Gangguan Mental Bukan Masalah Yang Sepele

Gangguan mental di Indonesia masih merupakan hal yang tabu dibicarakan. Termasuk di keluarga saya. Awalnya keluarga masih berpikiran bahwa obat yang diresepkan oleh psikiater adalah obat yang menyebabkan ketergantungan. Menurut banyak orang, termasuk ayah saya stress, depresi, dan segala jenis gangguan mental lainnya bisa diselesaikan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saya tidak bisa bilang itu salah, namun bantuan secara medis dengan pemberian obat membantu pemulihan lebih cepat.

Gangguan Mental Anxiety Disorder

Saya pun memiliki gangguan mental. Dokter pribadi saya mendiagnosis bahwa saya memiliki kecemasan yang berlebih. Kalau istilah kedokterannya disebut anxiety disorder. Perasaan yang tidak nyaman, yang membuat jantung berdebar-debar, sesak nafas atau nafas pendek hingga merasa ingin pingsan atau mati. Saya merasakan anxiety ini saat saya dalam pengobatan infeksi bakteri tahun 2014. Saat itu sistem imun saya turun drastis yang menyebabkan saya mengalami rhinitis. Buat kamu yang belum pernah mendengar rhinitis, itu seperti pilek jadi hidungnya mampet. Namun mampetnya ini hampir sepanjang waktu.

Kebayang kan mampetnya terpicu ketika kita pergi ke luar ruangan yang pasti ada debu, atau mencium wangi-wangian, kena kapuk. Saat itu saya memiliki kecemasan untuk beraktivitas. Jujur sangat menyiksa bila hidung mampet, sesak nafas, dan mata berair seperti menangis karena alergi. Saya merasa depresi dengan situasi seperti itu. Merasa tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Masa jalan kaki ke warung mata berurai air mata karena alergi?

Skenario “What If”

Saya diberikan obat penenang, kalau ga salah si alprazolam. Dengan dosis minimum agar saya lebih rileks. Obatnya memang membantu membuat saya ngantuk dan rileks. Pernah suatu ketika, ketika otaknya lagi ngaco, tiba-tiba kepikiran hal yang seharusnya ga perlu dipikirin. Skenario “what if” membuat anxiety saya menjadi-jadi. Saya sempat kepikiran bagaimana jika ayah saya meninggal. Bagaimana jika kedua orang tua saya tidak ada. Lalu mendadak skenario itu terngiang-ngiang di kepala dan membuat saya menjadi panik. Tekanan darah naik, jantung berdebar-debar dan sesak nafas.

Berhenti Mencari Informasi Penyakit di Website

Hal bodoh yang memicu cemas berlebih adalah browsing penyakit di google. Kecemasan berlebih bisa menjalar kemana-mana ketika kita mengetahui penyakit ini itu dari google. Padahal belum tentu itu penyakit yang kita alami. Hal bodoh ini saya lakukan dan sukses membuat tekanan darah saya di angka 140-160 setiap harinya.

Saya sendirian di kamar saat itu. Kedua orang tua saya sedang tidak ada di tempat. Yang bisa saya lakukan hanya menangis. Berharap kecemasan ini segera berakhir. Cara menghilangkannya ya dengan mengalihkan fokus pikiran kita ke hal yang lain. Saat itu saya fokus mendengarkan lagu rohani dan menyanyi agar saya tidak fokus ke pikiran yang negatif. Saya jenuh. Selama hampir 2 bulan tidak berinteraksi dengan teman-teman. Saya hanya di kamar dan meminum obat sekitar 25-27 butir setiap harinya untuk proses penyembuhan dari infeksi bakteri.

Singkat cerita gangguan mental saya berangsur membaik. Saya bisa mulai mengelola stress dengan baik. Namun suatu ketika ada masalah yang memicu gangguan mental ini kembali datang. Kecemasan berlebihan saya kembali muncul sehingga saya membutuhkan bantuan tenaga medis untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Gangguan tidur yang menyebabkan saya sulit tidur, pikiran yang berlari-lari, cemas, semuanya campur aduk menjadi satu. Saya berobat ke RS Carolus untuk memperbaiki gangguan tidur. Saya masuk ke ruangan dokter psikiater. Memilih dokter psikiater merupakan hal yang gampang-gampang susah. Semua tergantung dari tingkat kecocokan antara kita dan psikiaternya. Apakah kita mau jujur dan terbuka mengenai keluhan yang kita alami? Ngobrol dengan psikiater sama saja dengan ngobrol dengan teman, kita curhat saja. Paling ditanya-tanya saja apa yang kamu rasakan. Apa yang kamu lakukan. Apa reaksi kamu. Lalu dia memetakan permasalahan kita. Kadang memberikan saran apa yang harus kita lakukan di tengah konflik yang terjadi.

Pengalaman Ke Psikiater

Untuk pertama kali curhat sekitar 1 jam, namun untuk konseling berikutnya sekitar 30 menit. Obat yang diberikan pun dimulai dengan dosis yang paling rendah sambil diobservasi. Psikiater saya wanita. Jiwanya keibuan dan saya nyaman berbagi kisah dengan beliau. Obat yang saya konsumsi ini bukanlah obat yang dikonsumsi seminggu dua minggu. Obat ini harus dikonsumsi tahunan. Tergantung bagaimana respon diri saya.

Saya berkali-kali bertanya kepada dokter. Apakah obat ini menyebabkan ketergantungan? Jawabannya tidak. Obat yang diberikan walaupun golongan benzodiazepine apabila diberikan dengan dosis yang tepat dan waktu yang sesuai saran dokter maka tidak menyebabkan ketergantungan. Dokter paham kapan harus menaikan dosis, menurunkan dosis, atau menghentikan atau mengganti obat. Beliau meyakinkan saya bahwa obat yang dia berikan tidak menyebabkan ketergantungan. Justru yang membuat ketergantungan adalah obat yang dibeli bebas secara ilegal dan diminum dengan dosis yang berlebihan dan jangka waktu yang lama. Saat ini saya masih minum obat untuk maintain. Efek obatnya? Kecemasan saya sudah tidak muncul lagi dalam jangka waktu yang lama kecuali ada special case yang memicu.

Sulli Bintang Kpop Yang Bunuh Diri Karena Depresi

Hari ini dunia Kpop dihebohkan dengan kematian personil girl band bernama Sulli. Penyebab kematian adalah bunuh diri. Umurnya masih 25 tahun. Cantik, putih, tubuh semampai, memiliki karir yang bagus, uang yang banyak. Banyak jutaan wanita ingin seperti Sulli. Namun mengapa Sulli memilih untuk mengakhiri hidupnya? Jawabannya hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Dunia Kpop itu keras. Saya akui itu. Untuk menjadi bintang ada harga yang harus dibayar. Masa muda harus dikorbankan untuk fokus di dunia keartisan. Belum lagi haters dan fans. Jadwal yang padat. Privasi yang terganggu karena menjadi artis. Kontrak tidak boleh menikah selama masih di bawah agency. Gosip-gosip. Mikirin jari-jari netizen yang kejam saja kadang nggak kebayang tuh suka geleng-geleng. Udah kaya manusia paling sempurna saja.

Siapapun Bisa Terkena Gangguan Mental

Balik lagi ke topik gangguan mental. Siapapun kamu, orang biasa, artis, komedian, politisi, bahkan evangelis gereja pun bisa terkena gangguan mental. Namun gangguan mental ini seringkali salah kaprah disebut gila ( bahasa medisnya skizofrenia ). Padahal gangguan mental ini ada banyak banget. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang memiliki gangguan mental malas berobat ke dokter spesialis kejiwaan karena takut dicap gila atau merasa dirinya tidak gila.

Bila ada temanmu, atau mungkin diri kamu sendiri memiliki keinginan bunuh diri, tidak memiliki arah dan tujuan hidup. Tidak memiliki semangat hidup, mengurung diri, cemas berlebihan, sebaiknya konsultasi ke psikiater. Dengan mendaftarkan diri ke faskes dan meminta rujukan RS dengan BPJS kita bisa mendapatkan pengobatan untuk gangguan mental. Semua dibayar oleh BPJS. Gratis.

Jangan menghakimi bila ada teman atau keluargamu curhat seputar masalah gangguan mentalnya. Dengarkan, berikan dukungan. Jangan menganggap sepele masalah gangguan mental. Berikan saran untuk mengunjungi tenaga medis profesional seperti psikolog ataupun psikiater. Jangan sampai ada kejadian bunuh diri hanya karena kamu tidak peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.