Reuni Keluarga Besar Van Java di Hotel Tjimahi

Jadi nih ceritanya beberapa waktu yang lalu keluarga besar dari pihak ayah mengadakan reuni. Kakek saya, memiliki marga Oey. Nama kakek saya Oey Ping An. Dari trah kakek ini, punya 12 anak. Saudara kakek, sepupu kakek pun banyak deh pokoknya. Jujur sebagai generasi muda di keluarga Oey, saya tidak terlalu kenal dengan saudara sepupu. Sekedar tahu saja beberapa orang. Maklum, ayah saya jarang mengenalkan saya ke keluarga besar. Momen pertemuan ini diharapkan kami dapat mengenal keluarga besar yang hadir di hotel Tjimahi. Oh ya, hotel ini pun milik saudara kami yang ada di Cimahi.

Perjalanan dimulai dengan drama, tadinya ayah saya tidak ingin ikut. Jadi hanya saya saja yang akan kesana. Tapi pada akhirnya ayah saya mau ikut, dan juga mengajak ibu dan kakak saya. Oke, akhirnya sekeluarga pergi dan… niatnya sih nggak nginep, tapi apa daya tiket kereta hari Sabtu sudah penuh. Tinggal tiket kereta hari Jumat yang masih available. Mau tidak mau kami menginap dan pergi di hari Jumat. Kereta kami berangkat jam 11 siang. Kami menginap di hotel Tjimahi, hotel ini tampak tua banget dari luar. Kalau boleh dibilang suasananya kaya tahun 60-70 an. Untuk harga hotelnya lumayan terjangkau. Sekitar 400-500ribuan. Tergantung berapa tempat tidur. Kami memutuskan menginap semalam di sana.

Sampai di sana, malamnya kami makan di restoran Ampera. Harganya lumayan mahal, tapi jengkolnya juara. Semur jengkolnya masih kebayang dan kalau ingat aduh, jadi lapar! Mohon maaf tidak ada dokumentasi, saya kalap kelaparan dan nggak sempat foto-foto. Untuk 1 orang makan di sana kurang lebih 50-70ribu.

Esok paginya acara dimulai dan perkenalan dengan anggota keluarga besar. Tamu undangan yang datang tidak lagi bermarga Oey, karena marga Oey hanya melekat pada anak lelaki, jadi kalau yang wanita menikah dengan marga lain, maka anaknya akan mengikuti marga suaminya. Keluarga kami yang datang kurang lebih 70 orang ++ banyak yang berhalangan hadir. Kalau dikumpulkan mungkin bisa 100 orang ++.

Ayah saya anak ke 11 dari 12 bersaudara. Kebetulan saya adalah cucu terakhir, namun gelar ini berubah ketika adik papa saya mengadopsi anak, maka gelar saya menjadi cucu kedua terakhir. hehehe. Banyak dari keluarga besar yang saya sama sekali tidak pernah tahu. Ada yang dari Wonosobo, Jakarta, Bandung, dan daerah lainnya.

Setelah perkenalan satu-satu keluarga besar, kami menikmati makan siang dan ngobrol dengan keluarga. Jujur agak kaku ketika mengobrol. Karena engkong Peng An anaknya banyak, jadi menyebabkan gap umur yang cukup besar bagi saya. Misalnya saja, saya punya keponakan yang lebih tua usianya daripada saya. Agak bingung juga kan kalau mau panggil saya tante? Keponakan saya yang paling muda, dari anaknya cici Meylin usianya 1 tahun di atas saya. Yang paling tua usianya 7 atau 8 tahun di atas saya. Sepupu yang segaris dengan saya usianya sudah 50-60an tahun. Akhirnya saya mau ga mau panggil mereka koko dan cici.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, karena kami sudah lintas marga, akhirnya pertemuan keluarga besar ini dinamakan Van Java. Karena kakek dulu tinggal di Jawa Tengah, dan keluarga kerabat banyak yang ada di Jawa. Terimakasih untuk tim yang menyiapkan acara dan mensukseskan acara ini. Meskipun saya tidak pernah bertemu dengan engkong Peng An dan mak Mugi, tapi saya yakin mereka senang di surga sana melihat keturunannya berkumpul bersama.

One comment

  1. keluarga dari pihak mamaku juga besar… ada 13 saudara, dan mama anak ke 12. jd ada 1 sepupuku yg umurnya sebaya mama… dan anaknya si sepupu ini seumurku, udh punya anak… jadiiiii anaknya dia adalah cucuku haahaahhaa… gitu deh yaaa kalo dari keluarga besar.. tapi seruuuu kalo kumpul jd rame… dari keluarga suami ga segede keluargaku tapi mereka juga suka kumpul lintas keluarga.. jd kalo disatuin ttp harus sewa gedung :D.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.