Memandang Toleransi Dari Kacamata Seorang Anak Umur 8 Tahun

Setiap kali mengingat bulan Mei, saya selalu teringat mengenai peristiwa Mei 98. Sebuah peristiwa yang menjadi sejarah kelam bangsa Indonesia. Saat itu usia saya masih 8 tahun. Kerusuhan besar terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk Jakarta.

Setelah peristiwa kelam itu, ada perubahan besar di dalam negara ini. Indonesia mengalami transformasi. Bagi seorang anak usia 8 tahun saat itu saya tidak tahu apa itu transformasi. Yang saya tahu saat itu saya tidak boleh keluar rumah oleh papa dan mama. Situasi begitu menegangkan. Saya masih ingat, sekolah saya yang ada di daerah Gajah Mada hampir dirubuhkan pagarnya oleh sekumpulan massa. Saya hanya bisa mengintip dari balik pagar melihat banyak sekali kerumunan orang di luar mendorong-dorong pagar.

Beberapa hari setelah kejadian itu sekolah kami diliburkan. Ketika masuk banyak teman-teman yang bercerita mengenai kerusuhan yang mereka alami. Ada teman yang bercerita toko milik orang tuanya dijarah, ada yang bercerita mereka menginap di sekolah karena tidak bisa pulang. Yang menyedihkan, ada teman yang akhirnya pindah ke Singapura sambil menunggu situasi kondusif.

Setelah peristiwa itu, keadaan tidak lagi sama. Ya, ketika saya bermain dengan teman-teman di rumah banyak sekali orang mulai memanggil saya dengan sebutan cina dan mempermasalahkan agama saya yang Kristen. Pikiran saya sebagai seorang anak berumur 8 tahun masih belum bisa mengerti kenapa kita harus membeda-bedakan orang berdasarkan ras dan agama. Yang saya tahu saat itu saya tinggal di Indonesia, berbahasa Indonesia, dan mencintai Indonesia. Saya pun tidak bisa memilih saya akan dilahirkan dengan orang tua yang keturunan apa. Saat itu saya kesal. Tapi namanya juga anak kecil, habis kesal ya main lagi.

Banyak teman-teman saat saya kecil yang marah dan kesal karena peristiwa Mei 98 itu. Namun ayah saya selalu mengingatkan bahwa tidak semua orang jahat seperti itu. Kalau ada yang menghina saya dengan menyebut saya cina, ayah saya menyarankan saya untuk tidak terlalu memikirkannya. Setiap orang itu berbeda, tidak bisa sama semua. Namun perbedaan yang membuatnya menjadi menarik dan penuh warna.

Bukan Salah Anak

Seiring berjalannya waktu, saya banyak belajar. Kesalahan bukan ada pada anak-anak itu. Kesalahan ada pada lingkungan dan orang tua mereka. Sudah seharusnya kedua orang tua mereka mengajarkan apa arti keberagaman. Beruntungnya saya memiliki orang tua yang memiliki pikiran terbuka dan mau mengajarkan hal positif mengenai keberagaman kepada anaknya. Banyak orang tua di luar sana yang masih berpikiran sempit.

Bangku Kuliah, Teman Yang Beragam

Selama 14 tahun saya bersekolah di sekolah kristen dan mayoritas beragama Kristen atau Budha. Lebih dari 90% siswanya adalah keturunan Tionghoa. Namun ketika kuliah saya memutuskan kuliah di Universitas yang tidak dipilih oleh teman-teman saya. Di sini lah saya bertemu dengan banyak teman-teman baru. Teman yang berbeda agama maupun suku, namun kami tetap berteman.

Di bangku kuliah inilah saya belajar apa itu toleransi. Dimana ketika seluruh teman saya berpuasa, saya tidak puasa. Dimana ketika mereka buka bersama, saya selalu diundang. Bahkan ada kalanya saya bersilaturahmi kepada keluarga dari teman-teman saya. Ada pengalaman lucu, papi saya kaget ketika ada teman saya yang bertemu langsung memberi salam dengan cium tangan. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Komunitas Yang Mengajarkan Toleransi Kepada Anak

Bayangkan, bila sejak kecil kita diajarkan toleransi. Saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik ke depannya. Hal ini juga yang menggerakkan komunitas Sabang Merauke. Komunitas Sabang Merauke merupakan singkatan dari Komunitas Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. Sabang Merauke memiliki program pertukaran pelajar. Anak-anak yang ada dari seluruh kota Indonesia yang terpilih akan tinggal di rumah famili ( orang tua yang menyediakan tempat tinggal ). Baik adik ataupun keluarga angkat yang tinggal di rumah akan berbeda ras maupun agama.

Saya merasa program ini brilian. Bagaimana tidak, sikap toleransi lebih efektif bila kita dilibatkan sebagai pelaku, bukan hanya diberikan teori belaka. Adik-adik ini selama 3 minggu akan tinggal di rumah keluarga angkat dan menjalani berbagai kegiatan menarik seputar keberagaman budaya dan agama yang ada di Indonesia. Kegiatannya antara lain :

  • mengenal musik, lagu, dan tarian khas Nusantara
  • mempelajari keberagaman agama dengan mengunjungi rumah ibadah
  • menghargai sejarah dan perjuangan pahlawan Indonesia dengan mengunjungi museum
  • memahami peran teknologi dalam keseharian lewat kunjungan ke pabrik/perusahaan
  • memupuk semangat kepemimpinan lewat diskusi dan tatap muka dengan tokoh pemimpin
  • merangkai cita-cita dengan berkunjung ke universitas terkemuka

Karena toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan. Adik-adik ini diharapkan pulang ke kampung halamannya dan menyebarkan sikap toleransi kepada orang di sekitarnya. Indonesia ada karena adanya keberagaman. Indonesia ada karena adanya sikap toleransi.

Semoga sharing saya mengenai toleransi ini, bisa berkontribusi memberikan konten yang positif. Terimakasih saya ucapkan untuk Kominfo, Kemenko PolHuKam dan Infohankam yang memberikan saya kesempatan berbagi cerita di acara #kontenkreatifhankam #workshopkominfo Semoga tulisan ini menginspirasi teman-teman semua. Rawat NKRI kita, toleransi antar umat beragama dan masyarakat mempersatukan rakyat Indonesia. NKRI harga mati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.