerja keras, tapi sisi lain…konten mereka kadang ya begitulah….

    sebagai orang tua, gue sempet kuatir sih anak anak akan terpengaruh ketika dipapar tontonan seperti itu, tapi ternyata mereka juga punya pemikiran sendiri…”ga asik lagi bu nonton atta, isinya pamer doang, ga ada manfaatnya, cuma bikin latah dan iri doang”…..anak gue sempet berpendapat seperti itu….alhamdulillah mereka punya filter sendiri

  24. Dibanding konten pamer2 kaya gini, gue lebih suka nontonin konten kuliner ya karena bisa dapet rekomendasi tempat makan dan jajan yang masih bisa kebeli. Kalo konten pamer, duh duh ngelus dompet dan nelen ludah klo liat dia pamer apa yg gak gw miliki hahaha.

  25. Gimana donk kak inez. Warga +62 emang doyannya tontonan yg begini. Sedih sih, yang gak ada unsur mendidiknya gini malah laris manis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.